Minggu, 02 Februari 2014

Ilmu yang Bermanfaat

Alangkah mulianya seorang yang mengajar dengan niat tulus untuk berbagi ilmu kepada para murid-muridnya. Kita selalu mendengar kata-kata yang heroik tentang guru, bahwa mereka adalah pahlawan. Dengan menjadi guru berarti kita akan mendapatkan amal jariyah—amal pahala dalam agama Islam yang akan mengalir terus walaupun orang tersebut telah mati. Saya pun selalu mengafirmasi diri sendiri bahwa profesi guru adalah profesi yang mulia, kita bisa berbagi ilmu, bisa mencerdasakan dan yang paling penting katanya adalah keuntungannya dobel: dunia dan akhirat.

Di suatu pengajian yang saya hadiri, seorang Ustad saat itu sedang membahas dzikir pagi-petang. Salah satu dzikir yang biasa dibacakan mempunyai arti yang seperti ini: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal perbuatan yang diterima (di sisiMu). Beliau mengatakan bahwa Rosul sering berdoa untuk diberikan ilmu yang bermanfaat ini. Ustad tersebut kemudian bertanya kepada kami para jamaahnya “apa itu ilmu yang bermanfaat?.” Tanpa menunggu jawaban dari kami karena memang pertanyaan tersebut adalah pertanyaan retoris, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang semakin mendekatkan diri kita kepada Rabbnya, semakin membuat kita mengenal Tuhan dan agamaNYa. Jadi ketika ada suatu majelis ilmu, walaupun majelis ilmu agama sekalipun, tetapi tidak semakin mendekatkan para murid atau santrinya kepada Allah tapi justru membuatnya semakin menjauh, maka ilmu tersebut bukanlah ilmu yang bermanfaat dan justru patut dicurigai kesahihannya.

Lantas apa saya ini? Apa yang selama ini saya lakukan? Apa yang selama ini saya pelajari? Bermanfaatkah ilmu yang telah saya pelajari? Bermanfaaatkah ilmu yang telah saya ajarkan? Adakah ilmu saya telah membuat murid saya lebih dekat kepadaNya? Adakah ilmu yang saya pelajari membuat saya lebih dekat kepadaNya? Pertanyaan-pertanyaan ini langsung mencuat di kepala saya.

Kemudian saya sepenuhnya sadar bahwa tidak ada jawaban yang lebih baik terhadap pertanyaan mengapa banyak orang pintar tetapi keburukan-keburukan malah tumbuh subur selain jawaban ini: ilmu yang kita ajarkan sebagian besar tidak membuat para penuntut ilmu mengenal Allah, mengenal Tuhan semesta alam, mengenal penciptaNya.
Saya orang yang begitu kagum dengan para penuntut ilmu, para guru yang kaya akan karya dan prestasi. Membaca artikel-artikel penelitian membuat saya sadar bahwa betapa giatnya si akademisi ini, betapa tangguhnya, betapa cerdasnya dan betapa beruntungnya ia bisa memberi kebermanfaatan kepada orang lain. Membacanya membuat saya menyadari betapa waktu mereka sangat produktif, usia mereka tidak dihabiskan dalam kesia-siaan dan idenya berkontribusi bagi masyarakat dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Tapi ini semua pada awalnya saja. Semakin lama saya menyadari bahwa ini semua tidak membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Saya tidak mengatakan bahwa ini sia-sia sama sekali, tetapi untuk dikatakan bermanfaat (menurut standar sang Pencipta kita) sama sekali belum. Ambillah contoh hasil penelitian yang pada akhirnya secara umum sifatnya tidak konklusif dan jika diterapkan pun umumnya tidak semakin membuat orang-orang berperilaku baik dan memahami makna kehidupan dalam setiap denyut aktivitasnya. Sebagai ilustrasi, apa yang telah kita lakukan dengan hasil penelitian (ambillah contoh) berbagai metode pengajaran yang dianggap baik? Jawabannya adalah kita mempraktekkannya dalam proses pengajaran kemudian kita teliti lagi karena ada kekuarangan, kemudian diimplementasikan lagi, tapi karena ada kekurangan lagi kita kemudian teliti lagi, begitu seterusnya.

Jangan salah sangka dulu. Tentu saja ini semua tidak sia-sia. Dengan melakukan penelitian dan mengimplementasikan hasilnya akan memberikan kemudahan bagi para manusia. Dengan metode pengajaran yang baik, guru akan dapat mengajar lebih baik. Dengan menjadi guru yang lebih baik, maka anda kemungkinan akan memiliki jenjang karir yang lebih baik lagi. Tetapi dampaknya sampai disini saja, karena memang yang dipuaskan adalah otak dan tidak menutrisi hati nurani. Pada akhirnya hanya akan berada pada level “tidak sia-sia”, karena dampaknya tidak membuat si pembelajar mengenal kebaikan hakiki karena mereka tidak mengenal sang pemilik kebenaran hakiki tersebut. Padahal kalau kita mau jujur, setiap ilmu, dengan menggunakan wawasan dan kreatifitas yang kita miliki, bisa membuat murid semakin dekat dan kenal sang Penciptanya. Mengenalkan ajaran-ajaranNya, mengenalkan sifat-sifatNya, mengenalkan apa yang telah diciptakanNya, dst. Semua ilmu bisa, karena bukankah alam ini sendiri adalah ayat-ayat Allah juga? Jadi tidak ada alasan untuk tidak bisa mengenalnya. Yang harus dilakuakan hanyalah kita hanya harus membuatnya eksplisit. Kita hanya harus membuatnya eksplisit.

Ketika kita membahas tentang elektron dan proton dalam pelajaran Kimia, kita bisa menghubungkannya dengan keMahaBesaran Allah yang telah menciptakan hampir segala sesuatunya berpasang-pasangan. Ketika kita mengajarkan greeting seperti “good morning”dalam pelajaran Bahasa Inggris, kita bisa menjelaskan perbedaan salam dengan yang diajarkan agama Islam bahwa salam itu terlepas dari peralihan waktu dan bahwa salam itu adalah doa supaya diberi keselamatan dari sang Maha Pelindung. Dalam pelajaran Fisika, kita bisa menerangkan keMahaAgungan Allah yang telah menciptakan tatanan semesta yang begitu sempurna, tidak saling berbenturan satu sama lain. Dalam pelajaran sastra, kita bisa memberikan beberapa penggal ayat Quran yang memiliki bahasa sastra yang sangat agung. Sebelum memulai pelajaran kita bisa memulai dengan doa terlebih dahulu guna menekankan bahwa ilmu, akal, kecerdasan yang kita miliki adalah pemberian dariNya. Kesemuanya bisa kita hubungkan untuk lebih mendekatkan dan mengenalkan Allah kepada murid-murid. Cuma yang menjadi pertanyaan adalah, maukah kita melakukannya?

Saya harus mengakui bahwa sayapun masih sangat canggung dalam melakukan ini semua. Sebagai dosen pusat bahasa yang mengajarkan Bahasa Inggris, saya masih merasa enggan melakukannya disebabkan oleh prasangka buruk saya jikalau nanti para mahasiswa saya akan menganggap saya dosen yang sok “ngeustad.” Alangkah buruknya diri saya ini yang justru malu menghubungkan pelajaran dan mengajarkan agama kepada para mahasiswanya. Padahal dengan mengajarkan Allah—dengan menggunakan strategi pengajaran yang baik, akan mendekatkan para mahasiswa saya dengan kebaikan, karena mereka mengenal sang pemilik kebaikan itu sendiri. Dan bukankan nyawa inilah yang telah hilang dari pendidikan kita?

Saya semakin menyadari mengapa Rosul sering meminta ilmu yang bermanfaat saja dan berlindung dari ilmu yang sia-sia.

FB: Muhalim Dijes
@memetolicious

2 komentar:

dahlan ahmad mengatakan...

MasyaAllah.. membaca tulisan in membuatku tersadarkan atas kelurusan niat in dalam menuntut ilmu. Mkasih atas tulisan in dan sy berdo'a Barakallahu fkum dan semoga dunia bukan menjadi tujuan akhir kita krn masih ada kehidupan2 selanjutnya. Jazakallah kanda

Memet's Blog mengatakan...

Barakallau Fiikum. Jazakallah Khairan Dahlan. Terimakasih sudah singgah. Semoga kita bisa mengamalkannya.