Jumat, 17 Juni 2011

Apa yang Bisa Dipelajari dari Kelas-Kelas di Sekolah Informal

Semua harus hidup dalam tata krama suatu siklus. Tata krama–tata krama menjadi pedoman dalam wilayahnya masing-masing dan menjadi arus utama. Dia menjadi penting, dan sadar atau tidak sadar, selalu dinggap sebagai suatu kepemilikan bagi orang-orang yang yang hidup didalamnya.

Sekarang, mari kita bersepakat kalau pendidikan adalah sebuah siklus. Di Negara kita, tata krama dunia pendidikan secara konsep disusun dengan begitu tangguhnya dengan revisi-revisi yang terus diremajakan secara reguler. Semuanya melibatkan pakar, semuanya melibatkan orang-orang terdidik. Pada level ini, semua sistem dan materi yang diatur, secara komprehensif bersifat definitif. Dengan berbekal analisis dari penemuan sebelumnya yang dijadikan acuan dasar kemudian ditarik satu garis paralel untuk menentukan kebijakan pendidikan untuk tahun-tahun mendatang. Kebijakan ini yang mengatur keseluruhan tata cara penerjemahan konsep ke wilayah pengeksekusian proses didik mendidik yang berada dalam sebuah siklus yang selanjutnya menjadi kepemilikan pelaksana pendidikan: guru dan fasilitator.

Mengapa dimiliki? Karena batasan untuk berimprovisasi ambigu, sedangkan batasan untuk berpedoman sangat jelas tertuang. Wilayah ini bukan hanya berada pada cara mengajar, tetapi juga mencakup semua hal-hal yang sifatnya teknis yang seringkali menuntut keseragaman. Sebagai contoh, penyeragaman waktu belajar yang tak ada tawar menawar. Semua telah teragenda dengan begitu padat sehingga materi yang berpotensi untuk dikembangkan atau kemampuan siswa yang berpotensi untuk dikembangkan dibatasi ruang geraknya. Dalam prakteknya di lapangan, tenaga pengajar akui atau tidak diakui sangat berpedoman dengan rancangan produk pemerintah. Padahal merekalah yang sesungguhnya memahami murid, memahami socio-kultur lingkungan belajar. Contoh yang lain adalah mengenai sistem yang menjadikan semua yang terlibat dalam dunia pendidikan menjadi mesin-mesin administratif. Sebagai contoh, sebuah sekolah atau kampus yang ingin memberikan pencitraan yang baik akan sangat sibuk berkutat dengan hal-hal administratif yang dipersyaratkan oleh birokrasi. Akreditasi sebuah sekolah dalam laporannya akan memberikan data-data tenaga pengajar yang tampaknya diatas kertas sangat menjanjikan sehingga tim assessor tampaknya akan sangat bodoh jika meragukan kualitas sekolah yang bersangkutan. Dalam prakteknya, telah menjadi rahasia umum, bahwa ternyata kebanyakan data-data yang diserahkan tersebut adalah merupakan laporan fiktif.

Tetapi yang kurang tepat dalam hal ini bukan semata-mata sistem itu sendiri. Tapi sebenarnya masalahnya berakar pada pengawalan dari sistemnya. Tenaga pengajar yang benar-benar berdedikasi penuh dengan profesinya akan memanifestasikan seluruh kemampuan dan kesediaannya untuk perkembangan peserta didik. Seyogyanya penerjemahan kurikulum tidak seharusnya sekaku yang kita lihat pada hari ini. Banyak target yang ingin dicapai sesuai dengan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tetapi pendidik selalu menerapkan standar ganda yang kadang merugikan peserta didik. Untuk keperluan administratif, mereka membuat RPP sesuai dengan interpretasi mereka dengan pengeditan seperlunya terhadap rancangan yang sudah ada. Pada prakteknya di lapangan, apa yang dituliskan ternyata tidak dilakukan dengan sebenar-benarnya. Guru dan para dosen hanya mengikuti materi yang telah dirangkum oleh buku-buku teks. Pelaksanaan ini sungguh jauh dari harapan proses pembelajaran yang ideal.

Pare: Sebuah Perkampungan Bahasa Inggris atau SMART yang Membuat Orang-orang Merasa Tampak Bodoh

Pada bulan Januari – Februari kemarin, saya menyempatkan diri ijin dari tempat mengajar saya dan berangkat ke Kabupaten Kediri, Jawa Timur tuk memperdalam Bahasa Inggris di sebuah perkampungan yang berada di Kecamatan Pare. Perkampungan ini selama berpuluh tahun telah menjadi tempat untuk mempelajari bahasa Inggris bagi orang-orang yang berasal dari banyak daerah di Indonesia. Bahkan dalam perkembangannya, peminat orang-orang yang kursus sekarang tidak hanya berasal dari pulau-pulau di Indonesia. Beberapa peminat bahasa Inggris yang berasal dari Negara tetangga Malaysia juga tercatat di beberapa tempat kursus. Dalam satu kecamatan tersebut terdapat dua ratusan lebih tempat kursus yang teridentifikasi dan mendapatkan persetujuan pengelolaan dari Dinas Pendidikan setempat.

Pare adalah tempat yang benar-benar terkonsentrasi untuk memperdalam bahasa Inggris. Walaupun ada satu atau dua tempat kursus bahasa asing lainnya seperti Korea, Jepang hingga Mandarin, tetapi sampai sejauh ini, para pendatang yang datang untuk belajar hanya mengetahui bahwa Pare = Inggris. Kadang saya melakukan survey kecil-kecilan dan menayakan apa yang sesungguhnya memotivasi teman-teman yang menuntut ilmu disana untuk memilih Pare. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, yang praktis telah belajar Bahasa Inggris minimal 6 tahun di bangku-bangku sekolah. Jika ada yg mulai belajar dari sekolah dasar, berarti total waktu yang dihabiskan adalah selama 12 tahun. Jawaban mereka umumnya mirip-mirip. Mereka butuh keahlian berbahasa Inggris untuk menunjang karir mereka, atau mereka ingin melanjutkan studi mereka di luar negeri.

Dari latar belakang pendidikan, saya sendiri adalah seorang sarjana Pendidiakn Bahasa Inggris yang berhubungan dengan bahasa ini selama 4 tahun di bangku kuliah. Ditambah lagi, saya juga sempat mengenyam kursus Bahasa Inggris singkat selama 2 bulan di Amerika Serikat yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintas US. Banyak orang yang menanyakan tujuan saya berangkat kesana dengan pertanyaan yang serupa “memangnya selama ini belum cukup?”. Saat itu saya tidak mempunyai jawaban yang benar-benar meyakinkan bagi setiap orang yang bertanya. Saya selalu mempunyai alasan (excuse) dengan mengatakan bahwa yang akan saya pelajari disana beda, dan saya memang membutuhkan suasana yang kondusif untuk belajar disana.

SMART adalah satu dari sekian banyak tempat kursus di Pare yang melegenda disana. Ketika baru tiba disana dan saya menanyakan ke teman-teman yang telah berada disana sebelumnya tentang tempat yang kira-kira cocok untuk saya belajar TOEFL, mereka umumnya merekomendasikan SMART. Tetapi tanpa melebih-lebihkan, mereka berkata, kalau saya sampai lulus untuk memasuki kelas TOEFL tersebut, maka berarti saya akan menjadi pemegang rekor untuk orang yang bisa lulus di kelas tersebut tanpa melalui kelas-kelas mereka sebelumnya. Di SMART, untuk kelas grammar (TOEFL berada di kelas grammar), ada enam level yang berada dibawah level TOEFL itu sendiri : basic, elementary, pre-intermediate, intermediate, high-class, dan pre-TOEFL. Setiap level, kecuali basic, mengharuskan bagi calon pendaftarnya untuk mengikuti tes. Jika seseorang telah lulus di level pre-intermediate (dimana banyak orang menganggapnya level yang cukup sulit), lantas tidak menjadi jaminan baginya untuk secara otomatis bisa memasuki level intermediate. Mulai dari level intermediate, 3-5 orang peserta kursus sudah dianggap banyak, karena seleksi masuk ke tiap level begitu ketat. Jika ada yang tidak lolos pada suatu level, biasanya mereka untuk sementara waktu mendaftar kursus di tempat lain dan mendaftar kembali pada periode selanjutnya. Tidak berlebihan dikatakan kalau banyak orang yang berlama-lama di Pare hanya karena ingin lolos masuk dan belajar di SMART.

Saya sendiri pada awal mulanya merasa terpecundangi. Karena merasa telah dari Amerika, sudah memiliki nilai TOEFL yang cukup lumayan, serta IPK yang cukup tinggi ketika kuliah dulu, maka dengan optimisnya saya berkesimpulan kalau saya bisa lulus tes untuk kelas tersebut. Untuk bisa lulus, nilai ujian minimum (bukan skor TOEFL) adalah 470, sedangkan nilai saya saat itu adalah 440. Runtuh sudah semua tembok kebanggaan diri saya saat itu. Saya menjadi tampak pandir dihadapan tembok bangunan SMART yang hanya terbuat dari anyaman. Memang secara fisik, SMART adalah tempat kursus yang tampak lusuh. Bangunan seadanya, proses belajar mengajar yang bisa berlangsung dimana saja terutamanya dibawah pohon serta pengajar yang mengajar dengan menggunakan sarung adalah pemandangan yang lazim yang akan didapatkan disana.

Selama seminggu, sambil kursus di tempat lain, saya belajar terus untuk ujian remedy berikutnya sebagai ujian kompensasi bagi pendaftar yang tidak lulus. SMART mengetahui kalau ujian mereka begitu selektif sehingga mereka memberi keringanan untuk memberikan kesempatan mengulang di minggu berikutnya. Setelah belajar yang cukup intens, pada kali keduanya saya berhasil lulus dengan selisih tipis sebanyak sepuluh dari standar yang ditetapkan. Pendaftar untuk kelas ini adalah 2 orang, dan saya menjadi satu-satunya peserta yang lulus untuk periode saat itu. Disana, berapapun yang lulus masuk untuk level tertentu, akan diajar dengan sepenuh hati. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan tempat-tempat kursus lain di Pare yang menetapkan rata-rata minimum 7 orang peserta kursus per levelnya. SMART adalah merupakan tempat pendidikan yang paling mengutamakan “prinsip-prinsip pendidikan yang sesungguhnya” yang pernah saya ketahui. Sampai sekarang saya masih tidak mengerti tentang hitung-hitungan profit yang mereka peroleh. Untuk kelas saya sendiri, ada 3 orang pengajar yang berbeda-beda untuk tiap skill: listening, structure & written expression dan reading. Kursus saya selama sebulan disana hanya seharga Rp. 185.000 dengan 3 kali pertemuan setiap harinya, mulai dari hari senin sampai sabtu dan tiap pertemuannya berlangsung selama satu setengah jam. Jadi kalau dihitung harga untuk tiap pertemuan satu setengah jamnya berkisar Rp. 2.500. Adalah hal yang wajar kalau sampai sekarang ini bangunannya dibangun ala kadarnya dan baju yang dikenakan pengajarnya hanya itu-itu saja.

Selama belajar disana, saya memperoleh ilmu yang banyak sekali. Setiap materi disiapkan dengan begitu matangnya dan saya tidak bisa lebih menekankan lagi untuk mengatakan kalau ilmu yang dimiliki pengajarnya sangatlah luas. Setiap kasus untuk soal yang dibahas dijelaskan permasalahnnya dan bahkan sumber acuannya dijelaskan secara mendetail hingga halaman referensinya. Para pengajarnya tidak membawa buku. Tetapi setiap materi akan dibahas sampai ke akar-akarnya dengan tetap menjunjung tinggi rasa tanggung jawab terhadap keilmuan mereka. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui di kelas-kelas formal, dimana guru mengajar dengan hanya memberikan tugas dari buku-buku. Di SMART, mereka mempunyai sistem pembelajaran tersendiri dalam artian, pemberian materi dengan gaya mereka sendiri. Setiap materi selalu diterjemahkan kedalam bentuk bagan-bagan. Pelajaran bahasa Inggris akan tampak sebagai pelajaran hitung-hitungan, rumit, tapi anehnya disukai dan dianggap menantang. Tim pengajar disana betul-betul dituntut untuk memahami materi yang akan diajarkan. Tempat ini mempunyai cara yang unik untuk menginterpretasikan materi.

Disamping hal-hal telah disebutkan diatas, tempat kursus ini juga telah menerbitkan beberapa buku yang dipakai dalam di lingkup Pare. Bukan materi yang dikompilasi atau semata-mata di potong dan ditempel dalam kemasan yang baru dan lain. Tetapi buku-buku yang diterbitkan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara isi yang menunjukkan kalau tim pengarang betul-betul memahami apa yang mereka tulis. Institusi ini seakan menyentil sekolah-sekolah formal yang guru-gurunya tidak produktif dalam membuat buku pelajaraan yang sesuai dengan kebutuhan siswa, bahkan menyentil sebagian besar kampus-kampus di Indonesia yang dosen-dosennya tidak produktif atau produktif tetapi plagiat. Tak habis-habisnya kekaguman saya dengan tempat kursus ini.

Keunggulan lainnya yang sulit ditemui di institusi-institusi baik formal maupun non-formal yang ada di SMART adalah evaluasi terhadap peserta didik. Evaluasi ini dilaksakan setiap hari! Perkembangan siswa benar-benar diobservasi dengan jelas dan selalu didiskusikan setiap harinya. Saya sendiri sangat merasakan evaluasi ini. Suatu ketika, ketika saya sedang mencari intruktur untuk kelas reading saya (saya menjadi nomaden selama belajar disana karena tempat yang sangat terbatas). Tiba-tiba instruktur dari kelas lain yang saya bahkan tak tahu namanya menegur saya dengan mengatakan :”masih susah di adverbial clause ya mas?” bahkan instruktur yang tidak mengajar saya sekalipun mengetahui masalah pelajaran yang saya tidak mengerti. Setiap pengajar yang mengajar saya untuk masing-masing skill selalu menanyakan kemajuan saya untuk skill yang lainnya. Motivasi, saran dan ilmu, itu yang tiap hari saya dapat. Jika dulu di salah satu perguruan tinggi Islam tempat saya memperoleh gelar sarjana, memulai pelajaran dengan langsung ke pokok inti materi, maka di SMART, saya memulai pelajaran dengan berdoa dan mengakhiri pelajaran dengan berdoa pula. Tak perlu pengajar yang rupawan atau fasilitas yang mewah untuk membangun nilai-nilai religius siswa atau membangun kewibawaan suatu tempat pendidikan. SMART membuktikan hal itu.

Kelas Sebagai Sebuah Arogansi Tingkatan atau Tempat untuk Mencetak Manusia Cerdas

Pendidikan alternatif menjadi penting di tengah-tengah pendidikan formal yang terlalu berpedoman dengan birokrasi dan cenderung untuk menerapkan politik mercusuar. Kebutuhan siswa dan sekolah tidak dikontekstualkan, karena tenaga pengajar berpacu dengan target pembelajaran. SMART adalah merupakan contoh pendidikan alternatif yang sangat baik dalam hal penyeleksian siswa yang dapat diaplikasikan di sekolah-sekolah formal. Karena adanya rasa kedewasaan untuk mempertanggungjawabkan ilmu, pengajar di SMART tidak akan meluluskan siswa yang memang tidak memenuhi standar. Karena selain akan menghambat si siswa sendiri, juga akan menghambat kemajuan siswa yang lain. Dengan menerapkan kebijakan seperti ini, maka guru juga akan semakin tertantang untuk betul-betul ‘memajukan’ siswa mereka, karena indikasinya akan sangat jelas. Guru tidak boleh menutup mata akan kemajuan siswa dengan melanjutkan terus materi pembelajaran.

Sangat dilematis memang, karena yang menjadi sentral bukan hanya guru, tetapi juga siswa harus berperan aktif. Kesadaran untuk bersungguh-sungguh memang adalah hal yang juga turut dipengaruhi oleh ‘rumah’. Semua yang dibawa siswa dari rumahnya adalah faktor yang cukup dominan dalam pembentukan kepribadian siswa. Tapi yang harus digarisbawahi adalah tidak ada legitimasi yang sifatnya memaksa yang bisa menjadi landasan apakah seorang siswa semangat atau tidak semangat; rajin atau tidak rajin; suka atau tidak suka, yang datangnya dari ‘rumah’. Semua itu dapat diperoleh dari dalam kelas. Seorang guru mempunyai legitimasi yang kuat untuk memberikan saran, perintah, bahkan paksaan untuk kondisi-kondisi pembelajaran. Guru bisa mendesain pemberian tugas-tugas sebanyak mungkin bagi siswa dan berkata kepada siswanya bahwa tugas tersebut sangat penting dalam pemberian nilai. Tepat atau tidak tepat waktu berada dikelas ditentukan oleh guru baik dengan cara memaksa atau dengan cara memberikan panutan. Guru bisa menanamkan semangat menuntut ilmu ke murid-murid dengan pemberian motovasi di tengah-tengah proses belajar. Guru bisa membuat kontrak pembelajaran sendiri, menamkan nilai-nilai keagamaan dengan praktek berdoa sebelum belajar, hingga menanamkan nilai moral, kolektivisme dan kerjasama. Berbenah dari kelas dengan guru yang menjadi pemeran sentralnya adalah kunci dari perubahan kearah yang lebih baik karena guru memiliki legitimasi yang kuat.

Pemahaman aspek-aspek psikologi yang sangat berpengaruh terhadap prestasi siswa walaupun selama ini secara formal-legalistik di mandatkan oleh orang atau tempat sepeti Bimbingan Konseling (BK) atau Penasihat Akademik, (PA) sebenarnya kurang efektif, karena yang paling tahu kondisi peserta didik adalah guru mereka. Guru yang sebaiknya mengobservasi siswa secara telaten dan membuat evaluasi karena setiap siswa sifatnya unik. Evaluasi sangat penting untuk memberikan gambaran langkah-langkah yang tepat untuk berinteraksi dengan siswa atau untuk memberikan saran/masukan kepada siswa. Seorang pengajar sebaiknya selalu melakukan improvisasi-improvisasi terhadap materi yang telah ditentukan, sesuai dengan keadaan dan pemahaman siswa. Keadaan kelas harus benar-benar dipahami oleh guru dan mulai berbenah darinya.

Meskipun demikian, yang paling penting dari pembenahan yang dilakukan oleh seorang guru adalah membenahi dirinya sendiri. Sudah menjadi pengetahuan umum kalau banyak guru yang mengajar yang tidak kompeten dibidangnya. Hal ini salah satunya disebabkan karena sistem perekrutan yang sangat carut marut. Sebagai contoh, penerimaan pegawai guru di Indonesia dilakukan dengan melakukan tes yang isinya seragam untuk semua guru bidang studi yang berbeda-beda. Seorang calon guru fisika akan mendapatkan soal tes masuk menjadi pegawai yang tesnya sama dengan calon guru Bahasa Inggris. Biasanya, materi yang menjadi subjek bagi seorang calon pegawai guru bahkan tidak masuk dalam dalam bahan ujian. Calon guru Fisika dan Bahasa Inggris akan sama-sama menjalani Tes Potensi Akademik, Tes Pengetahuan Umum dan Tes Skala Kematangan. Mereka tidak diseleksi berdasarkan keilmuan mereka, apalagi seleksi dengan menggunakan tes micro teaching. Tidak heran jika tempat-tempat kursus seperti SMART memiliki pengajar-pengajar yang jauh lebih banyak dan berkualitas ilmunya dibanding guru-guru di sekolah-sekolah formal. Apa yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelas bahasa Inggris? Apakah pasal-pasal? Apakah pancasila? atau menghitung sisi miring suatu segitiga?

Tata krama dunia pendidikan di Indonesia seharusnya sesekali bercermin dengan tempat-temapat penyelenggara pendidikan alternatif. Undang-Undang Dasar yang telah menjamin bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah hal urgen, harus dikawal dengan penuh tanggung jawab. Tugas kita bersama adalah kembali memurnikan tujuan kita. Pendidikan seyogyanya tidak menjadi lahan untuk mengeruk keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Fasilitas penting, tapi lantas tidak dijadikan sebagai penggerak utama pendidikan. Justru dalam keterbatasan itu sebenarnya menuntut kita untuk menjadi manusia yang kreatif. Karena itu kita harus segera berbenah dari lingkungan terkecil tempat belajar mengajar. Guru yang menjadi masinis pendidikan sudah seharusnya memiliki kualifikasi yang excellent yang bisa menginspirasi siswa-siswa dari ruang kecil yang bernama kelas. Siswa kelas 3 SD sudah seharusnya memiliki ilmu kelas 3 SD. Kelas bukan arogansi tingkatan. Kelas menunjukkan jenjang ilmu siswa. Dan itu semua bergantung dari guru.

Semua aspek pendidikan menjadi penting. Tetapi guru yang berada dalam ruang yang bernama kelas adalah yang sangat penting diantara semuanya. Kualitas pendidikan kita ditentutakan dari sini. Kini saya sudah menyadari alasan mengapa saya sampai harus ke Kediri. Mengapa SMART menjadi guru saya yang begitu menginspirasi. Semoga kita bisa belajar dan berbenah diri.

Rabu, 22 September 2010

Dunia Hanyalah Tempat Bermain dan Senda Gurau


Saya sebegitu tertarik dengan ayat Al-Quran yang redaksinya seperti ini: “dunia hanyalah tempat bermain dan senda gurau”. Awalnya, saya membaca catatan teman saya M.a.Maulim Ni’am di note account facebook-nya. Catatannya secara umum menggambarkan tentang ‘kebohongan’ yang merupakan tanggapan dari catatan temannya yang juga bertemakan tentang kebohongan. Bagian paling menarik yang sempat saya berikan perhatian adalah tentang kebohongan yang salah satunya dijabarkan dengan pernyataan bahwa kalau manusia selalu berwajah multidimensi, tergantung keadaan yang dihadapinya. Sebagai contoh, seorang ibu yang berprofesi sebagai guru akan memerankan peranan dengan wajah yang berbeda ketika berada di sekolah dan dirumah. Begitupun akan sangat berbeda ketika ia berada di tempat arisan atau atau berada di tempat ibadah. Berdasarkan kesimpulan saya, tulisan Ni’am mengatakan kalau berubah kondisi, maka topeng yang dipakai akan berbeda pula.

Tak lama setelah membaca note teman saya itu, tiba-tiba datang dua pesan singkat pada malam harinya dari teman yang berbeda. Entah mengapa secara kebetulan, pesan mereka bercerita tentang permainan dan senda gurau dengan kaitannya dengan hidup. Yang satu berpesan kalau hidup di dunia adalah senda gurau yang kekal adalah negeri akhirat, sedangkan pesan yang kedua bertutur bahwa jikalau hidup hanya bermain, maka kita boleh bermain sepanjang hidup kita. Jikalau hidup hanya sebatas senda gurau, maka kita boleh bercanda selama hidup kita. Tapi sayangnya hidup banyak warna, ada kalanya sedih dan susah. Kemudian pada akhir kalimat pesan kedua itu berbunyi “kemanakah kaki akan melangkah pulang?” karena kita hanya akan pergi kesatu negeri yang memiliki dua tempat tujuan; surga atau neraka.

Bermain

Kalau dunia adalah tempat bermain, berarti pemainnya itu sendiri adalah semua makhluk yang menghidupi bumi. Manusia sebagai pemimpin di bumi yang lebih dipercayakan oleh tuhan dibandingkan makhluk-makhluk lainnya adalah pemain paling handal. Kita cenderung bermain sesuai dengan penempatan peran yang semakin jelas seiring dengan perjalanan waktu usia manusia. Manusiapun sebagai pengendali dimana dunia dititipkan baginyaselalu bermain monolog dan lebih cenderung bermain dialog. Tapi porsinya asimetris, karena kecenderungan manusia memang yang tidak dapat hidup tanpa orang lain sehingga lebih menyukai dialog. Ketika berdialog dengan makhluk lain, maka seorang manusia yang berinteraksi dengan suatu entitas biasanya bermain adil, tetapi banyak pihak juga yang ingin mempermainkan lawan interaksinya. Ambilah contoh prinsip demokrasi yang sebenarnya lebih mengarah ke suatu fatamorgana, alih-alih sebagai sesuatu yang benar-benar bisa tercapai: from the people, by the people and for the people. Yang terjadi adalah sesungguhnya pengharapan akan target ‘keadilan’. Tetapi faktanya, dimana saja demokrasi berkembang, dalam dimensi apapun, selalu terjadi subordinasi demi mempermainkan pihak lain. Hal ini disebabkan karena memang kecenderungan orang kuat untuk mempermainkan entitas yang lemah, siapa kuat dia berkuasa. Kekuatan memang mempunyai seribu wajah. Kekuatan umumnya konflik dengan prinsip keadilan, seperti ungkapan ‘power tends to corrupt’. Akan selalu terjadi korupsi terhadap hak-hak orang/makhluk lain.

Bagaimanapun, permainan adil tetap saja bisa ditemukan, namun sulit. Pemenuhan keadilan akan dapat tercapai jika kedua belah pihak digenapkan hak-haknya. Sebagai contoh zakat mal. Telah disebutkan dalam ajaran agama Islam kalau sesungguhnya setiap jumlah harta yang telah ditentukan takarannya seharunya dizakatkan sebanyak 2,5 persen. Sehingga kaum papa, terlantar, termarginalkan sebenarnya bisa diperbaiki kualitas hidupnya , utamanya dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Ajaran agama manapun sebenarnya juga banyak menekankan perhatian terhadap kepedulain sosial. Tapi tampaknya, Islam-lah memang yang paling strict dan memberikan aturan-aturan yang jelas dalam pengejawantahannya. Ini baru satu contoh. Wajah keadilan dalam permainan sebenarnya sangat beragam. Seperti keadilan untuk mendapatkan informasi tanpa distorsi karena pihak internal tertentu seperti korporasi, lembaga atau oknum ; keadilan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas; keadilan untuk berekspresi yang harus berada dalam kerangka sosial-keagamaan; keadilan ekonomi mikro dan masih banyak lagi. Seyogyanya indiskriminasi terhadap sesama pemain harus dijunjung tinggi. Sehingga kedua pelaku benar-benar menjadi pemain aktif, bukan salah satunya menjadi objek.

Kecenderungan monolog , seperti namanya hanya memiliki pemain tunggal. Pemainnya itu sendiri. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya tentang interpretasi Ni’am akan permainan, sesungguhnya multidimensionalisme seseorang adalah salah satu contohnya. Kita akan selalu mengenakan topeng yang berbeda-beda bergantung suasananya. Karena ketika seseorang tidak mengganti cover mereka, maka biasanya akan berujung kepada intoleransi. Tapi bukan berarti bahwa cover tidak substantif. Sesungguhnya tidak. Kemasan yang disesuaikan keadaan akan sangat mempengaruhi performa. Seorang yang berpakaian seragam polisi akan menjaga kewibawaan suara dan perilakunya. Ketika berada dirumah bersama istrinya, maka dia bertindak selayaknya suami yang bebas berkeluh kesah kepada istrinya. Tetapi ketika bertemu dengan teman korpsnya, maka dia menjadi sosok yang tangguh lagi, seolah-olah tak pernah memiliki beban. Ini namanya bukan hipokrasi, tapi ini namanya tuntutan. Switching yang terjadi secara berulang-ulang dan dalam waktu yang lama pun sesungguhnya akan membentuk karakter. Jadi sekali lagi, perubahan topeng itu tidak mendekati hipokrasi, tapi lebih kepada keperluan. Ketika seseorang memohon doa kepada tuhannya, sebenarnya merupakan salah satu dari bentuk monolog.

Senda Gurau

Apa yang sesungguhnya diperoleh dari kelakar? Senda gurau? Jawabannya adalah penghiburan diri. Ketika hidup seorang manusia memang hanya berfokus pada dunia, maka sesungguhnya dia hanya akan memperoleh penghiburan diri. Tak pernahkah anda mendengar orang yang berkata “wah, perasaan dia dulu cuma sebesar ini, tapi sekarang dia sudah besar sekali”. Waktu hidup di dunia benar-benar terasa sekejap mata, selalu mempermainkan manusia. Belasan, puluhan tahun tak ubahnya serasa hari kemarin yang baru saja terjadi. Siapa yang mempermainkan siapa dalam hal ini? Tidak ada. Semuanya adalah karena hidup memang mengalir begitu saja dan semua kejadian yang terjadi sifatnya hanya sementara dan diterima dengan sense manusia yang juga sementara. Sudah menjadi ketentuan bahwa tidak ada yang abadi, termasuk juga sistem penerimaan kita terhadap penderitaan, kebahagiaan, kemiskinan & kekayaan. Karena kita telah dijanjikan kalau segala yang kekal itu urusannya ada di ukhrawi. Nikmatnya hubungan suami istri hanya sekejap saja. Tapi di akhirat manusia dijanjikan hubungan suami istri yang tidak ada istilah ‘lelah ’ di dalamnya. Yang ada di dunia hanyalah penghiburan diri. Yang ada di akhirat adalah kebahagiaan yang puncak.

Sebagai contoh kalau sistem penerimaan kita terhadap sesuatu sifatnya sementara bisa digambarkan dengan orang yang sangat excited sekali ketika mengetahui kalau dirinya akan pergi ke Big Apple, New York City. Perasaanya sungguh sangat menggebu-gebu sekali dan selalu membayangkan pengalaman apa nantinya yang ia akan rasakan sesampainya disana. Tetapi begitu orang tersebut tiba di sana, di NYC, kemudian dia berkata kepada dirinya sendiri “ok, ini NYC, kota yang modern, multikultur, ramai dan rapih, seperti yang saya biasa liat di media-media. Terus apa lagi?”. Cukup, mungkin itu kata yang paling bagus untuk mewakili. Memang biasanya kita selalu memberikan pilihan jika ditanya tentang tempat yang paling impresif yang pernah kita kunjungi. Itu disebabkan karena memang keadaan tempat yang kita pilih itu lebih baik daripada keadaan tempat-tempat yang lainnya. Tapi coba tebak, hanya itu saja. Ketika kita berada di tempat yang dimaksud, sistem penerimaan kita sama saja, “terus apa lagi?”. Hal ini berlaku pula pada popularitas. Setiap orang yang memang pada dasarnya suka diperhatikan oleh orang lain tidak semuanya bisa mencapai popularitas, dengan menjadi selebriti misalnya. Orang yang biasa-biasa saja tanpa popularitas selalu berpikir kalau orang yang populer itu sungguh benar-benar beruntung, di puja dan di puji. Tapi sesungguhnya popularitas hanya sebatas pada popularitas saja, tidak lebih. Banyak orang yang mengelu-elukan selebriti, terus kenapa? Terus apa lagi? Apalagi dampak yang paling banyak didapatkan selain uang? Ketika seseorang benar-benar populer sebenarnya ia juga akan berkata kepada dirinya, “terus apa lagi?”. Lelucon.

Bagaimana menempatkan kesedihan dalam senda gurau ini di dunia? Seperti semua hal yang tidak pernah kekal, maka kesedihan juga sifatnya tidak kekal. Manusia juga seringkali tersenyum dan banyak kali tertawa. Pasti terjadi perubahan, manusia akan melunturkan ingatan-ingatan di masa lalu entah cepat atau lambat. Dan yang terjadi adalah sedih-bahagia-sedih-datar-monoton-sedih-sedih-bahagia-bahagia-monoton-monoton-bahagia-bahagia, dan seterusnya tanpa pola yang pasti. Jika kita bisa melihatnya sebagai sesuatu kesatuan yang sesungguhnya telah ditetapkan jauh sebelum manusia lahir, maka kita pasti akan mendapatinya kalau sebenarnya semua itu hanyalah kelakar, sebuah senda gurau. Beda dengan hal yang sifatnya abadi. Karena sekali sedih, maka akan sedih selamanya. Sekali bahagia, akan bahagia selamanya.

Hidup di dunia tampaknya memang hanya tempat bermain dan senda gurau. Para pemainnya adalah kita dan yang bersenda gurau juga adalah kita. Sebaiknya setiap dari kita menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menuju ke tempat yang kekal, tidak bermain terus dan tidak berkelakar terus. Semoga tulisan ini tidak dianggap sebagai permainan & lelucon belaka . Selamat menjadi orang serius dengan memperhatikan hal-hal yang akan membawa pada keabadian. 

QS Al An'aam (6) : 32
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka[468]. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya.

*Terimakasih buat note M.a. Maulim Ni’am yang inspiratif, dan SMS dari M. Maknun & Sri Wahyuningrum yang membuatku bertanya dan menganalisa. Ini adalah tulisan yang tertunda.

memetolicious.blogspot.com
Makassar, 21 September 2010

Selasa, 10 Agustus 2010

Catatan puasa hari I 1431 H : Andaikan Kita Bisa Selalu Menghadirkannya di Keseharian Kita

Kemarin dulu saya dan beberapa anggota keluarga menyempatkan diri untuk ziarah ke makam om dari bapak saya. Seperti kebiasaan masyarakat kita pada umumnya, kalau akan memasuki bulan ramadhan maka mereka akan menyisihkan waktunya untuk menziarahi orang-orang dicintai yang telah berpulang terlebih dahulu.

Saya mengantar kakak saya dengan sepeda motor. Sewaktu disana, saya tidak melakukan apa-apa. Saya tak berdoa di depan makam karena tak tau doa apa yang harus saya baca, tidak melakukan siraman kubur atau bersepakat dengan kebiasaan menziarahi makam sebelum bulan puasa itu sendiri. Karena saya tidak (belum) tau hukumnya bagaimana. Karena ajaran agama kita mengatakan bahwa tidak ada amal perbuatan yang tidak berlandaskan ilmu. Dan saya tidak memiliki ilmu akan hal itu, maka saya tidak amalkan.

Bertepatan dengan waktu itu, corong masjid yang berada di dekat pekuburan itu mulai melantunkan ayat-ayat suci, hal yang biasa sebelum azan magrib dan azan sholat-sholat lainnya. Tapi entah mengapa tiba-tiba ada perasaan yang tak biasa yang memang kerap kali muncul. Perasaan takut kepada-Nya, mengingat Dia kembali.

“Apakah kamu tidak mengambil pelajaran dari orang-orang terdahulu?” saya tiba-tiba teringat dengan salah satu ayat dari Al-Quran itu. Sambil mondar-mandir diantara kuburan, saya sesekali juga menyelipkan lamunan diantaranya, dan ayat itupun terus bergaung di kepala saya. Mau bukti apalagi? Oceh pikiranku. Semua pasti akan binasa dan kembali ke Penciptanya- sebuah kata-kata yang kita telah sering dengar sedari kecil. Tapi cuma momen yang seperti itu baru kadang-kadang kita menyadari. Momen dimana kuburan harus berada persis di depan kita. Momen dimana kita melihat upacara pemakaman. Momen dimana kita mencium bau kapur barus mayit, lengkap dengan kain kafannya. Ditambah lagi, saat itu, lantunan ayat suci Al-Quran benar-benar mengambil perhatianku.

Kalau kita selalu menghadirkan perasaan itu, saya kira orang-orang yang akan maju untuk pemilu presiden, Kada, bupati, dst tidak akan terlalu banyak, bahkan mungkin tidak ada. Mungkin tindakan Satpol PP untuk menertibkan warung remang dan operasi Miras tidak akan pernah perlu. Infotaiment mungkin tak akan begitu laku dan tak akan ada yang mengidolakan Justin Beiber. Mau diapakan semua itu kalau perasaan takut, menghamba, dan menyadari kalau di dunia ini semua semu selalu hadir di dalam hati kita?

Perasaan yang sama juga acapkali kita temukan ketika berada di mesjid-mesjid. Tapi susahnya, kita tak sanggup menghadirkannya ketika berada di tempat kerja, di sekolah, di depan computer, dan di tempat-tempat yang lainnya. Saya pribadi selalu gagal dalam membunyikan kembali alaram ingatan itu. Yang saya pikirkan sejauh ini, mungkin untuk menghadirkan ingatan dan perasaan seperti itu membutuhkan latihan yang juga regular, harus dilatih.

Mengapa kita (manusia) tidak pernah belajar dari pengalaman? Seolah-olah yang hidup sekarang ini adalah satu-satunya kaum yang telah menciptakan peradaban, bermukim, berkompetisi dan satu-satunya kaum yang pernah mengumpulkan harta. Seolah-olah kaum sekarang yang sedang hidup adalah kaum yang terpelajar yang mempunyai kebijaksanaan yang puncak. Seolah-olah kitalah kaum yang hidup dengan menggunakan teknologi tercanggih. Padahal, setiap teknologi menjadi termutakhir berdasarkan zamannya.

Dari yang saya ambil sebagai kesimpulan sendiri, mengapa Al-quran menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya? Karena Al-Quran telah merekam semua ragam cerita kehidupan yang telah terjadi. Cerita kehidupan yang terjadi sesudahnya semuanya sudah diantisipasi dan ada pedomannya. Kita hanya perlu pandai-pandai mengambil pelajaran di dalamnya, kitab peringatan. Selayaknya kita sesekali melihat kembali apa yang kita bisa lihat dari orang-orang terdahulu.

Lihat? Semuanya dangkal bukan? Semua yang terjadi sekarang cuma merupakan modifikasi masa lalu. Berkembang tapi wilayahnya dangkal. Hal yang hakiki adalah: menunaikan tujuan hidup kita. Walaupun sangat sulit untuk melaksanakannya saya kira, karena kita harus melawan mainstream kalau begitu. 
Marhaban yaa ramadhan..

memetolicious.blogspot.com

Kamis, 10 Juni 2010

Daftar Keanehanku

Setelah berusia 23 tahun dan 2 bulan, maka ada beberapa hal yang bisa saya pelajari dari diriku. This is the list, here I go:

- Punya Obsessive Compulsive Disorder terhadap benda-benda yang disentuh. Kalau tangan kiri menyentuh, tangan kanan juga harus menyentuhnya. Paling compulsive ma yang namanya besi dan sebagainya.
Bintang: 4 stars

- Obsessive compulsive disorder sama aroma kertas. Kalau baca buku pasti kerjanya cium-cium aroma itu buku secara vertikal, dari atas kebawah terus dilanjut lagi dari bawah keatas terus dari atas kebawah lagi (harus cukup tiga kali)..gosh… kemudian buku itu saya bagi sepertiganya tuk di-aroma-i. Awal, pertengahan dan akhir-akhir (juga 3 kali)….@_@
Bintang : 5 stars

- Tak tahu jalan. Dari kecil tinggal di Perumnas., tapi ditanya jalan-jalan di sekitarnya sama sekali ndak tau. Pernah mau ke Alaska di bulan Ramadhan ma teman 3 motor. Alaska letaknya di Pengayoman, saya perginya ke Boelavard. Junior di kampus, dibelakangku yang juga ikut, bertanya-tanya. Sampai pada saat pengakuan dosa kalau saya lupa jalannya, barulah dia bilang “ pantasan, saya heran, kan kita tadi seharusnya belok kiri, ndk terus”. Andaikan dari awal dia bilang tanpa khawatir dengan PDI (Power Distance Index), saya pasti tiba lebih awal dan tidak telat buka puasa T_T…
Bintang : 3,5 stars

- Kalau baca buku, terus sampai pada kalimat yang inspirasional atau cerdas atau keren atau completely new atau surprising, maka pasti saya kemudian meliat biografi pengarangnya sambil menatap gambar pengarangnya lekat-lekat. Setelah itu lanjut baca lagi. Kalo dapat lagi, pasti liat gambar pengarangnya lagi. (whattan useless reaction)
Bintang: 3 stars

- Memastikan jamnya tepat sebelum bangun. Biasanya setelah solat subuh saya tidur lagi (don’t try this @ home coz kata temanku, sel darah putih akan memakan sel darah merah). Kalau bangun pasti harus memastikan apakah itu jam 7 pas atau jam 7 lewat setengah. Begitu seterusnya. Bisa 8, 8.30 atau bahkan di hari minggu bisa bangun sampe jam 9, 9.30 (jangan ditiru ya nak).
Bintang: 5 stars

Sekian dulu daftarnya ya. Kalo saya dapat ilham lagi, saya akan berbagi *bangga dengan keanehannya*

Selasa, 11 Mei 2010

Masih Mencari Arti Kata ini: Kebahagiaan


Saat selesai solat di Musholla Graha Pena, seorang bapak yang baru saja mengambil air wudhu berujar kepada temannya dengan temannya "itulah konsekuensi hidup pak, bekerja dan beribadah".

Sampai di lift yang membawa saya di lantai tempat saya bekerja, saya masih terus berpikir tentang ucapan bapak tadi. Yang pertama yang saya pikirkan adalah satu: urutan pelafalan kalimatnya, bekerja kemudian disusul dengan beribadah. Dua: arti kata konsekuensi.

Rasanya tidak adil menilai prioritas dari ucapan yang spontan. Tapi saya pribadi percaya kalau alam bawah sadar, sebuah built in computer di otak kita tidak pernah tidak benar ketika mengeksekusi sesuatu. Ucapan yang spontan atau ekspresi bisa dikatakan lebih jujur dalam mencerminkan kepribadian seseorang. Premis saya untuk sementara adalah: pekerjaan kini menjadi prioritas paling pertama dalam hidup bagi mereka yang telah memiliki keluarga atau bagi yang telah menamatkan sekolahnya. Karena tidak ada pekerjaan berarti tidak ada uang. Tidak ada uang berarti tidak bisa hidup. Hampir semua berbicara tentang kalkulasi, hampir semua berbicara tentang nominal.

Saya kemudian melakukan refleksi. Jawaban yang muncul tiba-tiba adalah,” ya”, saya juga manusia yang hanya berbicara tentang nominal. Alasan yang mendasar adalah, saya (kita) tidak dapat bahagia tanpa uang, karena tanpa uang akan mustahil memperoleh kebahagiaan (sambil berpikir kalau saya tidak boleh menjadi seorang yang naïf). Saya rasa itu benar, saya sendiri berdamai dengan diri saya akan hal itu. Tapi yang jadi masalah adalah saya tidak memberi limit. Setelah mendapatkan uang 100 perak, saya maunya 500 perak. Setelah 500 perak, saya maunya mendapatkan 1500 perak, begitu seterusnya tanpa henti. Seperti vicious circle. Saya dan anda selalu bekerja dan untuk sementara merasa berada di zona nyaman dengan upah yang diperoleh. Tetapi setelah berjalan selang waktu, diri kemudian merasa tidak cukup lagi. Solusi yang umum adalah mencari pekerjaan lain, atau tetap di pekerjaan itu dengan berusaha meningkatkan upah sebanyak mungkin.

Tiap pribadi mempunyai target masing-masing, dan kadang-kadang target itu menjadi standar kebahagiaan kita. Pertanyaannya adalah: haruskah kita memandang dunia ini secara sempit dan bergaul dengan sesedikit mungkin orang atau sebaliknya. Karena seseorang yang banyak melihat orang lain dan memandang dunia secara luas kadang-kadang menaikkan standar hidupnya dan tidak nyaman dengan zona dirinya yang sekarang. Akibat logisnya adalah menaikkan standar diri untuk hasil yang lebih tinggi atau menetapkan standar diri yang sama tetapi melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Bagi pribadi yang memiliki dunia yang sempit dan bergaul dengan sedikit orang, umumnya merasa sudah “cukup”. Cukup yang diakibatkan oleh dua kemungkinan. Pertama, karena dia tidak melihat dunia yang terhampar begitu luas, kedua, karena dirinya memang telah memperoleh kebijaksanaan dalam melihat hidup.

Opsi yang kedua sebenarnya juga dapat diperoleh bagi seseorang yang melihat dunia secara luas, bahkan kadang-kadang kebijaksanaanya lebih hebat. Menyumbangkan sebagian besar harta untuk filantropi, hidup sederhana dan mensejahterakan orang lain, menjadi pribadi sederhana diantara kalangan para sosialita, bahkan sampai memfokuskan hampir semua dirinya untuk urusan agama. Kalau begitu, kunci untuk memperoleh kebahagiaan bukan terletak pada uang ternyata. Kalau kita telah menetapkan limit sedemikian rupa dengan berusaha berlandaskan dengan ketimpangan sosial yang ada, kemudian bisa menciptakan kebahagian murni dari dalam diri tanpa terpengaruh dengan tendensi-tendensi materi, maka kebahagiaan adalah benar-benar menjadi milik kita. Mudah memang mengatakannya. Tapi saya rasa itulah tugas kita disini. Memahami hidup untuk memperoleh kebahagiaan.

Premis kedua adalah: bekerja dan beribadah adalah merupakan konsekuensi. Ini masalah sudut pandang, tidak ada yang salah dan benar. Tetapi bagi seorang Islam, ibadah dan bekerja adalah kewajiban kita, bukan akibat dari eksistensi kita. Kalau kita berkata bahwa Tuhan maha sombong karena menyuruh kita menyembah padanya maka itu betul, karena jubah kesombongan hanyalah milik Dia. Tidak usah dipertanyakan mengapa kehadiran kita adalah untuk beribadah, hal yang sejalan dengan Tuhan yang tak pernah menghitung-hitung nikmatnya kepada hambanya. Lagipula kita sepakat kalau hidup manusia disertai dengan kesusahan-kesusahan. Tapi kesusahan itu pasti ada imbalannya. Kesusahan usaha kita di dunia untuk bekerja berbuah pada harta di dunia. Kesusahan untuk beribadah berimbas pada dunia dan hari yang kekal. Jadi mau pilih yang mana: dunia saja atau dunia dan hidup nanti yang kekal?

Fit of survival. Begitulah kurang lebih. Tapi jangan menggiring paham ini kepaham Darwinisme. Kita akan memperoleh imbalan dengan usaha-usaha yang pantas. Maka pantaskanlah diri kita. Kadang-kadang terlalu banyak mau dan bertanya dengan otak yang terbatas tidak memberikan kebahagiaan dan jawaban sama sekali.

Makassar May 12, 2010, saat langit siang masih cerah..

Jumat, 16 April 2010

Rahim Kita


lagu rindu buat kalian yang telah keluar dari rahim almamater biru
tali pusar kita kini telah diputus
kita tak lagi mengambil makan dari rahim, sudah lepas dari selaput
sekarang kita bergerak seperti siput

sekarang kita berada di rahim yang kejam ini
gen apa yang diwariskan kepadamu? apa tipe darahmu? bagaimana tulang-tulangmu berkembang?
saya mau tau

kau tau tidak, mungkin saya tidak tau tentang kamu
tapi saya tau, kau pasti sedang berjuang
dengan berada disini kau dituntut untuk melakukan banyak hal bukan?

ini kabarku: saya sudah mulai belajar merangkak
tapi masih terseok-seok
kabarmu bagaimana?
adakah engkau berkembang sesuai dengan pendidikanmu selama ini
ketika engkau masih di rahim?

saya akan tunggu kabarmu ketika sudah mulai dewasa
lalu kita akan bersapa lagi
mungkin di rahim kita dulu
atau dirahim kita sekarang
tapi jangan sampai di tabung inkubator

Makassar,2010

Jumat, 19 Maret 2010

Seperti Para Koruptor

Seperti Para Koruptor (part I)

ini bukan ramalan
tapi tahukah kamu, kalau kau mengambil uang 500 perak
dan itu bukan punyamu
kau akan dapat dosa

Seperti Para Koruptor (part II)

ayo sini
mereka saling diskusi
tak maukah kau mendengarkan percakapan mereka?
nanti teleponmu disadap lho
kau tak takut?
kau tak berpikir untuk saling suap-menyuap?
atau suap-suapan?

Seperti Para Koruptor (part III)

bunga itu layu
digedung yang kotak-kotak itu
selayu militansi mereka
sesayup mata penikmat tidur

Seperti Para Koruptor (part IV)

dasar bodoh
peduli apa saya?
istriku minta ke mall
anak saya mau permainan baru?
peduli apa saya bunga layu itu