Rabu, 17 Maret 2010

Jangan Menganggap Masalahmu Terlalu Rumit dan Karena Hidup Bercerita Tentang Kehilangan

Siang ini, seperti biasa, solat duhur saya lewatkan di mesjid kampus. Setelah solat, sambil duduk memakai kembali kaos kaki dan sepatu untuk segera beranjak,tiba-tiba saya berjumpa dengan teman-teman seangkatan yang masih berkutat dengan skripsi mereka. Kami langsung melakukan pembicaraan ringan. Saya sendiri cukup beruntung, karena telah menyelesaikan studi saya lebih awal beberapa bulan dibanding mereka.

Setelah bercerita, kemudian teman saya yang ikut bersama mereka tiba-tiba keluar dari mesjid dan berkata kalau tasnya hilang. Masyarakat kita, budaya yang masih primitif, homo homini lupus. Kelhilanagn barang, bahkan ditempat suci seperti mesjid. Sebenarnya, pengumuman berita kehilanagn itu telah saya dengar beberapa sebelumnya yang diumumkan melalui corong mesjid. Tapi saya sama sekali tak menduga kalau yang kehilangan itu adalah teman saya. Sejenak kami bercerita tentang kemungkinan-kemungkinan untuk mengatasi semua masalah itu. Karena masalah yang sangat parah adalah, laptop dan skripsi yang baru saja di tanda tangani oleh dosen pembimbingnya, serta semua berkas-berkas administrasi yang sangat lama untuk diurus lenyap begitu saja. Belum lagi, soft file untuk skripsinya, semua ada di komputer pribadi miliknya itu.

Beberapa lama merasakan keintiman dengan musibah yang sprektumnya juga mempengaruhi kami, kemudian, teman saya yang kehilangan dengan elegannya berkata “itulah hidup, semua pasti akan hilang”.

Harus kuakui, kalau sekarang adalah salah satu masa-masa sulit yang sangat membebani bagiku. Sehabis kuliah, walaupun predikat kelulusan yang memuaskan, tidak lantas menjadi jaminan kalau masa depan akan cerah. Apatahlagi standar yang saya inginkan untuk pekerjaan cukup tinggi. Walaupun telah ditawari pekerjaan, tetapi sebenarnya ekspektasi saya tentang pekerjaan sangat tinggi. Banyak orang yang mengatakan kalau saya adalah orang yang beruntung. Tapi kenyatannya, kepala ini tidak pernah berhenti berpikir tentang pekerjaan yang lebih bagus. Pekerjaan yang kuidamkan dan tentunya bisa membahagiakan dan membanggakan orang tua. Salah satu bukti kalau keinginan dunia tidak akan pernah ada habisnya.

Bisa dikatakan kalau sekarang ini, kegamangan adalah nada-nada yang menghiasi hari-hariku belakangan ini. Tapi hari ini, saya dapat pencerahan lagi. Tuhan akan selalu memberikan pelajarannya, dengan satu atau banyak cara. Kata-kata yang diucapkan temanku adalah kata-kata bijak yang selalu kita dengar. Tetapi, acapkali, sistem mental kita terlalu berfokus pada diri kita yang menjadi pusat gravitasi. Berpusat pada permasalahan-permasalahan pribadi, semacam autis. Kondisi yang selalu menjadi momok, yaitu harus dapat kerja, menjadi stimuli yang semakin memperparah ketidakstabilan emosiku yang biasanya lebih banyak dipendam. Hal ini membawa efek yang cukup buruk bagi saya. Merasa seolah-olah, sayalah yang punya permasalahan yang paling tidak diinginkan sejauh ini.

Saya sangat bersyukur, karena musibah teman saya yang tidak terjadi pada saya. Salah satu fitrah manusia yang tentu saja ingin yang baik-baik pada dirinya. Tapi kita (manusia) juga diberikan hati untuk berempati terhadap sesama dan mengambil pelajaran darinya. Kejadian ini memberikan sesuatu yang pasti pada diri saya, bahwa masalah apapun yang kamu hadapi bukanlah berarti bahwa duniamu akan kiamat. Sungguh sangat banyak manusia dilingkungan sekitarmu dan percaya atau tidak, mereka bisa saja memiliki masalah yang jauh lebih tidak diharapkan lagi. Bahkan banyak orang pada detik yang sama, ketika kita mempunyai masalah, kewarasannya perlahan-lahan mulai hilang akibat beban yang katanya unbearable lagi. Jika paradigma kalau masalah kita cuma kecil saja jika dibandingkan dengan orang lain dan merupakan fase-fase yang wajar yang harus dijalani dalam hidup, maka yakinlah kalau masalahmu itu bisa dijalani dengan sewajarnya, sesuai dengan usaha-usaha yang ekuivalen.

Kehilangan adalah kata yang sesungguhnya membuat seseorang menjadi dewasa dalam hidup. Kehilangan orang yang dikasihi, harta, teman, sahabat hingga kehilangan musuh sekalipun. Akan sama barangkali kalau semakin dewasa seseorang, maka semakin bijak dia bertindak. Tapi sayangnya, banyak orang yang dikatakan dewasa tapi sungguh tidak bijak. Memang batasan untuk dikatakan dewasa atau bijak sangat absurd, bahkan mungkin saja mustahil untuk diberikan batasan. Tapi anehnya, pikiran dan hati kita kadang-kadang berkata hal yang sama tentang standar-standarnya. Sebagai contoh, ketika kita mengatakan tentang Lao Tse, maka kebanyakan dari kita mengatakan kalau dia memang seorang yang bijaksana. Walaupun kita sama sekali tidak tau “sesuatu” yang menyebabkan seseorang dikatakan bijaksana. Sampai disini, kita dapat berkesimpulan kalau tak semua yang ada dan memperoleh pengakuan harus dapat dijelaskan secara eksplisit.

Kehilangan adalah takdir yang tak dapat dihindari. Jika engkau tak ingin kehilangan dan menyebabkan orang kehilangan sesuatu atas dirimu, maka kehidupan setelah mati adalah jawabannya. Tetapi bukankah, untuk menuju kesana, kamu harus meninggalkan dulu orang-orang yang mengenalmu di dunia ini yang berarti mereka telah kehilanagan dirimu. Jadi jawabannya, kehilangan adalah niscaya kalau begitu. Dengan kehilangan, manusia tampaknya menjadi sadar kalau apa yang mereka miliki selama ini adalah sangat berharga. Bahkan kadang-kadang, kehilangan harus menjadi satu-satunya cara.

Coba pikirkan baik-baik tentang nasihat agung nan adi luhung, ingat 5 perkara sebelum 5 perkara. Sehat-sakit; lapang-sempit; muda-miskin; kaya-miskin; hidup-mati. Bukankah pada hakikatnya mereka semua bercerita tentang kehilangan?

Seperti lirik lagu Melly G “bagaimanapun hidup memang hanya sebuah cerita, cerita tentang meninggalkan dan yang ditinggalkan”. Kita akan meninggalakan semua ini, oleh karena itu, kita diperintahkan untuk beribadah. Jika kita mengacu pada landasan-landasan ini, walaupun saya tidak berhak untuk memastikan, maka akan tercipta hidup yang jauh lebih baik lagi.

Orang yang membaca tulisan ini mungkin akan berkata, saya bisa menulis seperti ini karena saya tidak (belum) mengalami apa yang teman saya rasakan akan kehilanagan materi, usaha-jeri payahnya. Tapi setidaknya saya bisa menangkap hal-hal seperti ini dan menyadari bahwa ini adalah teguran sekaligus pelajaran bagi orang-orang yang mau sedikit saja peka terhadap kejadian-kejadian.

17 Maret 2010
memetolicious.blogspot.com

Selasa, 16 Februari 2010

Kisah Pagi Ini

maukah engkau kuceritakan kisah di pagi hari ini?
itu sama seperti kemarin-kemarin
bedanya,pagi ini saya sempat menulis, saya sempat berpikir tentang hidup

matahari masih secerah kemarin, walaupun ada awan hitam yang berak-arak
bedanya, pemikiran akan hidup membuat langkahku penuh kehati-hatian hari ini

hari ini bangun tidur, masih sama meneguk air tawar yang sama
bedanya, pagi ini bukan hanya ragaku saja yang sehat, tapi juga jiwaku

maukah engkau kuceritakan kisah di pagi hari ini?
kisahnya adalah, saya menulis kisah pagi hari di siang hari

masih seperti kemarin, bedanya, hari ini semua waktu kuanggap sama - slow with my pace -jangan terlalu buru buru- lakukan perenungan - ganti sedikit demi sedikit paradigma menyalahi diri sendiri karena terburu-buru waktu

pagi ini beda, karena dia berjalan lebih lambat

BONE, 17-02-10

Selasa, 12 Januari 2010

CURHAT CALON SARJANA

Mari mencari inspirasi, kreasi dan lahan yang begitu luas untuk melanjutkan idealisme kita. Membagi ide-ide kita ke orang lain! Kata ini …ah…seandainya engkau terpatri sejak saya masuk ke kampus ini. Atau, ketika saya masuk di manapun, tempat saya menuntut ilmu.

Sampai saat ini, kepercayaan akan meninggalkan warisan kepada orang lain adalah hal yang sangat saya cita-citakan dalam hidup ini. Saya percaya kalau saya mampu dan bisa berkreasi menghasilkan hal-hal yang nantinya akan bisa dimanfaatkan secara optimal oleh orang banyak. Tetapi pertanyaannya sekarang adalah, kapan saya bisa benar-benar memulainya? Saya tidak tahu kalau memang benar tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang bagus. Tapi kali ini, saya benar-benar mengangkat bendera putih sebagai simbol kalau saya telah kalah oleh waktu, kebodohan diri yang hanya mengikuti nafsu tuk bermalas-malasan dan kepuasan sementara yang melenakan saya dari tujuan saya yang lebih besar. Saya merasa terlambat dan gagal memanfaatkan semua oportunitas yang ada tepat didepan batang hidungku. Saya tidak suka dengan status quo kalau jadinya begini !

Diri ini kini baru sadar kalau sekarang dia telah mau menghadapi ujian mejanya. Wahai mahasiswa, tahukah kau apa artinya ujian meja itu? Ujian meja sebenarnya prosesi awal yang begitu halus yang perlahan-lahan mencabut statusmu sebagai MAHAsiswa. Ujian meja sebenarnya adalah awal dari gerbang yang akan mengantarkan kamu tuk melihat persaingan yang begitu keras diluar kampus. Gerbang untuk membawamu sementara menuju ke ruang tunggu para pengangguran sebelum betul-betul matang mendapatkan pekerjaan yang bagus atau melanjutkan studi ke jenjang berikutnya. Ujian meja adalah prosesi dimana kamu tidak hanya diuji, tapi mata kamu akan benar-benar terbuka untuk melihat tulisan di spanduk besar yang bertuliskan WELCOME TO THE REAL WORLD!

Dari situ, kini saya terus bercermin, apa yang telah saya lakukan selama berada di kampus ini? Apakah saya hanya sering berdiskusi alot dengan teman-teman saya yang tujuannya sebenarnya hanyalah untuk menunjukkan kalau saya telah banyak mengetahui kosa kata ilmiah, berdebat, atau merangkai kata dengan begitu apiknya tanpa betul-betul mau mencari kebenaran dan kesepakatan. Apakah saya hanya mengikuti kuliah semata dan bermasa bodoh dengan kehidupan diluar kuliah. Apakah saya hanya orang yang datang untuk memamerkan penampilan saya yang terbaru dan hanya have fun dengan teman-teman. Apakah saya adalah tipe orang yang hanya betul-betul banyak memusatkan perhatian untuk mengoleksi pasangan sebanyak-banyaknya sampai malah berbuat yang lebih dari hanya sekedar mengoleksi semata. Ataukahh saya adalah tipe mahasiswa yang datang, murni hanya untuk melengkapi status saya sebagai mahasiswa.
Kali ini perasaan saya kalut dan carut marut. Kalimat itu terus berdengung di kepalaku seminggu terkhir ini. “hei boy, apa yang telah kau lakukan selama kuliah? Adakah kau telah memberikan sesuatu yang cukup berharga?” ok. Sekarang mari kita lihat apa yang telah saya lakukan, balasku terhadap pikiran-pikiranku sendiri. Seperti inilah dialognya:

SAYA: Saya cukup akitf di organisasi-organisasi
PIKIRANKU: Belum, itu belum cukup, balasnya.
SAYA: Terus, saya punya IPK yang bagus.
PIKIRANKU: Berorganisasi tapi IPK masih bagus, masih belum cukup.
SAYA: Oh ya, saya sudah beberapa kali ikut di lomba nasional.
PIKIRANKU: Biasa saja boy, itu wajar kalau mahasiswa aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan nasional.
SAYA: Trus, Cuma ini senjata saya yang terakhir, kataku pada pikiranku – saya juga pernah aktif dalam kegiatan internasional. Apakah itu belum cukup?
PIKIRANKU: Itu juga bagus. Tapi tidakkah kamu berpikir kalau kamu belum memberikan sesuatu yang extraordinary selama berada di sini boy. Kamu itu egois, masih selalu mengurung ide-ide kamu di tempurung kepalamu yang keras ini. Coba lihat orang-orang besar yang telah membius pikiran-pikiran manusia, Nabi Muhammad SAW, Ahmad Dedat, Socrates, Bung hatta, JK. Rowling, Shakespeare, zakir naik, Nabi Ibrahim atau bahkan Mario Teguh kalu kau juga sepakat. Apakah menurutmu mereka mengurung pikiran-pikiran mereka? Kau tidak membagikan candu boy, sedangkan orang-orang besar itu berhasil membuatmu kecanduan. Kamu sudah memberikan saya jawaban kalau kamu itu sudah aktif kiri kanan di berbagai kegiatan. Tapi apakah itu yang lantas menjadi amunisi bagi mereka untuk melanjutkan hidup – kehidupan mereka dengan bijak? Pikiranmu itu belum sampai menembus sel-sel otak mereka ! camkan itu baik-baik. Sekali lagi, kamu masih belum menjadi candu, kamu masih belum menjadi kafein bagi mereka.

Seperti palu godam yang besar yang langsung menghancurkan sendi-sendi kesadaranku. Apa yang telah saya lakukan? Apa yang telah saya lakukan? Beribu-ribu kali kalimat itu memantulkan echo-nya di kepalaku tanpa bisa menembus tempurung kepalaku. Saya adalah setitik debu diantara mahasiswa di lautan universitas yang kerjanya hanya mengikuti angin. Saya masih belum bermetamorfosis sempurna. Belum. Masih sangat jauh malah. Dan saya tak tau kapan sampai bisa kesana. Kapan saya bisa buat buku? Buku apapun modelnya. Kapan saya bisa mempubikasikan tulisan saya di media-media yang pangsanya besar. Kapan saya bisa menjadi pembicara di seminar-seminar atau workshop. Kapan saya bisa menjadi orang yang membedah sendiri buku ciptaanya. Sampai pertanyaan ke 1001, pertanyaannya masih dimulai dengan kata “kapan”.

Melihat acara-acara di tv, membaca artikel seseorang di Koran-koran, membaca buku-buku, menonton film-film dan masih banyak daftar lainnya, saya dengan diri yang penuh kedunguan ini, kembali lagi disadarkan bahwa apa yang saya liat, baca, dengar,rasa, adalah “hasil karya” dari orang. Mereka sukses telah membuat saya menjadi konsumen yang setia. Saya tak menyadari, kalau sebenarnya, saya harus banyak-banyak meluangkan waktu tuk berkaya. Berkaya apapun bentuknya, yang bisa dinikmati orang banyak. Sungguh, mereka telah melenakan saya.
Besok sudah akan ujian meja. Dan diri yang dungu ini masih meratapi dirinya yang masih belum mencerahkan orang lain.

Selasa, 12 Januari 2010 pukul 08.22 WITA. H-1 sebelum ujian meja………….
Muhalim Dejes / metmet
Fb & Email: memet_buwanget@telkom.net

Sabtu, 18 Juli 2009

Kesembilan Syracusian


Sebelum menulis ini, saya masih saja heran dengan diri saya sendiri. Saya selalu bertanya-tanya, mengapa untuk menulis tentang kenangan bersama sahabat-sahabat saya sendiri rasanya begitu sukar, bahkan hampir tak ada ide. Rasa-rasanya waktu saya menuliskan puisi buat Ohioans menjelang keberangkatan mereka ke Indonesia begitu mudah dan begitu mengalir. Walaupun saya tidak bersama mereka, karena saya hanya melihat foto-foto, video dan membaca wall mereka di FB. Saya yang hanya bertemu para Ohioans waktu PDO di Jakarta dan bisa membuatkan mereka puisi. Tapi teman-temanku yang bersama selama 8 minggu sama sekali tak ada cerita yang bisa kubagi dan kugambarkan. Baru setelah 3 hari di kota tersayang (walaupun masik shock dengan segala kesemrawutan kota ini) baru saya mulai bisa untuk menuliskan mereka. Menuliskan segala apa yang bisa kutulis, apa yang bisa kembali kuingat.

-Saya mulai dengan ketua tim laki-laki. Namanya Bagus Handoko

Bagus handoko atau yang biasa dipanggil dengan nama Bhe atau B atau Bee(kalau ini sangat benar, karena dia bisa menyengat wanita dengan monyongnya yang tajam, sampai-sampai bunga Lavender pun tunduk dan layu dihadapannya). Saya masih tidak ada ide sama sekali apakah dia memang mempunyai jiwa kepimimpinan yang sejati atau tidak. Tapi saya tau bahwa pada awal-awal kami bersama dia, dia berusaha menjadi ketua yang penuh tanggung jawab dan berusaha menampakkan wibawanya. Semua hampir terkendali dan begitu bagus didalam kontrol dia. Saya pribadi merasa dia begitu bertanggung jawab ketika saya habis terjatuh di tempat ice skating karena berusaha mendorong Gunar (rasain lu met). Dia bilang, kalau saya menjadi tanggung jawabnya (walaupun dia harus meninggalkan si Lavender). Menemaniku tuk mencari shelter bus dan bersama-sama menuju ke dorm tercinta, Shaw Hall. Tapi kepemimpinannya mulai merenggang ketika dia benar-benar telah dimabuk cinta oleh si Lavender. Mulai tidak memenuhi komitmen, membatalkan acara seenaknya atau bahkan tak acuh dengan anggota-anggota dan kegiatan yang akan dilakukan (hahahahahha..peace bhe). Jujur bhe, saya begitu berharap pada malam terkhir, kita menghabiskan waktu bersama-sama dan saling curhat-curhatan , which is , we even didn’t get that opportunity until now. I really do hope it happen. Tapi sayang kamu sibuk dengan ‘bungamu’ , jadi tak ada yang koordinasi. Oh iya, I love ur sketches.. Keep dig ur talent.

NP: Hal terkonyol yang kamu lakukan adalah ketika kamu dengan PeDenya langsung keluar dari stage setelah nari Sajojo. Sapa suruh datangnya telat, jadi gak sempat ikut rehearsal. Week…

-Berikut adalah ketua tim perempuan. Namanya Rezky Khoirina Torihoran

Rezky atau yang biasa dipanggil dengan QQ sampai sekarang masih menyimpan misteri buatku..saya masih wonder, kok bisa kamu selalu menyelesaikan semua jenis tes dengan begitu cepat? Entah itu dikelas, Michigan atau TOEFL. Anak medan ini memang hebat. Tapi kadang-kadang orangnya lebay. Kalo menceritakan sesuatu kadang-kadang berlebihan..hahahahha. Cukup banyak make perasaan, khususnya kalo berhubungan ma lelaki (ooopssss). Makanya dia bisa cepat ‘suka’ ma si ‘onta’. (Saran saya ki, kalo jadi perempuan itu, jangan terlalu sering menggunakan perasaan kalo berhadapan ma lelaki, nanti bakalan gak enak lho).^_^. Kadang-kadang bisa jadi kasar sekali (ingat gak waktu kamu cubit Muhyin di kamar kami?). kamu juga suka me-romanticize everything.

NP: Saya tak tau kapan saya akan foto memakai bando sambil minum kopi di Starbucks.hahahahha.

-Yang ketiga adalah teman sekamarnya si Bhe. Donal Fariz

Ini dia presiden yang tidak berhasil meyakinkan konvensi kalau Indonesian Day itu tidak perlu,hohohohoho, dan the first offender itu adalah saya. Dia mungkin adalah orang yang paling dewasa diantara kami bersepuluh. Tidak terlalu suka bercanda, tapi kalu bercanda kadang-kadang jayus (buka gorden ruang mandi lelaki, cerita yang hampir lucu dan menarik handuk ketika saya benar-benar tidak menggunakan apa-apa). Teman abadinya si Muhyin. Donal itu orang yang kalau cerita selalu diperpanjang (dasar, mentang-mentang anak hukum). Orangnya juga biasa lebay ketika sudah berhubungan dengan pacarnya, sampai-sampai Laptop muhyin diboyong kekamarnya sampai pagi hanya tuk YM-an bersama sang kekasih hati.

NP: Hal yang berani yang kamu lakukan adalah pergi ke ‘kota terlarang’ dengan membawa dua gadis-gadis itu. Gimana perasaan kamu, ribet gak bawa dua tuh makhluk? (ki, jus, peace..!!!)

-Selanjutnya adalah teman kamar si QQ. Jusni

Anaknya semangat sekali dalam pelajaran, semua tugas benar-benar well prepared. Sampai-sampai dia mengkhianati saya dan QQ tuk ikut dekelasnya si Gery dan telat ikut latihan sebelum Indonesian day. Terkadang anaknya manja, cukup keras kepala dan kadang gak bisa baca situasi.hahahahha (kalo mau komen entar aja jus). Paling suka difoto tapi jarang mengambil foto orang :P. Orangnya cepat sedih kalau dapat nilai jelek dalam pelajaran. Lumayan cerewet, dan biasa bicara hal-hal yang gak penting dalam kelas (sampai Daniel bilang kamu lucu ^_^).

NP: harus konsisten dalam masalah percintaan (kamu tau kan maksudku..^_^)

-Yang kelima adalah teman abadinya si Donal : Muhyin

Kadang exciting skali kalau menemukan hal baru (just like me) dan suaranya juga kadang besar sekali kalau ketawa (sekali lagi just like me). Anak ini paling malas buka pintu kalau ada orang yang berkunjung ke kamar dan tidak bisa lepas dari chatting walau sehari. Katanya si Dendi sih, orangnya gak romantis, saya gak tau dia lihat dari sisi mana, tapi kayaknya benar deh. Kalau dia punya pacar, pasti dia gak romantis (hehehehe). Mukanya aneh karena tidak diterima di setiap ras bangsa apapun. Di Indonesia nggak, di cina nggak, di korea nggak apalagi di amerika. Punya kemampuan yang bagus dalam mengekpresikan kekesalan, karena dia langsung blak-blakan (tidak sama dengan beberapa orang yang kadang menyimpannya dalam hati). Selalu bilang lapar..lapar..lapar..tapi tidak gemuk-gemuk juga, justru yang tambah gemuk adalah teman sekamarnya. Barang bawaanya hampir mrngalahkan si gunar dalam segi ketidakefisienan, sampai-sampai bawa sendalnya 2 dan sepatunya 3 (tapi jangan khawatir yin, tissue yang kamu bawa berguna kok.hahahaha). suka stretch kalo bangun tidur sambil mengeluarkan suara yang tidak penting, apalagi kalau baru bangun pagi.

NP: Thanks telah menjadi teman sekamar yang baik. Saya tau pada akhir-akhir kebersamaan kita, hubungan kita agak renggang. Tapi itulah hidup. ~_^…still, I love u …muacchhhh.

-Daftarberikutnya adalah Ima fitriah.

Mmm….pusing mau mengambarkan ima seperti apa. Tapi yang jelas, dia itu orangnya introvert. Rajin tuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Orangnya juga begitu independen dan tidak terlalu suka dengan kami-kami kalau kebanyakan bercanda. Orangnya tidak muluk-muluk karena sukanya sama produk dalam negeri (looo..hayo..).sejauh yang saya lihat, Ima itu orang yang cukup pekerja keras.

NP: Masukan saya adalah, agar Ima menjadi pribadi yang lebih percaya diri, lebih terbuka dan flexible dalam pergaulan..:D. oh iya, ungkapkan apa yang mau diungkapakan, mumpung produknya barang lokal..hahahahhaa.

-Teman sekamarnya si Gunar. Dendi Wijaya

Jika bercerita tentang orang ini, maka akan ada beberapa soundtracks yang akan mewakili dirinya seperti:

  • Yuta..yuta yuta yuta..yuta yuta shimada…..2X
  • Berkibarlah, bendera negeriku (rambutnya terus berkibar)
  • Muka dendi jelek….

Sampai sekarang masih misteri bagiku, bagaimana caranya sehingga rambut Syracusian yang satu ini terus berkibar. Kebiasaannya juga kadang-kadang aneh, duduk sendirian di Bus atau duduk sendirian di dining hall. Orangnya enak diajak bercanda karena dirinya selalu ngeles dengan komen yang tidak terduga-duga. Tapi pas ketawa, matanya tidak kelihatan, entah disimpan di organ tubuh bagian mana. Pas senyum, bibirnya selalu dibuat imut-imut gitu, kadang-kadang bikin jijay deh :P . Dendi adalah tipe orang yang tidak ribet, orangnya simple dan bicara begitu bersemangat ketika sedang mengemukakan pendapatnya. Dia juga satu-satunya orang yang tidak pernah digosipkan jatuh cinta, menyukai dan disukai seseorang atau punya friksi antara sesama kesepuluh syracusian. Sampai sekarang saya tidak tahu alasan mengapa dia begitu jijik melihat saya menari konyol di depannya.

NP: Pelajaran yang paling penting yang saya ambil dari kamu adalah ketika masih di Jakarta, menjelang keberangkatan. Ingat soal keluhan saya kepada orang tua?

-Wanita yang paling dewasa diantara ladies-ladies. Umma Aula

Ini dia wanita tempatku curhat. Saya tak tau juga kalau dia bisa menyimpan rahasia atau tidak, tapi yang jelas keesokan harinya, temen-teman sudah pada tau kalau semalam saya sempat curhat ma dia (mudah-mudahan isi pembicaraannya tidak dibocorkan.amin...). Orangnya tidak macam-macam dan punya minat yang besar tuk jadi seorang psikolog atau motivator. Tapi kadang mulutnya tajam juga ketika menyindir seseorang…hehehehhe..walaupun sudah berusaha diutarakan secara halus. Tapi itu bagus ma, daripada membicarakan orang dibelakangnya :D. Tatapan matanya kadang-kadang menyebalkan, soalnya dia telah dikutuk dengan mempunyai tatapan mata yang sinis. Walaupun dia sebenarnya punya mata yang indah..(jangan GeEr mbk…).

NP: Terima kasih atas waktumu tuk dengarkan saya. Saya akan berusaha merubah diri lebih maksimal lagi.

-Yang kesembilan , yang terakhir : My Gunar. Dzulgunar Muhammad Nasir

My gunar, the best of mine. Saya punya banyak cerita tentang kamu. Kadang-kadang saya berpikir untuk mencoba menjadi diri kamu selama sehari karena saya mau mencoba melihat dunia dari sudut pandang Gunar. Gunar ini adalah orang yang paling solid diantara kami bersepuluh. Paling perhatian, lucu dan paling banyak ambil foto :D. Saya tau ada waktu dimana Gunar sepertinya kesal entah terhadap siapa atau terhadap apa. Tapi Gunar tak pernah (atau saya yang kurang bisa membaca) mengutarakannya. Gunar adalah orang yang begtiu telaten mengajarkan Tarian Saman kepada kami-kami orang yang begitu banyak bercanda. Terimakasih atas tarian yang indah itu. Oh iya, ada banyak kosakata baru yang berasal dari orang yang satu ini. Kosa katanya dikompilasikan dalam buku yang berjudul ‘Gunarism Dictionary’ (dapatkan segera di toko-toko gaib terdekat di kota anda). Ada beberapa soundtracks yang berkaitan dengan Gunar, diantaranya:

  • Mariama..mariama..ta’dundung ta’ta’ dundung….2X
  • aaaAAAAAaaa…UUUuuuUUUUuu….UUU (Jacko, Earth Song )
  • Baby I can see u hello, u are my saving grace……

Orang ini bagus sekali kalau dibungkus terus dipajang dan sekali-sekali diajak bicara kalau lagi bosan..(maafkan saya nar). Tipe wanita yang dia suka adalah wanita yang berpakaian sopan dan tak jauh-jauh dari daerah asalnya, yaitu tipikal wanita aceh. Saya dan Gunar punya lambing persahabatan, yaitu Squirrel yang lagi berlari-lari di taman kampus (trims atas video itu). Nama squirrel itu adalah Ranug dan Milahum. Mudah-mudahan pertemanan dan persaudaraan kita dapat terus terjalin seperti keakraban squirrel itu yang saling kejar mengejar. I love u so much…

NP: Hal yang paling berkesan adalah kebaikanmu pada malam menjelang keberangkatan menuju ke Indonesia. Waktu saya sakit kepala dan hampir muntah, kamu sibuk ambilkan obat dan bahkan bermalam di kamarku. I do appreciate it. Really…..satu lagi, nanti kapan-kapan insyaallah saya kirim kacang buatan mamaku. Mudah-mudahan bisa.

Kesembilan temanku, Kesembilan syracusian

Tak tau kapan bertemu lagi

Hanya melalui foto dan video saya bisa menggapai kalian

Ketika jauh dinegeri orang, kalianlah yang menjadi keluargaku

Terima kasih atas pelajaran yang diukir oleh kalian diatas kanvas hidupku

Kata Sheila, smoga kita bisa menjadi kisah klasik tuk masa depan

Kata saya, smoga perteman dan persaudaraan ini akan tetap terjalin

Walaupun kekejaman jarak memisahkan kita

Kata saya, kalian telah membuat lubang dihatiku ketika berpisah dengan kalian

Karena kata saya, kalian Syracusian-ku

Kalian irreplaceable…

Jumat, 03 Juli 2009

Masih Mencari

Pagi ini masih menggenggam pasir, dan pasir itu terus mencari celah tuk lari dari genggamanku; mulai dari sela-sela jemari antara kelingking dan jari manis; hingga antara jari telunjuk dan jempol.
Kemudian akan ada keputusan apakah saya berhasil tuk menggenggamnya atau justru banyak melepaskan pasir-pasir itu.

Pagi ini masih melakukan kesalahan yang sama dengan yang kemarin. masih belum tau caranya tuk membuatnya lebih solid, agar tak lepas dari tanganku. sekali lagi, saya tak pernah dan buruk dalam melakukan persiapan..kadang saya berpikir, kalau upaya tuk mempersiapkan sesuatu, juga merupakan salah satu bakat yang tidak dmiliki semua orang.termasuk saya.

Siang ini. Kembali lagi menengok tangan kananku yang terisi dengan sangat sedikit biji-bji emas yang begitu halus, yang sangat gampang lolos dari kepalan tanganku. saat di mesjid, kemudian merefleksi kembali, kenapa tangan kiri ini lebih giat dalam mengumpulkan pasir daripada butiran emas di tangan kananku?saya selalu merasa terpukul ketika butiran-butiran pasir selalu lari menyelundup dari tanganku, tapi jarang terpukul jika hal yang sama terjadi pada butiran-butiran emasku.

Siang ini, masih dengan refleksi-refleksi.kemudian, moment 'aha' datang lagi.berbincang dengan teman yang mengatakan kalau saya adalah orang yang berbakat tuk tidak dibenci, lalu dia berbincang tuhan. tuhan baginya tidak ada, dan dia tidak pernah menemukannya.dia bertindak sangat ramah,sopan dan tak pernah menyakiti orang lain..tapi dia berpikir bahwa apa yang dia lakukan sama sekali tak ada unsur campur tangan tuhan di dalamnya.dia berbicara dengan begitu polosnya.

Malam ini berharap semangat bisa kembali, karena saya punya tujuan. teman saya tadi menggenggam banyak pasir ditangan kirinya tadi pagi, tapi dia tidak punya apa-apa yang digenggam di tangan kanannya. ingin rasanya memperlihatkan ke dia kalau sekarang saya menggenggam butiran emas di tangan kanan saya. tapi saya takut dia justru menyalahartikan tindakanku itu.ingin rasanya tuk sama-sama menggenggam emas. tapi sulit, karena kami hampir berpantomim.jangan-jangan, yang terjadi nanti justru distraksi.dan itu susah tuk menjelaskannya melalui catatan, karena dia sama sekali tidak tau persis apa yang ia cari dan apa yang tangan kanannya akan dia ambil.

Masih terus mencari dan menyeimbangakan antara 'tau' dan 'gerakan motorik'.
masih terus mencari cara jitu menyeimbangkan antara 'emas' dan pasir'.
masih terus mencari cara menemukan 'minat'.

Allah SWT selalu memberikanku teguran.
Dia memberikan rantai kejadian hari ini.
Rabb yang maha berkuasa dan berencana.

Malam ini bukan alasan tuk mengabaikan isi genggaman tangan kanan dan kiriku.
besok juga bukan.



Bumbu-Bumbu di Sini (Syracuse,10 Juni 09)

Saya mulai dengan bumbu yang pedas:

Kali ini, saya tidak bisa bergerak, terpaksa mata saya dibuka..perasaannya itu bagai orang yang hanya 2 jam tidur lalu dipaksa bangun...lalu mengejar ketertinggalan...
Itu yang saya peroleh disini...sadar diri kalau kita secara individu dan orang-orang secara kolektif sesungguhnya punya banyak kekurangan. Saya harus menerima bahwa saya adalah pembelajar yang lambat dan kebanyakan mengeluh. Saya tak tau, kemana selama ini ilmu yang telah saya pelajari..benar-benar pukulan telak...
Saya yakin, banyak pepatah yang bisa menggambarkan pengalaman ini.

Berikut adalah bumbu yang hambar dan pahit:

Berada ditengah-tengah manusia yang memiliki beragam corak warna kulit, pemahaman atau cara kami mengucapkan kata-kata dalam bahasa inggris yang berbeda. tapi ketika kami tertawa, kami melakukan ekspresi yang sama.ketika kami tak paham dan kesulitan menjawab, ekspresi kami hampir sama.
ya, betul kalau manusia dimana-mana dasarnya sama.berada disini membuat mataku benar-benar terbuka sekarang.
tapi mengapa sebagian mereka tidak memiliki tujuan? (baca: katakanlah,mereka tak tau Tuhan mereka)। sangat betul kalau ini kali pertama saya bisa berbincang dengan orang yang tak beragama. sangat betul kalau dinegerikupun, saya banyak mendengar tentang hal-hal tersebut. tetapi kenapa pada saat saya tau, hati saya bergetar?dan itu bergetar karena merasa miris.sedih.hatiku bagai ditumpahkan cuka.

Bumbu yang asin:


Saya pada dasarnya suka asin, jadi mari berbincang asin sebelum bicara yang manis.karena dimanapun, manis sepertinya disukai dimana-mana.
sekarang sudah canggih, manusia sudah bisa buka youtube atau menggunakan google.kita bisa melihat hal-hal yang sangat jauh dari kita langsung dari kamar kita.
tapi ini adalah ini. dan saya berada dis'ini' sekarang.
lagi-lagi, tak henti-hentinya saya petik banyak hal disini..
okelah, kalau negeri ini individualis dan punya pajak yang tinggi. tapi disini kamu akan melihat bangunan yang tertata rapi, supir bus yang sangat bertanggung jawab, atau orang yang akan sekedar berkata 'how are u doin'?
saya sampai merasa 'gemes' melihat negeriku sendiri. tapi sebenarnya untuk mengubah, jawabannya pun klise. kembali lagi ke kesadaran warganya..kita bakal kembali lagi ke 'pendidikan'. ke 'self awarness'.
katakanlah kalau memang mereka kekurangan 'spriritual' (tak perlu ditanggapi bahwa saya menjustifikasi seenaknya). tapi mereka secara sosial sangat beradab.mereka tak sungkan-sungkan menahan pintu agar orang yang dibelakangnya bisa lewat, atau mereka bekerja dengan sangat professional. bahkan mereka mengadopsi ajaran agamaku dengan mengatakan 'blessing you' ketika saya bersin.
Cerita lain lagi ketika saya bertanya ke anak kecil yang ibunya orang indonesia dengan menanyakan tentang makanan yang tidak disentuhnya dengan mengatakan 'u don't like it?' dan kemudian secara mengejutkan (bagiku), dia menjawab,..'not for me'....saya kira kita semua sepakat kalau kata-kata yang diucapkannya tidak hanya menjawab pertanyaanku, tapi juga mengandung etika, tidak menyinggung bahkan sesuai dengan ajaran agama kita yang mengajarkan kita untuk selalu berkata yang baik-baik.

Bumbu yang manis:


Bumbu yang manis saya peroleh dari akumulasi bumbu yang pedas, hambar, pahit dan asin. walaupun harus begadang tuk kerja tugas setiap hari. tapi secara keseluruhan, disini manis. saya tidak hanya punya teman dari berbagai penjuru nusantara. tapi saya punya teman yang berbicara arab, kyrgist, cina, atau jepang. saya telah berada di ruang pesawat yang membawa waktu yang tak jelas,,,beberapa jam yang lalu baru subuh, tapi beberapa jam kemudian telah sore. saya berada di salah satu daerah dingin di negeri ini.saya ke best buy dan nonton play (opera).saya sholat magrib jam 8.30.saya makan banyak ice cream dan strawbery. saya pake ID Card yang bisa dipake makan dan masuk ke hall.pake koneksi internet yang sanagt cepat.berada dalam tabble manner yang beda, atau tradisi toilet yang beda.
saya ketemu muslim dari banyak negara.

Disini 'manis'.......

Kamis, 10 Juli 2008

APA YANG DIPEROLEH DARI BERITA KEMATIAN




Yang katanya sempurna karena akal budinya. Yang katanya sempurna karena sebaik-baik makhluk. Yang katanya (dan sebenarnya) bereksistensi karena diperintah untuk beribadah. Yang katanya selalu dualis, baik atau buruk.

Manusia. Alam ruh, dunia, alam kubur, alam barzah. Bagi yang sedang membaca ini, maka alam yang kedua adalah tempatnya. Tersusun secara rapi, takdir manusia memang tidak dapat diganggu gugat. Manusia ditempatkan di bumi. Bumi yang telah ditentukan baik buruknya. Bumi yang memediasi alam kedua maupun alam ketiga. Jika seseorang berpindah dari ranah kedua ke ranah ketiga, maka manusia yang lain bisa merasakannya. Manusia yang lain bisa merasa menang. Manusia yang lain bisa bersedu sedan. Manusia yang lain bisa menjerit histeris. Manusia yang lain bisa menjadi lebih arif. Manusia yang lain bisa lebih khusyuk dalam beribadah. Lebih paham dengan dosa dan amalannya. Lebih paham tentang takdir.

Semua akan menuju kesitu, karena hidup ini sentrifugal, bukan sentripetal. Hanya masalah waktu. Kita menabung usia kita pada celengan yang tidak elastis, tidak bisa ditawar-tawar dan ditambah volumenya. Dimana tiap anak manusia memiliki ukuran celengan sendiri-sendiri. Tapi kita terkadang lalai, selalu menabung, tanpa memperhatikan apa yang ditabungnya itu memang berharga sebagai modal yang akan dibawanya kelak, kurang, atau tidak sama sekali. Kita pada umumnya tidak sadar melihat apa yang kita tabung, dan berapa nominalnya dalam satu koin usia. Padahal ukuran celengan kita sendiri belum diketahui sama sekali. Karena celengan itu absurd.

Ketika kematian dekat dengan manusia, maka yang hadir adalah interpretasi beragam. Memang sudah ajalnya. Memang orang baik, jadi mati muda. Memang sudah tua. Memang orangnya yang cari mati. Memang orangnya yang tidak jaga kesehatan. Memang terlalu berbahaya jika orang itu masih hidup. Dan masih banyak memang memang yang lainnya. Ada saja pemikiran yang timbul. Ada saja hati nurani yang terketuk. Kematian menjadi pelajaran bagi sebagian yang lain. Karena hidup kadang mengaburkan pelajaran-pelajaran berharga yang seharusnya kita petik. Sedangkan kematian yang singkat bisa menjadi sangat berarti. Karena dia datang tanpa memperhatikan stratifikasi sosial, harta, waktu, kelompok, jumlah SKS yang telah diselesaikan, gelar, dosa, jenis kelamin, amalan, agama, dst dst. Kematian memberikan gambaran bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan kembali kepada pemiliknya, melalui jalan yang tidak diduga-duga.

Menjadi buruh adalah proses. Menjadi rektor adalah proses. Menjadi ulama adalah proses. Menjadi mati juga adalah proses. Semua makhluk hidup akan mati. Dia itu bukan kemandekan dan bukan tahap menuju reinkarnasi. Karena dia jembatan menuju kekekalan. Mengingat peristiwa kemarin, ketika dua hal yang kontras terjadi. Ketika teman saya yang dipanggil ke pangkuan-Nya, dan ketika saya menghadiri pesta pernikahan teman saya pada hari yang bersamaan. Almarhum meninggal menuju ke kehidupan yang baru. Kedua mempelai juga menuju ke kehidupan yang baru. Semuanya adalah proses. Bedanya, ketika kita mati, kita tidak dapat berbuat amal-amal kebajikan lagi karena celengan kita telah penuh. Tidak ada lagi cengkrama, Stukom, diskusi, shalat, makan siang, atau pergi ke Malioboro. Almarhum dimandikan dengan air tawar, tidak mandi sendiri di air asin pantai Kuta. Tidur di dalam tanah, bukan diatas tempat tidur kapal Labobar. Tidak pula bertiga tetapi sendiri. Tetapi dia menjadi pelajaran berharga bagi kami yang masih hidup. Hidup dalam rel yang belum pasti menuntun kearah mana.

Hidup dan mati. Yin dan Yang. Baik dan buruk. Hitam dan putih. Harum dan busuk. Benci dan sayang. Semua akan dialami. Kematian adalah proses. Kematian itu transformasi. Kematian itu pelajaran. Kematian itu anomali.

Kugambarkan lukisan itu di kanvas yang tak bertuan, ya, karena saya melakukannya pada semua orang
Kulukiskan ruang waktu ini dalam bentuk yang absurd, dalam bentuk yang relatif
Adakah kematian dapat ditawar atau ditunda. Adakah kemungkinan saya hidup seribu tahun lagi.
Ataukah benar bahwa hidup ini hanya bagaikan kedipan mata.
Melalui belati ini banyak yang menggunakannya karena sudah muak.
Melalui samurai ini akan dilakukan hara-kiri demi kehormatan
Tetapi saya memilih untuk tinggal. Tinggal dan mengingat. Tinggal dan beribadah.
(teruntuk teman/sahabat yang telah menuju ke haribaan-Nya. Teruntuk satu tapi bermakna. Almarhum Ishak Umar)
Rabu 9 Juli, 2008