Minggu, 02 Februari 2014

Ilmu yang Bermanfaat

Alangkah mulianya seorang yang mengajar dengan niat tulus untuk berbagi ilmu kepada para murid-muridnya. Kita selalu mendengar kata-kata yang heroik tentang guru, bahwa mereka adalah pahlawan. Dengan menjadi guru berarti kita akan mendapatkan amal jariyah—amal pahala dalam agama Islam yang akan mengalir terus walaupun orang tersebut telah mati. Saya pun selalu mengafirmasi diri sendiri bahwa profesi guru adalah profesi yang mulia, kita bisa berbagi ilmu, bisa mencerdasakan dan yang paling penting katanya adalah keuntungannya dobel: dunia dan akhirat.

Di suatu pengajian yang saya hadiri, seorang Ustad saat itu sedang membahas dzikir pagi-petang. Salah satu dzikir yang biasa dibacakan mempunyai arti yang seperti ini: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal perbuatan yang diterima (di sisiMu). Beliau mengatakan bahwa Rosul sering berdoa untuk diberikan ilmu yang bermanfaat ini. Ustad tersebut kemudian bertanya kepada kami para jamaahnya “apa itu ilmu yang bermanfaat?.” Tanpa menunggu jawaban dari kami karena memang pertanyaan tersebut adalah pertanyaan retoris, beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang semakin mendekatkan diri kita kepada Rabbnya, semakin membuat kita mengenal Tuhan dan agamaNYa. Jadi ketika ada suatu majelis ilmu, walaupun majelis ilmu agama sekalipun, tetapi tidak semakin mendekatkan para murid atau santrinya kepada Allah tapi justru membuatnya semakin menjauh, maka ilmu tersebut bukanlah ilmu yang bermanfaat dan justru patut dicurigai kesahihannya.

Lantas apa saya ini? Apa yang selama ini saya lakukan? Apa yang selama ini saya pelajari? Bermanfaatkah ilmu yang telah saya pelajari? Bermanfaaatkah ilmu yang telah saya ajarkan? Adakah ilmu saya telah membuat murid saya lebih dekat kepadaNya? Adakah ilmu yang saya pelajari membuat saya lebih dekat kepadaNya? Pertanyaan-pertanyaan ini langsung mencuat di kepala saya.

Kemudian saya sepenuhnya sadar bahwa tidak ada jawaban yang lebih baik terhadap pertanyaan mengapa banyak orang pintar tetapi keburukan-keburukan malah tumbuh subur selain jawaban ini: ilmu yang kita ajarkan sebagian besar tidak membuat para penuntut ilmu mengenal Allah, mengenal Tuhan semesta alam, mengenal penciptaNya.
Saya orang yang begitu kagum dengan para penuntut ilmu, para guru yang kaya akan karya dan prestasi. Membaca artikel-artikel penelitian membuat saya sadar bahwa betapa giatnya si akademisi ini, betapa tangguhnya, betapa cerdasnya dan betapa beruntungnya ia bisa memberi kebermanfaatan kepada orang lain. Membacanya membuat saya menyadari betapa waktu mereka sangat produktif, usia mereka tidak dihabiskan dalam kesia-siaan dan idenya berkontribusi bagi masyarakat dan bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Tapi ini semua pada awalnya saja. Semakin lama saya menyadari bahwa ini semua tidak membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Saya tidak mengatakan bahwa ini sia-sia sama sekali, tetapi untuk dikatakan bermanfaat (menurut standar sang Pencipta kita) sama sekali belum. Ambillah contoh hasil penelitian yang pada akhirnya secara umum sifatnya tidak konklusif dan jika diterapkan pun umumnya tidak semakin membuat orang-orang berperilaku baik dan memahami makna kehidupan dalam setiap denyut aktivitasnya. Sebagai ilustrasi, apa yang telah kita lakukan dengan hasil penelitian (ambillah contoh) berbagai metode pengajaran yang dianggap baik? Jawabannya adalah kita mempraktekkannya dalam proses pengajaran kemudian kita teliti lagi karena ada kekuarangan, kemudian diimplementasikan lagi, tapi karena ada kekurangan lagi kita kemudian teliti lagi, begitu seterusnya.

Jangan salah sangka dulu. Tentu saja ini semua tidak sia-sia. Dengan melakukan penelitian dan mengimplementasikan hasilnya akan memberikan kemudahan bagi para manusia. Dengan metode pengajaran yang baik, guru akan dapat mengajar lebih baik. Dengan menjadi guru yang lebih baik, maka anda kemungkinan akan memiliki jenjang karir yang lebih baik lagi. Tetapi dampaknya sampai disini saja, karena memang yang dipuaskan adalah otak dan tidak menutrisi hati nurani. Pada akhirnya hanya akan berada pada level “tidak sia-sia”, karena dampaknya tidak membuat si pembelajar mengenal kebaikan hakiki karena mereka tidak mengenal sang pemilik kebenaran hakiki tersebut. Padahal kalau kita mau jujur, setiap ilmu, dengan menggunakan wawasan dan kreatifitas yang kita miliki, bisa membuat murid semakin dekat dan kenal sang Penciptanya. Mengenalkan ajaran-ajaranNya, mengenalkan sifat-sifatNya, mengenalkan apa yang telah diciptakanNya, dst. Semua ilmu bisa, karena bukankah alam ini sendiri adalah ayat-ayat Allah juga? Jadi tidak ada alasan untuk tidak bisa mengenalnya. Yang harus dilakuakan hanyalah kita hanya harus membuatnya eksplisit. Kita hanya harus membuatnya eksplisit.

Ketika kita membahas tentang elektron dan proton dalam pelajaran Kimia, kita bisa menghubungkannya dengan keMahaBesaran Allah yang telah menciptakan hampir segala sesuatunya berpasang-pasangan. Ketika kita mengajarkan greeting seperti “good morning”dalam pelajaran Bahasa Inggris, kita bisa menjelaskan perbedaan salam dengan yang diajarkan agama Islam bahwa salam itu terlepas dari peralihan waktu dan bahwa salam itu adalah doa supaya diberi keselamatan dari sang Maha Pelindung. Dalam pelajaran Fisika, kita bisa menerangkan keMahaAgungan Allah yang telah menciptakan tatanan semesta yang begitu sempurna, tidak saling berbenturan satu sama lain. Dalam pelajaran sastra, kita bisa memberikan beberapa penggal ayat Quran yang memiliki bahasa sastra yang sangat agung. Sebelum memulai pelajaran kita bisa memulai dengan doa terlebih dahulu guna menekankan bahwa ilmu, akal, kecerdasan yang kita miliki adalah pemberian dariNya. Kesemuanya bisa kita hubungkan untuk lebih mendekatkan dan mengenalkan Allah kepada murid-murid. Cuma yang menjadi pertanyaan adalah, maukah kita melakukannya?

Saya harus mengakui bahwa sayapun masih sangat canggung dalam melakukan ini semua. Sebagai dosen pusat bahasa yang mengajarkan Bahasa Inggris, saya masih merasa enggan melakukannya disebabkan oleh prasangka buruk saya jikalau nanti para mahasiswa saya akan menganggap saya dosen yang sok “ngeustad.” Alangkah buruknya diri saya ini yang justru malu menghubungkan pelajaran dan mengajarkan agama kepada para mahasiswanya. Padahal dengan mengajarkan Allah—dengan menggunakan strategi pengajaran yang baik, akan mendekatkan para mahasiswa saya dengan kebaikan, karena mereka mengenal sang pemilik kebaikan itu sendiri. Dan bukankan nyawa inilah yang telah hilang dari pendidikan kita?

Saya semakin menyadari mengapa Rosul sering meminta ilmu yang bermanfaat saja dan berlindung dari ilmu yang sia-sia.

FB: Muhalim Dijes
@memetolicious

Sabtu, 21 September 2013

BerISLAM Kok Gak PeDe?

Suatu hari saya pernah dengar seseorang berujar seperti ini “Ber-Islam kok gak pede.” Ah... jleb sekali ucapan itu. Langsung membuat saya malu dan terus bertanya-tanya dalam hati “jangan-jangan saya begitu?”

Kebanyakan dari kita adalah muslim. KTP muslim, orang tua muslim, tetangga muslim, teman kantor muslim, atasan muslim. Muslim dimana-mana. Tapi pernakah kita amati kalau kita semacam inferior memiliki idenditas sebagai seorang muslim. Malu kalau celananya dianggap kebajiran, atau merasa agak aneh dengan seorang perempuan yang bercadar, kesannya menakutkan gimana gitu…

Saya pernah mendengar seorang teman dosen yang menceritakan pengalamannya waktu di Belanda. Waktu itu dia lagi diajak oleh seorang muslim dari Indonesia yang sudah menetap disana untuk ikut pengajian. Kebetulan jarak antara kota tempat dia tinggal dengan orang yang ngajak pengajian tersebut cukup jauh. Terus si dosen itu ngomong gini “aduh tau kan ya, kotanya jauh gitu terus disuruh ikut pengajian, gak banget kan. ” Hambooiiiiiii…

Ada nada bangga dalam kalimatnya. Bangga kalau pengajian itu sesuatu yang ‘nggak banget.’ Ada nada merendahkan dalam kalimatnya. Merendahkan keutamaan mentadabburi Quran. Ada nada inferiority complex dalam ucapannya. Inferior dengan ilmu agama Islam.

Sadar atau tidak sadar, kita sudah terlalu banyak dijejali dengan pandangan-pandangan hidup yang gak sesuai dengan pandangan hidup Islam (terus mungkin ada yang nyeletuk dalam hati, ah si penulis gak progresif, ah si penulis basi, ah si penulis ini pasti muslim fanatik, dan anda bisa melanjutkannya sendiri….). Yang kita baca, kita tonton, kita alami, kita dengar, kita liat panutannya kebanyakan adalah produk pemikiran dan barang fisik yang sekarang dimenangkan oleh barat. Hal ini dilakukan melalui jalan yang tidak langsung menghajar agamanya, tetapi melalui penanaman pondasi berpikir ala-ala barat (nyeletuk lagi?). Contohnya nih, prinsip relativisme dan kebebasan berpikir. Melalui ideologi ini, absolutisme dan otoritas dalam Islam terus digerus yang implikasinya adalah perombakan secara perlahan-lahan ajaran agama, karena disesuaikan dengan interpretasi pribadi-pribadi yang tidak punya otoritas. Padahal kalau mau direnungkan lagi, tidak ada sesuatu yang sepenuhnya relatif atau bebas, mengingat paham ini pun akan mengklaim salah orang yang tidak berpikir relatif dan bebas. Dengan kata lain, relativisme dan kebebasan itu sendiri adalah kemutlakan.

Pandangan hidup-pandangan hidup ala barat seperti ini jumlahnya sangat banyak, yang perlahan-lahan mulai mengakar pada masyarakat. Sebagian orang tidak mengakui hal ini karena memang mereka sebenarnya gak sadar jika pola-pola pemikirannya sudah terbentuk mengikuti pola-pola paparan informasi dan pengetahuan yang diterimanya baik melalui proses belajar (sadar) atau melalui pengalaman (tidak sadar).

Pernahkan kita berada disuatu acara dengan peserta yang mayoritas muslim, kemudian pas waktu sholat fardhu telah masuk kita berniat untuk meninggalkan acara guna pergi ke masjid. Kemudian dalam hati kita berpikir, “ah, nanti saya disebut orang yang sok” atau “ah nanti saya disebut pamer” atau “ah saya gak enak dengan teman yang gak biasa sholat jamaah di masjid, nanti karena saya, dia merasa gak enak lagi”, atau pemikiran-pemikiran yang semisal. Padahal dalam kegiatan tersebut hampir semuanya muslim. Pernahkah kita merasa sungkan mengatakan ‘Assalamu’alaikum’ ketika menyapa seseorang, ketika ingin masuk di suatu ruangan, atau ketika ingin bertanya kepada seseorang yang kita tahu jika orang tersebut muslim dengan pikiran-pikiran seperti “ah, nanti saya dianggap sok nge-ustad lagi.” Atau pernahkan kita malah menghindari saling menasihati dalam kebaikan dengan alasan takut dicap sebagai orang yang lebay? Padahal kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang MAYORITAS muslim? Bukankah sangat aneh ketika kita mempunyai identitas yang sama tapi kita justru malu menonjolkannya?

Selalukah kita bepikir “ah, yang penting humanisme.” Yang penting update info. Yang penting berkasih sayang. Yang penting jadi orang yang supel dan diterima di banyak kalangan. Yang penting berprestasi. Yang penting ikut trend.

Tapi pernahkah kita berpikir “pokoknya hidup sesuai sunnah.” Pokoknya saya berkhlak baik dan beradab. Pokoknya saya berteman dengan orang yang soleh. Pokoknya saya berilmu. Pokoknya paham agama.

Untuk berkompromi dalam pergaulan, kita biasanya mengikuti standar yang sebenarnya kita sendiri tidak tau dari mana. Kritis biasanya hanya berada dalam ruang-ruang kelas ketika mengkaji suatu ilmu, sangat eksklusif. Ketika kita sudah berada dalam konteks pergaulan, nilai-nilai yang ada tidak dikritisi, tidak difilter. Semua ingin ikut diadaptasikan tanpa ada nilai-nilai yang tetap. Agama tidak “berhak” berada di ruang pergaulan. Alasannya toleran. Toleran dengan pemeluk agama lain sih sah-sah saja. Lah, ini toleran kok sesama muslim? Sampai kadang-kadang “malu” menunjukkan identitasnya. Ini toleran atau bentuk ketidakpercayaan diri?

Ujung-ujungnya memang adalah ilmu. Kita sudah sangat jauh dalam ilmu dan sayangnya kurang mau memperdalam ilmu agama dengan alasan mau menjadi biasa-biasa aja atau dengan alasan takut menjadi fanatik dalam beragama. Lagi-lagi standarnya masyarakat umum yang kurang mau menuntut ilmu. Intinya, mari beragama seadanya.

Saya muslim, dan sekarang saya tidak pernah merasa risih lagi jika seseorang menelanjangi saya dengan tatapannya ketika melihat celana saya yang sedikit diatas mata kaki. Masalah akhlak bisa diperbaiki, yang penting konsisten dan mau menjalankan sunnah. Mungkin bacaan Quran kita sangat jauh dari sempurna, tapi jangan pernah merasa gak pede menunjukkan bahwa saya seorang muslim. Jangan merasa takut untuk tidak diterima dimasyarakat. Jangan karena kita ingin dikatakan gaul, supel dan toleran, sehingga mengorbankan kebanggaan beragama.

Oh iya, saya lupa. Saya mau mengatakan bahwa dosen tersebut berasal dari salah satu universitas Islam yang terkenal.

Malam Minggu ~
@memetolicious


Minggu, 05 Mei 2013

Mengapa Berprasangka Baik itu Baik


Bagi sebagian orang, hidup dijaman seperti sekarang ini seperti buah simalakama. Ketika dihadapkan pada suatu kondisi dimana mereka harus berinteraksi satu sama lain baik dalam keadaan setara maupun tidak setara dalam hal otoritas dan kekuasaan, prasangka akan selalu mengambil tempat mulai dari awal hingga akhir dari proses hubungan. Runtuhnya adab dan akhlak di satu sisi akan membuat orang selalu mengenakan tameng curiga, judgmental, skeptis atau bahkan tameng tuduhan. Sedangkan menurut resep-resep langgengnya suatu interaksi atau kunci dari pengharapan yang baik, dilain sisi, bergantung pada prasangka yang baik.


sumber gambar

Akan banyak kita temui orang-orang yang melihat orang lain dari kacamata mereka. Kita akan selalu menemukan orang-orang yang bias, sibuk dengan pikiran dan prasangkanya masing-masing. Mereka menerka-nerka dan menebak dan pada akhirnya akan mengambil kesimpulan sendiri. Tetapi tentu saja di sisi lain kita bisa menjumpai orang yang jarang berkomentar, hanya menyunggingkan senyum, menghindari perdebatan, tidak menceritakan keburukan-keburukan manusia dan pada akhirnya selalu mengambil ibrah/pelajaran dari suatu kejadian.

Memikirkan ini, saya kemudian selalu berkaca dan berpikir. Saya selalu mendapati momen dimana saya selalu bertanya-tanya “kenapa orang tersebut sampai bisa berpikir seperti itu tentang saya?”, atau dengan pertanyaan “dia tidak mengetahui apa yang ada dipikiran dan hati saya, tapi mengapa dia begitu judgmental terhadap saya?” Pikiran-pikiran seperti ini selalu muncul dan lucunya kita jarang berkaca kalau bukan hanya kita yang punya pikiran seperti ini, tapi semua orang punya. Ya, SEMUA ORANG.

Maka ketika kita bertanya-tanya, orang lain sesungguhnya juga selalu bertanya-tanya. Masih kurang sadarkah kita akan hal ini? Ketika kita tahu bahwa kita tidak ingin orang lain berpikiran buruk tentang diri kita karena ketidaktahuannya akan apa yang ada di hati dan pikiran kita, tentu saja akan sangat aneh kalau kita yang justru melakukannya kepada orang. Kita tidak ingin selalu dituduh oleh orang lain, tapi tidak sadar ketika menuduh orang lain. Membuat pola-pola, berspekulasi, berandai-andai, dan membuat skenario sendiri.

Kecuali hal yang sifatnya hakiki, yang bersifat tuntunan dari ajaran agama, maka sangkaan buruk manusia tidaklah dianjurkan untuk dikembangbiakkan. Agama adalah pembeda antara yang haq dan yang bathil, maka ketika sesuatu dikatakan jelek, maka jeleklah iya. Ajaran agama tidak boleh di relatif-kan. Kalau agama sudah relatif, maka percuma manusia beragama.

Dalam Islam dikatakan bahwa Allah berkata “ Aku adalah apa yang disangkakan oleh hambaKu.” Sehingga disini jelas, dalam hal qada’ dan qadar, Allah sudah menyiapkan yang terbaik bagi manusia. Manusia bisa membuat banyak proposal, tapi Tuhan-lah yang akhirnya menentukan. Selama proses menunggu, prasangka yang baik adalah bahan bakar untuk kesabaran. Ketika proposal kita sudah dijawab, prasangka yang baik pula yang akan menjadi tempat berkonsultasi. Mari, mari coba berpikir. Mari, mari coba lihat sekitar kita kalau hubungan yang palsu selalu penuh dengan sangkaan yang buruk. Senyum yang palsu tidak akan pernah meresonansikan kehangatan, yang sprektumnya tidak sampai ke ruang-ruang di hati.

Prasangka yang baik akan menciptakan pribadi, lingkungan bertetangga, lingkungan kerja, lingkungan bisnis, bahkan pemerintahan yang baik. Prasangka yang baik akan mempunyai kesan abadi, bahwa pribadi yang berprasangka hidupnya selalu bahagia, dipenuhi dengan harapan-harapan dan tindakan yang mengundang kebaikan. Prasangka yang baik akan menjaga hati dan menjaga lidah.

Itulah mengapa berprasangka baik itu baik.


@memetolicious

Sabtu, 20 April 2013

Delusi-Akar-Bunga

Delusi
Kemudian bulan juga diam
Dalam senyum setelah memakan buah yang ranum
Di suatu balai
Membelai

Bahkan surya tidak mempan
Panasnya, teriknya,garangnya
Dalam senyum setelah memakan buah yang ranum

Tapi tiba-tiba bulan tak tampak
Keringatku bercucuran
Tak ada sisa buah
Tak ada senyum

Delusi: ternyata ini yang benar

Akar
Kemudian sampai pada kesimpulan
Kalau ranum butuh akhlak yang harum
Jangan bermimpi dulu ke balai
Jangan mimpi dulu dibelai

Maka saya akan membuatnya kokoh
Terpancang memanjang
Menjadi pribadi
Abadi

Akar: jangan melangkah dulu sebelum benar-benar kokoh

Bunga
Kemudian akan kau dapati
Sebelum buah yang ranum
Warna-warni, wangi-wewangi
Bunga yang muncul satu persatu

Bukan hanya mata tapi juga lebah
Bukan hanya menarik tapi juga harum
Maka kemudian akan kau dapati
Kebermanfaatan

Dalam banyak episode
Kau akan bergumul dengan luka

Bunga: kau punya ini, maka luka tak bisa melukaimu

Minggu, 03 Februari 2013

Bersahabat Dengan Lupa dan Bermusuhan Dengan Syukur


Liburan kuliah semester satu saya kemarin kuhabiskan di Balikpapan. Alasan memilih kota ini adalah karena dorongan dari orang-orang yang saya kenal yang sudah pernah kesana. Saya mengenal beberapa teman yang pernah dan sedang bekerja disana, dan saya juga memiliki beberapa keluarga yang sudah menetap disana. Disamping itu, karena impian saya untuk menjelajahi kota-kota di Indonesia, dan berhubung saya juga belum pernah ke pulau Kalimantan, maka saya memutuskan pergi Balikpapan.

Disana saya tinggal dirumah kontrakan teman saya dan juga beberapa hari di rumah keluarga saya. Teman saya ini seorang lulusan S1, pegawai tetap PLN disana. Sebut saja namanya Madi. Dengan tingkat pendidikan dan kemampuan yang dia miliki di awal tugasnya dia telah mendapatkan posisi sekertaris manager dan sering menangani proyek-proyek. Sudah menjadi rahasia umum kalau PLN merupakan BUMN yang karyawannya memiliki gaji yang cukup lumayan untuk standar gaji orang Indonesia. Madi punya gaji pokok 4,2 juta perbulan. Jika ditambah dengan proyek-proyek yang dia tangani dengan honor Surat perjalanan Dinas (SPD), maka dia bisa mencapai angka ±10 juta untuk gajinya selama sebulan. Gaji sebulan yang menurut saya cukup banyak untuk standar lulusan S1, apalagi status dia yang belum berkeluarga. Ketika dia menjemputku dibandara dan mentraktir makan 2 piring nasi goreng plus 2 gelas jus, dia harus merogoh kocek sebanyak 115 ribu rupiah dengan entengnya. Biaya yang saya bisa gunakan untuk makan selama 8-9 hari hidup di Malang.

Saya sendiri sedang mengenyam pendidikan S2 Pendidikan Bahasa Inggris, seseorang yang insyaAllah akan menjadi guru atau dosen Bahasa Inggris. Sejak kuliah S1, saya sudah memutuskan untuk menjadi seorang akademisi. Dengan tugas utama sebagai seorang pendidik, kita tahu bersama bahwa gaji pokok seorang dosen PNS baru di Indonesia yaitu 1,8 juta rupiah. Gaji akan naik secara berkala setiap 2 tahun. Pangkat akan naik tiap 4 tahun dan gaji ikut naik. Kalau sudah memiliki jabatan edikatif dia akan ada tambahan tunjangan dosen, tunjangan transport, dll. Kalau sudah 3-4 tahun bekerja, pendapatan kurang lebih Rp. 3 juta. Berapa gaji pokok seorang dosen dengan gelar Ph.D golongan IIIB di Indonesia? 2,7 juta!!

Sekarang kita coba kembali lagi ke teman yang saya tadi. Sewaktu saya bersama Madi, dia sempat mengerjakan proyek selama 4 hari. Dengan proyek itu, dia mendapatkan honor untuk SPD sebanak 1,6 juta. Sewaktu saya mendengarnya, saya langsung berkomentar kalau itu hampir setara dengan gaji sebulan seorang dosen PNS baru. Sebulan berbanding 4 hari, sebuah perbandingan yang terdengar ironis ditelingaku. Seharusnya dengan gaji yang seperti itu ‘pasti’ Madi biasa bahagia, jika parameter kebahagiaan memang dengan uang. Tapi ternyata tidak.

Pada awalanya ini mungkin akan terdengar terkesan membanding-bandingkan. Membanding-bandingkan gaji, membanding-bandingkan rejeki. Tapi ini sesungguhnya bukan inti dari tulisan ini.

Ternyata apa yang saya temui sama saja. Cuma dia mengambil bentuk dan tempat yang berbeda. Dengan gaji sekian sekian dengan status yang masih bebas, keluhan demi keluhan, kejenuhan demi kejenuhan ternyata juga datang silih berganti. Madi yang saya anggap agamanya cukup bagus berkeluh kalau terlibat dalam proyek-proyek itu riskan dari sisi tanggung jawab secara moral dan agama, karena banyaknya ‘permainan’ dari berbagai pihak. Beberapa kali dia juga bercerita kalau atmosfir kerjanya tidak cukup sehat, sikut sana sikut sini. Pada suatu kesempatan yang lain dia juga mengatakan kalau sebenarnya dia tidak cocok menjadi orang lapangan, menjadi pengawas dan bertanggung jawab akan ketuntasan suatu proyek. Bahkan dia sempat mengatakan kalau saat itu dia sedang berusaha mencari cara untuk ditempatkan di wilayah, di kampungnya sendiri, di kota Makassar. Katanya tak mengapa gaji lebih sedikit, yang penting dia bisa ‘aman’.

Madi ini bukan berarti tak pandai bersyukur. Kondisi-kondisi diatas adalah kondisi yang niscaya ada dalam hidup dimanapun kita berada. Dengan segala yang dimiliki maka belum tentu kita akan terhindar dari masalah-masalah, keluhan-keluhan atau kesedihan hati.

Oh iya, ada satu hal lagi yang saya belum ceritakan. Madi ternyata lebih mempunyai tabungan yang banyak ketika bekerja di salah satu perusahan kontraktor di Makassar dengan gaji dua jutaan. Dengan gajinya sekarang yang berkali-kali lipat dari gaji sebelumnya, ternyata tidak membuatnya bisa lebih berinvestasi untuk masa depannya. Pola hidup dan lingkungan akan sangat mempengaruhi pengeluaran-pengeluaran keseharian. Kadang, secara otomatis kita akan terpaksa atau mungkin dipaksa mengikuti situasi. Demikian pula Madi. Kita mungkin saja berimajinasi kalau kita jadi artis, pasti tabungan kita akan banyak, jadi kaya. Tapi kalau kita lihat, ternyata artis punya banyak sekali tuntutan yang harus dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan yang nampaknya harus dipenuhi agar bisa diterima dalam dunia keartisan. Sebelum jadi artis, membeli tas di pasar umum atau digerai yang banyak dikunjungi masyarakat biasa bisa saja menjadi hal yang jamak. Tetapi setelah menjadi artis, tampaknya membeli tas yang murah atau kualitasnya standar akan menjadi hal yang keliru, karena namanya juga artis, pablik figur, jadi barang-barangnya umumnya harus bagus atau harus mahal. Ketika kita sama-sama pernah setara maka kita hidup dalam tuntutan kesetaraan itu. Ketika salah satunya tiba-tiba naik level, maka yang dibawah tiba-tiba merasa bahwa kebahagiaan yang diatas lebih banyak, karena levelnya sudah tinggi. Padahal, dilevel yang tinggipun, kita juga dituntut supaya bisa setara di level tersebut. Ah... membingungkan sekali masalah setara menyetarakan ini.

Inilah yang mungkin dikatakan kalau kita selalu fokus pada apa yang dimiliki orang lain tapi kurang menyadari akan berbagai kecukupan yang telah diberikan kepada kita. Atau malah, kita tidak memaksimalkan penggunaan apa-apa yang sudah kita miliki. Kita selalu memutuskan untuk bersahabat dengan lupa dan bermusuhan dengan syukur.

Percaya bahwa tiap-tiap kita sudah ditentukan bagiannya masing-masing adalah prinsip yang sebenarnya kalau kita pegang teguh akan membuat kita senantiasa bersyukur dan merasa cukup. Sepanjang kita sudah berikhtiar dan berdoa, maka yang kita lakukan hanyalah tinggal tawakkal. Bagian kita tidak akan tertukar karena yang mengatur adalah yang menciptakan kita, bukan rekan kita yang mungkin selalu kita curigai. Kekeliuran kita adalah, karena kita menggunakan standar adil dari makhlukNya, dan kita gunakan juga kepada yang menciptakan kita.

Orang yang berada diatas akan selalu tampil menarik dan menggoda, sebaliknya yang dibawah selalu jarang menarik perhatian kita dan membuat hati kita tergerak. Jika kita tidak tergerak dengan melihat berbagai kekurangan orang lain atau tidak merasa kasihan dengan orang-orang yang kurang beruntung maka ini sungguh bahaya sekali, karena berarti hati kita sudah mengeras—ada yang salah dengannya.

Saya dan kamu beda, maka kebahagiaan kita juga beda. Kita kebanyakan lupa bahwa kebahagiaan adalah hak bagi tiap-tiap kita. Dengan membandingkan, maka berarti kita telah memutuskan untuk lupa. Selalu saja ini berakibat dengan rasa mengasihani diri yang membuat kita seolah-olah selalu tidak beruntung, selalu tidak beruntung. Dan ini tentu saja membuat kita seolah-olah kebahagian orang lain bagiannya sangat besar dan bagian kita hanya secuil dari punya mereka. Kita memutuskan lupa bahwa dengan usaha yang keras dalam usaha-usaha yang baik kemudian berserah diri adalah proses yang baik. Kita memutuskan lupa bahwa semua sudah ditulis dalam kitab bahwa kalaupun gunung-gunung dijadikan emas, itu semua tidak akan pernah memuaskan hasrat manusia. Karena tampaknya kita selalu merasa nyaman hidup dalam pendapat orang lain menurut standar orang lain dan lupa akan ruang dihati yang sebenarnya bisa kita isi dengan kebahagiaan kalau kita memilih untuk bersahabat dengan syukur.

@memetolicious

Minggu, 20 Januari 2013

Religious Potluck

One of the prominent figures of Liberal Islam Network (JIL), Ulil Absar Abdalla in his tweet once said that people should be pickup in embracing their religion. This shows how liberalists feature their bungling mindset rather than their sagacity.

The freedom of religion that is blown from the liberalits inevitably has successfully been consumed by the public because of massive propaganda, disseminated mainly through mainstream media in Indonesia. This freedom of course yield multi-interpretation as it does not demarcate any scope of which area we are considered to be free and which area are not in manufacturing any new concepts of religion. When one religious sect appear and be embraced by particular group, liberalists tend to justify their existence no matter how scholars of one religion have firmly said if that religious sect is a blasphemy.

Ironically, many liberalists in religion are too cowardly to be the true liberalists. Ok, we know if liberalists always have an issue in term of making definition. To make the definition of “true liberalists” clear (and to make it clear if I am not a liberalist), then we can say if the true liberalists are those who completely allow people to do their beliefs or their rituals as they want. This is based on the definition of liberal itself: allowing changes, not exact, and so forth. While they labeled themselves as liberalists, they somehow push aside the basic principle of liberal. Liberalists also embrace certain values and react if other particular groups perform their faiths. Thus, liberal in nature as what they demonstrate is also stick with particular values or views which definitely betray their beliefs. If liberalists tolerate every changes and appreciate whatever people do, so they also must do the same thing to all groups justly without discriminating the groups in which they think conflict with their ideas. In brief, liberal is an ideology full with delimitations.

In in Indonesia, we can see the peculiarities of liberalists’ thought through social media twitter. In many occasions, many liberalists who involved in JIL publicly dare to mock and play with the teachings of ulama Ahlussunnah. What they do essentially reflect the ways of which how most western people view their religion; deify their reasoning, question almost all existing teachings and principles, believe if everything should change and rely too much on their capabilities. It has become a public consumption if the activists of JIL once questioning about the finalization of of the Prophet Muhammad (PBUH), likening kissing between non-muhrim man and woman as an alms, supporting LGBT, promoting muslim and non-muslim marriage and many other ignorant statements.

If Ulil advocated people to perform religious potluck in his twitter, accordingly, he violated one of the fundamental things of liberalism—respecting the right of others. If liberalists do not mind and even support the existence of particular religion harraser in the name of freedom of expression or human rights or freedom of speech or the like, so it won’t really make sense if they instigate people not to be devout in practicing the teachings of their religion. For what reason they accept one idea and reject others if their basis—as what they always exaggerate—is upholding invidual freedom. What is wrong of being obedient? being devout? or being pious? It is obvious if they will confront those who are not compatible with their beliefs. Making clear if their liberal ideology is not manifested within their practice as well as their theoretical concepts.

Allah Azza wa Jalla has explained ushul (roots of jurisprudence) and furu’ (branches of jurisprudence) in Islam. Islam has rules of etiquette and an ethical code involving every aspect of life. Muslims refer to Adab as good manners, courtesy, respect, and appropriateness, covering acts such as entering or exiting a washroom, posture when sitting, and cleansing oneself and so on so forth. Islam has also rules in Akhlaq, referring to the practice of virtue, morality and manners in Islamic theology and falsafah (philosophy). Therefore, there is nothing that humans need—impinging the life in the world and hereafter, but has been explained explicitly and implicitly in Quran. If one questions: “is there any explanation about performing shalah 5 times a day in Quran?” the answer is, Allah Azza wa Jalla has explained in Alquran if we must follow all teachings of the Prophet Muhammad (PBUH) both his statements as well as his modelings [An-Nisaa’: 80]. We must take everything the Prophet (PBUH) has offered, and leave everything He has forbidden [Al-Hasyr: 7]. So it is clear if Sunnah from the Prophet (PBUH) have been shown by the Quran, because Sunnah belongs to the revelations, taught to the Prophet (PBUH) from Allah Azza wa Jalla [Hadist Narrated by Abu Dawud]. Islam is perfect, no more increments as wells as decrements, Muslims are obligated to follow [Al-Maa-Idah: 3].

The isolation between religion and mundane matters are not necessarily proposed by anyone include Ulil, because Muslims have never had traumatic experiences in their religions. Muslims now are being seduced to leave their religion from many parties and it comes from many angles. Muslims have no history as regards tortures in religion unlike any other religion. The idea of liberalism, pluralism and secularism which are not originated from Islam are forced inserted to the teachings of Islam.

A devout Muslim is considered to be extremist, stick-in-the-mud, stodgy, conservative or whatsoever you name it. These beliefs are propagated through giant mass media. The liberal or progressive people, who are not pious, are pictured like sweet candies. The popular incitement is we are no longer live in the past so we need to move on. Use your religion, but not being too much. This concept of religious potluck is not obviously in line with the teaching of Islam. Islam has regulated everything so every Muslim should take it as a whole, not merely take the pieces of what he likes. No overdose in islam, and now it is the time to be proud as a Muslim.

Wallahu a’lam Bishshawab.
@memetolicious

Minggu, 06 Januari 2013

Share The Gravy of Your Soup to Your Neighbor


Once I had a Pre Departure Orientation (PDO) for the English short course scholarship in the USA in 2009. One of the speakers was Mr.Agoes, the husband of the director of the foundation which provided the scholarship. One of his statements that I noticed in my mind up to now is when he said: many people in developed countries now are advanced in almost all apects of life. From education, technology, entertainment and so forth. But they miss one aspect, the collectivism. That statement suddenly alarmed the memory of my family. I was in a sudden remembered my mother.

I grew up in a humble family. I could study, all my siblings could study, but none of us lived in opulence. My father is only an ordinary civil servant who made money less than 2 millions in a month. In Indonesia, It was really hard to bear 8 childern with that sum of money. Therefore, we used to have a stall to support our financial condition. Every child has his/her own job. I did not play much with the children in my neighborhood because I and my other siblings had to help my mother.

Inspite of living in such condition, my mother always taught us to be thankful and also to be openhanded. I really remember when one time in a fasting month (the month when all moslems fast for the entire month in Ramadhan), my mother made a traditional food called ‘kolak’. It’s made from steamed banana with sugar palm gravy. We would eat that as a break fast meal. She only made it in a medium pan and I thought if it was enough for us. Taking into account if many of us were fasting at the time, I never thought if my mother would share that kolak to our neighbors. I saw her put the kolak into two bowls and she asked me to bring them. I saw if my mother put much gravy into those bowls, but not much banana in there.

At first, I said in my mind if my mother was not necessary to give it to my neighbors because we did not make much of it. Moreover, I thought that my mother just gave them 2 bowls of kolak gravy instead of kolak itself. But next I realized if the core point of it is all about ‘giving’. My mother did not try to satisfy them, but my mother tried to share her joyness no matter how little she could share. Then a beautiful proverb resounded in my mind: giving gifts to the people who you know will erase spite among you.

Nowadays, people are like living in their own lives. The life is mine. Not yours, not his, not theirs and not ours. That we are connected each other, is the important principle in this life. Since what we have gained would be impossible without the involvement of others, we should have realized that we need to live together. I crave a future where someone will share even only the gravy of his soup to his neighbors. I believe if poor people have a bit rights from our wealthy. Let us imagine a world where every neighbor pass out a bit of what they have, to other neighbors. There will be no hunger and war. There will be no resentment and envy. People will no longer make any prejudice with other believers, other races and other tribes, that are different from them.

I am afraid that all sophisticated stuff today has been dehumanizing the society of the world. Education apparently can not satisfy morality in one of the cavities in the human’s heart. People are probably going too far for searching happiness and do not realize if they can make a start from the nearest place namely ‘neighbor.’ Better future of the world is not far from us.

Having seen my mother’s sincerity to share what she has to the others, I decided to do my own. I started to create a better future by giving out all that I can share to the people in my surroundings. I become a regular donor in one orphanage in my vicinity. On the other occasion, I always become a speaker regarding my experince living in USA with university students and guide them in pursuing any scholarships as well. For I am an English teacher, I always give an extra time to my students to improve their skills in English freely. Currently, I also become one of the volunteers for vision impaired people in one foundation in my city. I has to pass out this remarkable value that has been modelled by my mother. If one day I have nothing left, I do not mind to only share the gravy of my last soup.

muhalim/@memetolicious

Rabu, 08 Agustus 2012

Redefining Liberal Islam Network

Liberal Islam Network, or in Bahasa we call Jaringan Islam Liberal (JIL) has scattered its propaganda among moslems in Indonesia. The tenets of Islam liberal are being developed through the battle of ideas which hesitate almost all status quo that have been accomplished by ulama (moslem clergyman).

The history of JIL will not be regarded in this essay nor its proponets nor its opponents. Rather than looking back at the history of the incredulity of religions in western people which became the seed of pluralism, secularism and liberalism, we will probe liberal Islam Network from its terminology.

Allah SWT, the God of Moslem, the only one God in Islam has chosen the best name of religion ever: Islam. Islam itself means submission/obedience. This refers to the basic concept in Islam which make human worship nothing but Allah. In broader sense, Islam refers to the submission or obedience of human towards all teaching that had been brought by prophet Muhammad (PBUH). The core of teaching are exctracted both Quran and hadist.

If you ask Islamic liberalists, what their base in interpreting Islamic teaching, they will of course answer Quran and hadist. But what make them different from mainstream moslem is their boldness in understanding Islam and all its pertinent tenets. They said if all people have the same right to interpret this religion. Apparently, we shall not wonder with this because they have declared themselves as liberalist. According to Longman, liberal means: 1.willing to understand or respect the different behavior, ideas etc. of other people and the other definition; 2. supporting or allowing changes in political, social, or religious systems that give people more freedom; 3. not exact.

Summing those definitions above up, the word liberal itself can be replaced to the single word ‘freedom’. Understanding or respecting the different behavior, ideas and so forth likely sounds ‘good’ not to mention ‘sophisticated.’ But what is wrong with difference? What is wrong with changes? What is wrong with freedom?

The aforementioned Islam definition supposedly closes all the door of ‘liberal’ lexis to be side by side with ‘Islam’ lexis. If you free doing anything, it means that you are not being obedient or submissive. The liberalists seem to compel these two opposite words to be put altogether as one naming. Islam which means submission, moreover, reflects its teaching from its name. All orders, obligations, rules and so forth so on, have to meet with submission criteria.

Liberal term opens free interpretation, therefore it doesn’t match with obedience or submission criteria no matter how hard we try to find justification. If every individual can interpret a religion according to his/her own version, there will be no obedience there because everything will be tentative and arbitrary. Even though the dumb one who cannot even differentiate between Quran and Hadist can worship his/her god according to his/her style. So, to what degree the liberalists can put ‘Islam’ and ‘liberal’ if the nature of these two words conflicting each other? To what extent every person can interpret his/her religion? And what is exactly Islam Liberal?

Muhalim/@memetolicious is the actuator of Indonesia without Liberal Islam Network (#IndonesiaTanpaJIL) chapter Makassar
You can also visit on: makassarmoveon.com

Minggu, 27 Mei 2012

The Miracle of Sholat



Many sources have provided us the remarkableness of sholat. Sholat is scientifically proven salubrious for our body our mind. In this writing, I will try to give another perspective of the miracle of sholat. An extraordinary experience of mine.

I once have an unforgettable experience with sholat. When I was the fourth or the fifth grader (I forget the actual time), I had fighting with my little brother who was still studying in the first grade of primary school. He was a spoiled and definitely a naughty kid :D. We fought all the time, but on that day, our fight is unusual. The climax of our fight was a tragedy for me. My little brother suddenly grabbed a tiny-sharp stick out of nowhere and sticked my left knee nearby its joint. My blood bursted out. I panicked, my brother panicked and it was worsened when I saw the stick. I noticed if that stick only left one third of its length. I looked for another cut on the ground but I didn’t find it. I touched the prick on the side of my left knee and I felt like a clod.

Form the first time, I was suspicious if the rest of that stick was stuck in my left leg. When I saw a local doctor in the local clinic and told him the whole story, she said that it was only a clod of blood (since then, I never believe doctors 100%). It is because I strictly belive if there was a cut of stick nearby the joint of my left knee. And that doctor only gave me antibiotic medicine (hei DOCTOR! Don’t you see that jutty, huh?). Thus, I and my parents decided to see another doctor. I saw a spesialist and we agreed to do a little surgery.

After performing the surgery, I felt relieved for a while. But on the next day, I doubted if that specialist doctor had done the surgery flawlessly. When I touched the area of the prick, I could still feel a jutty (and it ofcourse worsened my perception about doctors). I told my parents but they said if that was probably a clod of blood. But I was not really sure for that.

And where is the shalat? Here I go…

Fortunately, I have been growing in the middle of a family who is obedient to performing sholat. Since I was kid, my parents insisted me to do sholat five times a day. This becomes a well-grounded base for me. No matter either in a sickness or in a good condition, I am completely understood if sholat is a must. After that incident, I was crippled for about one week. Islam teaching says, if you cannot perform sholat in a standing straight up position, then you can do it in a seated position. If you can not sit, then you can lie down. If you are anguished that make you feel a very severe pain, then you even still have to do sholat even by the movement of your eyelids. Sholat is an obligation which has no any compensation. A moslem is freed from performing sholat under two conditions: either he/she is insane or he/she is unconscious.

For several days, I did sholat in a seated position. Until one night, I decided to do sholat in standing position. I obviously could not stand perfectly with my left leg. My leg could not stand upright. I remember, at the time I was doing sholat Isya, the last sholat in a entire day. When I was getting up from my prostrate, all of a sudden, a stick came out from the area of the prick at the left side of my left knee. I stopped my sholat. I took it bit by bit and the length was just unexpected. It was longer that I thought. Unbelievably, no blood in there! The stick was just as dried as it never stayed in my flesh!

I showed it to my parents and I did my sholat again.

Rabu, 25 Januari 2012

Renungan Sepeda

Banyak orang yang bilang kalau tempat yang paling sering orang merenung adalah toilet. Sembari melakukan hajatan, kita kadang mengisi waktu dengan semedi. Ya, semedi.

Bagi saya lain lagi. Momen yang paling sering saya gunakan untuk merenung adalah ketika bersepeda. Itulah salah satu alasan mengapa saya suka bersepeda. Saya selalu bisa memperhatikan bahwa hidup ini memang benar-benar dinamis. Saya terbiasa melihat pemandangan yang kontras ketika bersepeda dan membuat saya benar-benar nyaman. Berjalan kaki terlalu lambat dan jarak tempuhnya pendek. Naik sepeda motor justru akan terlalu cepat. Dengan bersepeda, Saya selalu memperhatikan dan menjadi sadar kalo kita manusia sedang bergerak cepat.

Saya senang sekali bersepeda di sekitar hertasning baru dekat rumah saya karena pemandangannya yang sudah saya sebutkan tadi, Kontras. Karena kawasan ini adalah kawasan yang sedang berkembang, maka kita akan menemui banyak bangunan baru dengan setting lahan sawah dibelakangnya. Kita akan menemui beberapa rumah panggung yang sudah lusuh diantara perumahan-perumahan kelas kakap dan kelas menengah. Efeknya benar-benar dramatis.

Ketika bersepeda, saya selalu berpikir, hanya dalam waktu kurang dari 5 tahun mulai dari pembuatan jalan raya, perubahan yang terjadi sudah seperti ini. Bagaimana dengan sepuluh tahun kedepan? apakah para petani disitu akan menjual semua lahannya kepada pihak yang membeli paling tinggi dan beralih mencari pekerjaan yang lain? Apakah semua pemandangan hijau yang hari demi harus mengalah dengan timbunan tanah dan akan berganti menjadi pemandangan rentetan bangunan-bangunan beton? Saya tak tahu, tapi saya punya kecurigaan besar dan sangat kuat akan hal-hal tersebut.

Saya selalu heran dengan zaman informasi ini. Apakah informasi tentang banjir dan tanah longsor tidak cukup menjadi pelajaran bagi kita sekalian semua. Apakah sudah separah inikah kaum bermodal kita. Tak punya lagi empati dan simpati kepada alam. Apakah memang pemimpin kita akan terus-terusan menutup mata. Ada usaha-usaha yg biasa dilakukan pemerintah kita, tapi kebanyakan usaha-usaha yang minor. Katanya menanam seribu pohon, tapi. Ternyata tidak ada pemeliharaan terhadap pohon-pohon yang telah ditanam. Semua terasa sebagai penuntasan agenda semata. Nah sekarang yang salah ini sebenarnya siapa? Informasi atau orangnya?

Manuasia atas nama kepuasan tentu saja akan melakukan berbagai cara untuk memenuhi nafsunya. Eh maaf, maksud saya hanya sebagian manusia. Kita selalu melihat potensi ini. Potensi untuk tidak pernah puas. Akibatnya eksploitasi alam dibenarkan untuk pemenuhan hasrat-hasrat kita. Kita lupa membaca kitab-kitab suci kita yang mengatakan kalau telah terjadi kerusakan di laut dan di daratan akibat ulah manusia. Kita amat menghargai hak-hak kita sebagai manusia bahkan selalu over dosis dan kemudian melupakan kewajiban kita untuk menjaga alam. Atau kita melupakan hak alam itu sendiri.

Nafsu ada yang baik dan ada yang jahat. Mengikuti manusia tidaklah disarankan, karena sudah dikatakan kalau manusia adalah makhluk yang pelupa. Beda dengan para nabi atau para bijak bestari yang juga manusia. Tapi bedanya, mereka manusia spesial. Manusia super. Manusia yang sudah multidimensi. Mereka selalu berguru dengan alam, dan tentu saja dengan wahyu-wahyu tuhan yang diturunkan kepada mereka. Mereka adalah manusia yang tangguh, yang kontras dengan manusia kebanyakan di sekitar mereka.

Pilihan akan menjadi sulit dengan lingkungan yang tidak mendukung. Orang bermodal tentu saja akan berkompetisi dengan sesama mereka, sesama pemodal. Para santri di suatu pondok pesantren biasanya akan berlomba-lomba dalam menghapal Alquran. Para artis tentu saja akan berlomba-lomba dalam tampil secantik dan seganteng mungkin. Seorang mahasiswi tidak akan terlalu pusing memikirkan tas Donini yang dipakai oleh seorang selebriti, karena ia tak bergaul dengan selebriti itu. Dia akan berkompetisi di lingkarannya. Jadi lingkungan tentu saja berpengaruh besar terhadap apa yang menjadi target kita. Apa yang menjadi cita-cita kita.

Lagi, bersepeda disekitar rumah membuat saya selalu bisa melihat hamparan sawah yang hijau. Saya bahkan bisa melihat orang-orang menanam sawah dengan begitu rapih dan telatennya. Hijau itu memang baik. Hijau itu memang menyegarkan. Tugas sawah selalu sangat sederhana. Tumbuh berkembang menghijau, kemudian menguning dan menghasilkan padi. Membuat kita iri melihat sawah yang tak pernah iri melihat tetangganya, lingkungannya. Sangat beda dengan kita yang telah menjadi manusia-manusia administrasi, manusia-manusia birokrasi, manusia-manusia yang terikat dengan aturan-aturan formal. Tugas kita juga sangat kompleks karena ditambah beban posisi, harga diri, ingin dipuji orang dan hidup dalam persepsi orang lain. Tugas sawah sangat sederhana dan dia tak pernah melupakan tujuannya untuk apa dia hadir.

Selain meratakan perut saya yang semakin buncit, saya juga dapat bonus merenung dari bersepeda. Dan saya sangat menikmatinya :D

Catatan Evernote saya yang kedua
memetolicious.blogspot.com

Jumat, 20 Januari 2012

Mengapa Banyak Wanita yang Melepaskan Jilbab



Mengapa banyak wanita yang melepaskan jilbab? Ini mungkin pertanyaan yang biasa tersimpan di benak kita. Disini saya akan mencoba membahas masalah ini berdasarkan pengalaman saya dengan teman-teman saya.

Saya dulu berkuliah di universitas muhammadiyah makassar. Dikampusku ini, setiap mahasiswinya diharuskan untuk mengenakan jilbab. Banyak yang memang sebelum masuk kampus sudah berjilbab, dan banyak juga yang tidak mengenakan jilbab sebelum masuk di Unismuh (Universitas Muhammadiyah Makassar). Untuk yang golongan kedua tadi, tidak mengherankan kalau pas ketemu diluar kampus, mereka akan berbusana tanpa jilbab mereka. Mereka selalu beralasan kalau mereka menggunakan jilbab di kampus untuk mematuhi peraturan semata, bukan keinginan sendiri. Tapi yang cukup memprihatinkan, biasanya perempuan yang memang telah mengenakan jilbab sebelum masuk kampus akan ikut-ikutan juga untuk berbusana tanpa jilbab ketika berada diluar kampus. Mereka ikut-ikutan dengan teman mereka.

Salah satu alasan yang paling sering kita dengar ketika seseorang tidak berjilbab adalah bahwa mereka belum mendapatkan hidayah. Atau, katanya, mereka belum mendapatkan dorongan dari diri mereka sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah apakah ada yang mengetahui kapan datangnya hidayah? Hidayah dalam agama adalah perkara yang gaib. Datangnya tidak dapat diantisipasi atau dikenali. Maka kalau anda berdalih menunggu hidayah, maka anda mengetahui perkara yang gaib, sedangkan perkara yang gaib itu bukan milik manusia. Kemudian mereka berdalih juga bahwa mengenakan jilbab itu harus datang dari keinginan diri sendiri. Disini kita harus kembali lagi melihat posisi kita sebagai hamba. Kita adalah makhluk yang hidup dalam sunnatullah, hidup dalam aturan-aturan. Sang Pencipta menyuruh kita untuk mengenakannya, maka kenakanlah. Apakah anda pernah ketika masuk sekolah mengatakan saya tak mau pakai seragam kalau itu bukan keinginan dari dalam diri saya sendiri. Saya tak mau mengenakan putih abu-abu, tapi saya mau mengenakan pink kuning untuk seragam saya dengan belahan dibagian dada???

Ada juga yang aneh-aneh. Biasanya datang dari kaum liberal. Katanya jilbab itu harus dikontekstualkan. Katanya, di arab memang banyak padang pasir atau badai pasir, jadi menutupi diri dengan jilbab adalah tindakan yang paling ideal. Orang-orang sempalan ini selalu melihat agama dari hawa nafsu mereka. kegemarannya adalah mengakal-akali agama. Modal mereka yang paling besar adalah retorika, bukan pemahaman mereka yang mendalam tentang agama. Mereka menentang para ulama yang memang hidupnya dicurahkan untuk mempelajari dan menyebarluaskan ajaran agama. Jadilah kita manusia yang hobi mencari-cari alasan ini bersepakat dengan mereka.

Mengapa banyak yang melepaskan jilbab setelah sebelumnya mereka mengenakan jilbab? Jawabannya adalah sederhana. Lingkungan mereka. Jika mereka bergaul dengan orang-orang yang memang tak paham agama tapi pintar beretorika, selalu bertanya-tanya hingga terkesan menyudutkan, maka kemungkinan besar sipengguna jilbab akan melepaskan jilbabnya. Orang-orang seperti ini memiliki filter yang tidak cukup dan kadang-kadang konyol. Konyolnya kenapa? Ketika seseorang menanyakan dia kenapa mengenakan jilbab, apa landasannya, apakah ilmu agamamu sudah bagus, terus dia tak bisa menjawabnya, maka dia langsung menyalahkan dirinya bahwa dia belum pantas mengenakan jilbab. Dia malah enggan untuk belajar lebih dalam tentang agamanya. Memangnya kamu akan tau apa itu agama dan aturan-aturannya ketika kamu tidak berusaha mencarinya? Apakah melepaskan jilbab lantas membuatmu lebih baik? Yang salah bukan jilbabnya, tapi cara berpikir anda. Apa salahnya jika sambil anda berjilbab, anda memperdalam ilmu agama anda?

Yang salah juga adalah kencenderungan kita untuk mencampuradukkan antara apa yang kita ketahui dengan apa yang tidak kita ketahui. Atau mencampuradukkan hal-hal yang tidak berhubungan. "Perbaiki dulu akhlakmu, baru mengenakan jilbab", adalah kata-kata yang biasanya terlontar dari orang-orang jahil. Memangnya berhubungan ya? Jilbab itu kewajiban. Akhlak itu sesuatu yang harus ditingkatkan terus menerus. Lakukanlah kewajiban anda kemudian perbaiki kualitas diri anda. Yang namanya kewajiban, ya tidak boleh ditinggalkan.

Pernah suatu ketika saya juga sedang bersama-sama teman saya yang sudah cukup berumur. Seorang ibu-ibu saat itu kebetulan membawa anaknya yang sudah bersekolah di SMP dan mengenakan jilbab. Terus ada teman saya yang lain, seorang ibu juga dan juga mengenakan jilbab berkata "kok cepat sekali mengenakan jilbab? Kalo seumuran kamu tak apa-apa tak mengenakan jilbab. Kan masih anak-anak, nikmati dulu." ???? Bagiku, itu salah satu pernyataan yang paling bodoh sekaligus paling menyesatkan yang pernah kudengar. Anak itu tentu saja masih labil, dan info dungu seperti ini pasti akan memberi efek yang sangat besar bagi dia. Apalagi kata-kata itu terlontar dari mulut seorang yang mengenakan jilbab juga.

Seperti ucapan seorang ulama salaf, sekarang ini umat sedang diperhadapkan dengan perang ideologi. Oleh karena itu ambillah ilmu, tapi perhatikan sumbernya. Lakukanlah imitasi buat hal-hal yang memuliakan, bukan menjerumuskan. Yang tak kalah pentingnya juga adalah lingkungan anda. Sekuat apapun batu kalau terus-menerus ditempa dengan air hujan, maka akan bolong juga. Prinsip hidup ini selalu mengikuti logika hukum alam ini.

Berjilbab itu kewajiban. Menuntut ilmu itu kewajiban. Yang paling merugi adalah mereka yang sudah mengenakan jilbab kemudian melepaskannya. Biarlah kita bodoh, yang penting kita mau belajar. Jangan semakin membodohi diri sendiri dan mengikuti hawa nafsu.

(catatan Evernote saya yang pertama)
memetolicious.blogspot.com

Selasa, 01 November 2011

Hidup Dalam Mediokritas







Saya mungkin amnesia!


Suatu siang di hari Jumat, pak ustad berceramah banyak tentang usaha-usaha manusia di muka bumi ini. Salah satu yang poin yang bisa saya notice adalah tentang penggunaan materi yang selama ini susah payah kita usahakan. Kata-katanya bagus sekali : harta adalah media untuk beribadah kepada-Nya. Satu lagi alarm kesadaranku yang tiba-tiba berdering.


Yang paling susah bagi manusia seperti kita adalah karena manusia, seperti yang dikatakan dalam Al-Quran, adalah makhluk yang pelupa. Sungguh sangat susah untuk meresapi dan menghadirkan ajaran-ajaran yang telah kita ketahui ketika kita sedang beraktifitas. Saya mencari uang sebanyak-banyaknya dan tak pernah mengingat hakikat saya mencari uang. Padahal saya sudah berulang-ulang kali membaca ayat yang berarti: “dan tidak Kuciptakan jin dan manusia kecuali hanyak untuk berib adah kepadaKu”. Nah, kesadaran akan ayat inilah yang sulit kita kunjungi kembali ketika sedang melakukan sesuatu.


Pagi itu ketika saya sedang bersepeda di sekitar jalan Pettarani, saya tiba-tiba bertemu dengan kenalan ketika training pengajaran bahasa inggris untuk mahasiswa kebidanan. Dia seorang ‘kakak’ usia berkisaran tigapuluhan yang selalu memanggil saya saya ‘dek’ dengan gerakan tangan yang selalu menyentuh lawan bicaranya ketika menyebut nama. Namanya kak Yusran. Dia seorang dosen di FKM Unhas dengan pendidikan terakhirnya yang diselesaikan di Belanda. Jika anda bertemu dengan orang ini, maka anda akan menangkap kesan orang yang mudah bergaul dan sangat rendah hati. Kak Yusran juga adalah tipe orang yang selalu memberikan motivasi kapanpun dia mempunyai kesempatan untuk melakukannya.


Karena berhubung kami sama-sama akrab dalam dunia pencarian beasiswa keluar negeri, jika ada kesempatan, maka kami pasti selalu menyinggung topik itu. Nah saat itu, kami sedang berbicara tentang beasiswa yang sedang saya usahakan. Saya bilang kalau beasiswa ini sayangnya non-degree, karena saya belum dapat untuk program master-nya. Si kak Yusran ini tiba-tiba melontarkan pertanyaan: apa tujuan manusia hidup? Saya spontan saja menjawab mendapatkan kebahagiaan. ‘Itu keliru’, kata kak Yusran menyanggah. Tujuan manusia hidup sebenarnya adalah untuk beribadah kepada-Nya. Dalam hati, saya berkata bahwa tujuan beribadah kan untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Lagipula, sebenarnya saya juga mau menjawab itu, tapi entah kenapa yang keluar dari mulut saya adalah hal yang lain. Tapi saya tidak melakukan pembelaan saat itu.Kak Yusran lantas melanjutkan nasihatnya. Mencari karunia Allah hanyalah sarana untuk beribadah kepada-Nya. Katanya, kalau saya mendapatkan beasiswa dan berangkat tahun depan, maka sesungguhnya itu adalah karunia-Nya, dan itu hanyalah sarana untuk beribadah kepada-Nya. Maka apapun karunia itu, saya harus syukuri.


Jika dipikir-pikir lagi, ternyata saya amnesia di hampir segi aspek kehidupan saya. Saya belajar, sekolah dan ingin mendapatkan title professor, tapi saya lupa apa tujuan saya menuju kesana. Saya mencari derajat, status sosial, tapi lupa untuk siapa derajat saya nantinya saya ingin tunjukkan. Atau bahkan, derajat macam apa yang saya cari. Saya menjaga kesehatan, tapi saya lupa untuk apa kesehatan saya nantinya dipergunakan. Saya makan dan minum, tapi lupa untuk apa energi saya nanti gunakan. Jangan-jangan saya juga lupa untuk apa saya bernapas dan dari mana udara yang saya hirup? Oleh karena itu, mungkin disinilah pentingnya dzikrullah, mengingat Allah SWT. Tampaknya kita harus melakukan perulangan-perulangan dalam melakukannya agar benar-benar bisa melekat disetiap detak aktifitas kita. Karena sekali lagi, kita adalah makhluk yang pelupa.


Hal ini pulalah yang membawa pikiran saya untuk konsep hidup yang sedang-sedang saja. Berada ditengah-tengah, seperti agama ini. Mudah-mudahan saya mencari uang semata-mata sarana untuk beribadah kepada-Nya. Dengan begitu, saya tidak perlu untuk menjadi orang yang kaya sekali, tetapi tidak juga miskin. Ingatkah kita ketika Rosul di pagi hari menanyakan kepada Aisyah, apakah hari itu ada makanan atau tidak. Yang kemudian karena tidak ada, maka Rosul pada hari itu memutuskan untuk berpuasa. Padahal bukankah Rosul adalah seorang pedagang? Mudah-mudahan saya bisa menjaga kesehatan untuk beribadah, menyembah. Bukan menjaga kesehatan dengan olahraga yang berlebihan dan tujuan yang juga berlebihan. Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan status sosial di masyarakat, cukup dengan predikat ‘orang baik-baik’, sehingga saya tidak menjadi orang ambisius dalam memperoleh jabatan atau kedudukan. Mudah-mudahan saya bisa mendapatkan banyak ilmu pengetahuan, untuk kemaslahatan ummat. Bukan ilmu yang sifatnya remeh temeh.


Itu adalah doa-doa saya.


Dunia menawarkan banyak hal yang terus berkembang. Pilihan akan menjadi tak terbatas. Hidup di area yang tengah-tengah tampaknya menjadi pilihan yang terbaik. Sampai kapan dan sampai kemana kita untuk menjadi unggul di antara manusia-manusia yang lain? Oleh karena itu, di hidup yang pendek ini, kita sebenarnya sedang diuji untuk memilah-milah hal yang substansial. Pilihlah ilmu yang akan bermanfaat sebagai karir dan juga akhirat anda. Hiduplah dengan berkrompomi dengan masyarakat sosial anda. Lakukanlah aktifitas yang bukan menurut anda benar dan menyenangkan, tapi carilah teladan dan bentuk diri anda. Cari lingkungan yang terbaik bagi anda. Posisikan diri kita di tengah-tengah. Jadilah orang yang selektif dalam mencari ilmu, seperti ucapan salah seorang ulama salaf yang mengatakan: di dunia ini banyak sekali ilmu. Maka pelajarilah ilmu yang akan membawa ke kebahagiaan yang kekal dan menjadi penyelamat bagi kita. Karena ketidakhadiran ilmu akan bermuara pada malapetaka.


Memang yang harus dilakukan dalam hidup adalah banyak bersabar dan pandai-pandai bersyukur. Kemaksiatan akan teratasi jika kita termasuk orang yang sabar dalam melakukan kemaksiatan. Kita harus percaya kalau kesabaran kita untuk tidak berbuat buruk akan mendapatkan reward nantinya. Melihat tetangga yang lebih subur rumputnya akan bisa teratasi dengan bersabar. Sabar akan membuat kita tidak amnesia. Syukur juga akan membuat kita tidak amnesia. Tapi yang paling penting dari semua ini adalah ilmu. Ilmu akan benar-benar menjaga kita untuk tetap di koridor yang sesuai.


memetolicious.blogspot.com
FB: Muhalim Dijes
Twitter: @memetolicious

Selasa, 18 Oktober 2011

Islam Dalam Perspektif Amerika Serikat dan Posisi Indonesia (Refleksi terhadap Seminar Internasional UNM, Kamis 6 Oktober 2011)

Perkembangan Islam secara mengejutkan berkembang sebanyak 4 kali lipat pasca peristiwa 9/11 di Amerika Serikat. Hal ini dikemukakan oleh imam Shamsi Ali, chairman of moslem foundation of America, di acara seminar Internasional yang diselenggarakan oleh UNM dan berlangsung pada 6 Oktober 2011 di hotel Santika.

Siapakah imam Shamsi Ali sehingga dianggap patut merepresentasikan pandangan-pandangan Islam di Amerika Serikat? Pertama kali saya tahu tentang beliau adalah ketika saya sedang berada di Syracuse, US bersama teman-teman saya di tahun 2009. Tiga dari teman saya bersepuluh menyempatkan diri berjalan-jalan ke NYC pada waktu itu dan yang menemani mereka selama disana adalah imam Ali. Beliau menjemput, memberikan tempat tinggal bahkan mengajak mereka berjalan-jalan. Salah seorang teman saya Donal Fariz, menceritakan kesannya yang sangat positif dan mendalam tentang beliau. Beliau saat itu sudah menjabat imam besar New York dan ditahun yang sama mendapatkan penghargaan Ellies Island Medal of Honor Award, sebuah penghargaan bergengsi dan tertinggi bagi imigran yang berkontribusi terhadap masyarakat Amerika dan dunia. Tapi apa yang dilakukan imam Ali sangat jauh dari kesan orang yang besar yang berjarak. Beliau adalah orang yang sangat egaliter dan tawadhu. Karena ide-ide dan kemampuan menyampaikan gagasannya, bisa dibilang kalo imam Ali adalah tokoh Islam paling berpengaruh di Amerika.

Islamophobia yang selama ini didengung-dengungkan di media menurut imam Ali tidak sepenuhnya benar. Setelah peristiwa 9/11, banyak orang-orang yang tertarik untuk mengetahui segala sesuatu tentang Islam yang pada akhirnya membawa mereka sebagai pemeluk-pemeluk baru Islam. Kaum Yahudi yang terkenal karena lobi-lobinya yang menguasai ekonomi dan kebijakan politik Amerika, disisi lain memiliki tokoh-tokoh yang sangat toleran terhadap Islam. Ketika Islam sedang terjatuh, mereka (para rabbi yahudi) mengatakan bahwa we are / I am now the part of moslem. Dan tentu saja Islam menerima segala keterbukaan ini. Seperti prinsipnya, sesungguhnya agama ini menyeru kita kepada mutual benefit, hubungan yang saling menguntungkan.

Islam Menurut Pandangan Amerika

Adanya ketakutan terhadap Islam setelah nine eleven memang tak bisa dipungkiri. Para pemateri seminar yang terdiri dari para akademisi dan juga Akbar faizal (anggota DPR RI), pada kesempatannya menceritakan tentang susahnya pengurusan visa ke US. bahkan tak sedikit masyarakat yang tak bisa mendapatkan visa. Belum lagi dengan penjagaan bandara-bandara dan bangunan-bangunan penting di US yang begitu ketat. Ini adalah cerita klasik yang biasa kita dengar bagi orang-orang yang pernah mengunjungi Amerika.

Penulis sendiri pernah mengalami secondary inspection waktu melakukan entry point di bandara Chicago pada saat itu yang memakan waktu yang cukup lama. Hal ini menyebabkan saya harus menunggu untuk penerbangan berikutnya. Secondary inspection umumnya jamak dijumpai bagi mereka yang memiliki nama muslim, atau mereka yang berasal dari negara yang umumnya berpenduduk muslim. Tetapi belakangan kebijakan ini diubah.Setelah penangkapan Osama bin Laden, mantan pemimpin Al-Qaeda yang dianggap sebagai musuh Amerika nomer satu, kebijakan secondary inspection kemudian dihentikan.

Akbar faizal pada acara diskusi sempat merasa heran dengan fakta-fakta yang disajikan oleh Imam Ali bahwa kejadian 9/11 selain membuka kotak pandora sesungguhnya membawa hikmah yang banyak bagi Islam. Akbar mengatakan bahwa data-data selama ini yang diperolehnya justru kontra. Menurut research yang beliau baca, justru banyak orang Amerika yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang tidak terlalu baik, bahkan tidak baik sama sekali. Muncul antipati yang besar di tengah-tengah masyarakat Amerika. Tetapi yang dialami dan diketahui oleh Iman Ali justru berbeda dan sulit diprediksi sebelumnya. Katanya, setelah kejadian itu, masyarakat justru berbondong-bondong untuk mencari tahu tentang Islam. Dari semua orang yang belajar dan berdiskusi dengan Shamsi Ali, sekitar 90% yang justru mengkorversi agama mereka ke Islam. Sebuah angka yang tidak sedikit.

Salah satu isu yang pernah menghangat di Amerika adalah pembangunan mesjid yang hanya berjarak dua blok dari ground zero. Dibalik resistensi yang kita dengar dengar cukup hebat bagi publik Amerika, sesungguhnya menyimpan cerita lain dibaliknya. Imam Ali menceritakan, begitu besarnya dukungan dari orang-orang yahudi dan kristiani yang membantu aksi lapangan untuk menuntut direalisasikannya pembangunan mesjid tersebut. Beliau bahkan sempat menanyakan mengapa gubernur New York yang seorang yahudi begitu mendukungnya. Dan apa jawaban yang imam Ali dapatkan? I am not defending you, but I am defending my country. Tampaknya gubernur tersebut dan juga banyak orang lainnya sadar bahwa Amerika dibangun diatas pluralitas dan kebebasan. Bukan diatas kepentingan yang memihak pihak-pihak tertentu semata.

Saya pribadi adalah orang yang sempat melihat langsung pandangan masyarakat Amerika yang menurut kecurigaan kita berbeda sebelumnya. Saat itu setelah selesai solat jumat di Islamic Center di Syracuse, kami didatangi dan diajak oleh orang yang ingin berunjuk rasa berkaitan dengan serangan Gaza di Palestina pada saat itu. Dan tahukah anda bahwa gerakan itu melibatkan semua orang dari berbagai agama, baik itu Yahudi, Kristen maupun Islam. Orang-orang yahudi mengatakan bahwa mereka memang Yahudi, tetapi mereka sangat menentang kebijakan negara Israel yang menyerang perbatasan Gaza semena-mena. Inilah sisi yang banyak tidak kita lihat jika kita tidak mengalami dan merasakannya sendiri.

Walaupun begitu, harus diakui bahwa ada beberapa kebijakan Amerika yang melukai masyarakat Islam. Sebagai contoh, tidak setujunya Amerika yang memiliki hak veto dalam PBB berkaitan dengan kedaulatan Palestina beberapa waktu yang lalu menyebabkan tak sedikit dari kita berang. Inilah yang sebenarnya sedang diusahakan oleh imam Ali dan pemuka-pemuka agam Islam lainnya untuk membangun komunikasi dengan orang-orang yahudi. Karena kendali Yahudi di Amerika sangat mighty, maka usaha yang paling rasional adalah mendekati mereka.

Dilain sisi, maraknya aksi kekerasan oleh orang-orang yang mengatakan diri mereka muslim menjadi salah satu penghambat besar bagi penetrasi Islam dan restorasi citra Islam. Banyak video-video yang dikonsumsi oleh publik Amerika yang menggambarkan aksi kekerasan yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Inilah yang menjadi PR besar bagi kaum muslim di sana untuk menjelaskan bahwa apa yang mereka lihat itu tentu saja tidak mewakili. Mereka adalah kelompok sempalan yang menginterpretasikan agama seenaknya secara parsial. Oleh karena itu, dalam memandang agama ini haruslah secara komprehensif dan tidak berdasarkan asumsi semata.

Posisi Indonesia

Indonesia adalah merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar dan negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika. Tetapi apa yang bisa dilakukan dengan status ini? Jawabannya adalah ternyata tidak banyak yang bisa kita lakukan.
Sejauh ini, Indonesia masih bergelut dengan isu intoleransi beragama yang terjadi dimana-mana. Kasus bom di solo dan kasus pemboman sebelumnya tidak bisa dilepaskan dari citra Islam. Oknum-oknum ini yang membawa dalil dan bendera agama Islam mau tidak mau menciptakan pencitraan yang buruk. Walaupun kita tahu bersama bahwa Islam adalah sama sekali bukan agama yang membawa pedang dalam berda’wah. Islam bukanlah agama yang memaksakan ideologi atau ajaran-ajarannya.

Saat ini indonesia masih berupaya untuk memberantas kelompok radikal yang kerap menciptakan teror di masyarakat. Hal ini tentu saja seiring sejalan dengan misi Amerika Serikat. Bentuk konkrit dari pemberantasan ini dapat kita lihat dengan dibuatnya RUU Intelejen. Upaya untuk meminimalisir aksi terorisme di indonesia masih mangalami kendala diberbagai sektor.

Menurut hemat penulis, salah satu yang paling mungkin dilakukan untuk berpartisipasi aktif adalah dengan berpenetrasi ke ranah pendidikan di Amerika. Sebagai contoh, banyak Asian Studies di universitas-universitas di Amerika yang bisa digarap dan dijalin kerjasamanya dengan pemerintah Indonesia. Indonesia bisa mengirimkan para moslem scholars ke universitas-universitas di Amerika, mengajarkan kebudayaan indonesia, dan tentu saja mengenalkan Islam kepada mahasiswa-mahasiswa. Kampus adalah merupakan tempat yang paling tepat untuk memberikan pengajaran dan pemahaman.
Indonesia sebagai bangsa tampaknya masih agak sulit untuk memberikan pengetahuan ke publik Amerika bahwa Islam datang sebagai rahmat bagi sekalian alam. Secara konkrit, yang bisa dilakukan adalah individu-individu muslim dimanapun berada, khususnya di Indonesia. Imam Shamsi Ali dengan ke-tawhadu-an, kedalaman ilmu dan kemampuannya untuk berkomunikasi secara akomodatif adalah merupakan contoh konkrit kontribusi seorang anak bangsa. Imam kelahiran Kajang ini telah dan sedang berpartisipasi aktif bagi kemajuan muslim di Amerika.

Kita sebaiknya tidak terlena dengan label demokrasi dan muslim terbesar kita, karena yang dibutuhkan adalah tindakan nyata. Sudah menjadi kewajiban kita bagi setiap muslim untuk belajar tentang Islam. Pelajaran ini tentu saja kemudian harus dijewantahkan dalam bentuk akhlak. Dengan begitu, tentu saja diharapkan banyak masyarakat Amerika yang melihat Shamsi Ali Shamsi Ali yang berikutnya yang membawa wajah Islam yang sebenarnya dan memperbaiki perspektif masyarakatnya.

Wallahu a’lam bishshwab.

Minggu, 11 September 2011

9/11 : Opening Up Pandora’s Box


The attacks of 9/11 has spawned tremendous aftermath. It takes a very long period for the people in the Unites States to get recovery from the massive shock. America, which has become the most powerful country for decades , was discredited by its failure of guarding its supremacy. It was because the terrorist said to be success to demolish two important buildings; WTO-the symbol of economic power of America and Pentagon-the symbol of national defense of America. Thus, none has ever predicted if this invasion could ever be executed.

Aftermath

Al-Qaeda who admitted its involvement in that one of the horrible moments for American people in particular, and even for world people, has become the most targeted terrorist organization from the time that attack happened. Since the attack, America began ‘War on Terror’ where impinging many aspecs of securitiy issues. The policies are immediately created to tighten surveillance. Not only a strong security, but USA also agressively invaded Afganistan as a breeding place of terrorists and Iran under suspicion of nuclear weapon possession.

The other policiy , for instance, is secondary inspection in all international airports in America. If you have a moslem-sound name, or you come from a country where moslem is majority, it is most likely you will be included on that inspection. Likewise, it will not easy for those moslems people to get visa to go to USA if they have that sort of name.

The (Probable) Hidden Truths

Obama said, after the successsful arresting operation of Osama bin Laden, America becomes stronger and on the contrary, the Alqaeda’s party is weaker. The arrest of Osama, however, arouse speculation among people. The death body of Osama was never showed in front of public and media.

The incredulity of most American’s terror-related actions has grown since the attack. The existence of Alqaeda even for some people is still questioned. It is only a ruse of America government to get scape goat blamed on. Furthermore and probably the worst deception if it is true, Some people believe if the 9/11 attack is the design of USA itself. Some scientists believe if the destruction on the buildings could only happen if there are severeal bombs that are prepared beforehand. The fire and the explosion could not occur if it was merely caused by the crashed planes.

The further question that can arouse is, where were the 4000 Jew descendants who were working there at the time? All them just suddenly dissapeared before the attack. Does it make a sense if coincidentally all jew descendants are absent at the same time when attack happened?

Pandora’s Box

It has been ten years after September 9 making horrendous reaction towards people on the world. 9/11 has opened up pandora’s box in multifaceted aspects. Inevitably, one of the most wretched victims is Islam. Islamophobia has grown due to the invasion of 9/11. Many people misinterpret the teachings of Islam afterward. Many people suddenly made an oversimplification if Islam is a violent religion. Moslems are viewed scornfully and always be suspected whetever they go. Quran as a holy kitab is said to be an evil book and should be demolished.

Moreover, this occasion was used by America and several European countries to made invasion over Irak’s government with nuclear weapon as a center reason, which,of course was eventually not proven at all. Again, they also sent their troops to Afganistan by means of security reason. These all reactions as traumatic responses, on the contrary just creating antipathy instead of sympathy over America and its allies.

There are so many agendas should be accomplished to straighten all deviations caused by 9/11. Moslems have to restore Islam’s image as a peacefull and blessed religion. On the other hand, America also should recover all destruction that they has made. America has to be responsible with all military actions and quickly take away every single concealed political and economic interest with ‘War on Terror’ as a reason.

Memeto Chocolatos

Makassar, 9/11/11

Jumat, 17 Juni 2011

Apa yang Bisa Dipelajari dari Kelas-Kelas di Sekolah Informal

Semua harus hidup dalam tata krama suatu siklus. Tata krama–tata krama menjadi pedoman dalam wilayahnya masing-masing dan menjadi arus utama. Dia menjadi penting, dan sadar atau tidak sadar, selalu dinggap sebagai suatu kepemilikan bagi orang-orang yang yang hidup didalamnya.

Sekarang, mari kita bersepakat kalau pendidikan adalah sebuah siklus. Di Negara kita, tata krama dunia pendidikan secara konsep disusun dengan begitu tangguhnya dengan revisi-revisi yang terus diremajakan secara reguler. Semuanya melibatkan pakar, semuanya melibatkan orang-orang terdidik. Pada level ini, semua sistem dan materi yang diatur, secara komprehensif bersifat definitif. Dengan berbekal analisis dari penemuan sebelumnya yang dijadikan acuan dasar kemudian ditarik satu garis paralel untuk menentukan kebijakan pendidikan untuk tahun-tahun mendatang. Kebijakan ini yang mengatur keseluruhan tata cara penerjemahan konsep ke wilayah pengeksekusian proses didik mendidik yang berada dalam sebuah siklus yang selanjutnya menjadi kepemilikan pelaksana pendidikan: guru dan fasilitator.

Mengapa dimiliki? Karena batasan untuk berimprovisasi ambigu, sedangkan batasan untuk berpedoman sangat jelas tertuang. Wilayah ini bukan hanya berada pada cara mengajar, tetapi juga mencakup semua hal-hal yang sifatnya teknis yang seringkali menuntut keseragaman. Sebagai contoh, penyeragaman waktu belajar yang tak ada tawar menawar. Semua telah teragenda dengan begitu padat sehingga materi yang berpotensi untuk dikembangkan atau kemampuan siswa yang berpotensi untuk dikembangkan dibatasi ruang geraknya. Dalam prakteknya di lapangan, tenaga pengajar akui atau tidak diakui sangat berpedoman dengan rancangan produk pemerintah. Padahal merekalah yang sesungguhnya memahami murid, memahami socio-kultur lingkungan belajar. Contoh yang lain adalah mengenai sistem yang menjadikan semua yang terlibat dalam dunia pendidikan menjadi mesin-mesin administratif. Sebagai contoh, sebuah sekolah atau kampus yang ingin memberikan pencitraan yang baik akan sangat sibuk berkutat dengan hal-hal administratif yang dipersyaratkan oleh birokrasi. Akreditasi sebuah sekolah dalam laporannya akan memberikan data-data tenaga pengajar yang tampaknya diatas kertas sangat menjanjikan sehingga tim assessor tampaknya akan sangat bodoh jika meragukan kualitas sekolah yang bersangkutan. Dalam prakteknya, telah menjadi rahasia umum, bahwa ternyata kebanyakan data-data yang diserahkan tersebut adalah merupakan laporan fiktif.

Tetapi yang kurang tepat dalam hal ini bukan semata-mata sistem itu sendiri. Tapi sebenarnya masalahnya berakar pada pengawalan dari sistemnya. Tenaga pengajar yang benar-benar berdedikasi penuh dengan profesinya akan memanifestasikan seluruh kemampuan dan kesediaannya untuk perkembangan peserta didik. Seyogyanya penerjemahan kurikulum tidak seharusnya sekaku yang kita lihat pada hari ini. Banyak target yang ingin dicapai sesuai dengan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tetapi pendidik selalu menerapkan standar ganda yang kadang merugikan peserta didik. Untuk keperluan administratif, mereka membuat RPP sesuai dengan interpretasi mereka dengan pengeditan seperlunya terhadap rancangan yang sudah ada. Pada prakteknya di lapangan, apa yang dituliskan ternyata tidak dilakukan dengan sebenar-benarnya. Guru dan para dosen hanya mengikuti materi yang telah dirangkum oleh buku-buku teks. Pelaksanaan ini sungguh jauh dari harapan proses pembelajaran yang ideal.

Pare: Sebuah Perkampungan Bahasa Inggris atau SMART yang Membuat Orang-orang Merasa Tampak Bodoh

Pada bulan Januari – Februari kemarin, saya menyempatkan diri ijin dari tempat mengajar saya dan berangkat ke Kabupaten Kediri, Jawa Timur tuk memperdalam Bahasa Inggris di sebuah perkampungan yang berada di Kecamatan Pare. Perkampungan ini selama berpuluh tahun telah menjadi tempat untuk mempelajari bahasa Inggris bagi orang-orang yang berasal dari banyak daerah di Indonesia. Bahkan dalam perkembangannya, peminat orang-orang yang kursus sekarang tidak hanya berasal dari pulau-pulau di Indonesia. Beberapa peminat bahasa Inggris yang berasal dari Negara tetangga Malaysia juga tercatat di beberapa tempat kursus. Dalam satu kecamatan tersebut terdapat dua ratusan lebih tempat kursus yang teridentifikasi dan mendapatkan persetujuan pengelolaan dari Dinas Pendidikan setempat.

Pare adalah tempat yang benar-benar terkonsentrasi untuk memperdalam bahasa Inggris. Walaupun ada satu atau dua tempat kursus bahasa asing lainnya seperti Korea, Jepang hingga Mandarin, tetapi sampai sejauh ini, para pendatang yang datang untuk belajar hanya mengetahui bahwa Pare = Inggris. Kadang saya melakukan survey kecil-kecilan dan menayakan apa yang sesungguhnya memotivasi teman-teman yang menuntut ilmu disana untuk memilih Pare. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, yang praktis telah belajar Bahasa Inggris minimal 6 tahun di bangku-bangku sekolah. Jika ada yg mulai belajar dari sekolah dasar, berarti total waktu yang dihabiskan adalah selama 12 tahun. Jawaban mereka umumnya mirip-mirip. Mereka butuh keahlian berbahasa Inggris untuk menunjang karir mereka, atau mereka ingin melanjutkan studi mereka di luar negeri.

Dari latar belakang pendidikan, saya sendiri adalah seorang sarjana Pendidiakn Bahasa Inggris yang berhubungan dengan bahasa ini selama 4 tahun di bangku kuliah. Ditambah lagi, saya juga sempat mengenyam kursus Bahasa Inggris singkat selama 2 bulan di Amerika Serikat yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintas US. Banyak orang yang menanyakan tujuan saya berangkat kesana dengan pertanyaan yang serupa “memangnya selama ini belum cukup?”. Saat itu saya tidak mempunyai jawaban yang benar-benar meyakinkan bagi setiap orang yang bertanya. Saya selalu mempunyai alasan (excuse) dengan mengatakan bahwa yang akan saya pelajari disana beda, dan saya memang membutuhkan suasana yang kondusif untuk belajar disana.

SMART adalah satu dari sekian banyak tempat kursus di Pare yang melegenda disana. Ketika baru tiba disana dan saya menanyakan ke teman-teman yang telah berada disana sebelumnya tentang tempat yang kira-kira cocok untuk saya belajar TOEFL, mereka umumnya merekomendasikan SMART. Tetapi tanpa melebih-lebihkan, mereka berkata, kalau saya sampai lulus untuk memasuki kelas TOEFL tersebut, maka berarti saya akan menjadi pemegang rekor untuk orang yang bisa lulus di kelas tersebut tanpa melalui kelas-kelas mereka sebelumnya. Di SMART, untuk kelas grammar (TOEFL berada di kelas grammar), ada enam level yang berada dibawah level TOEFL itu sendiri : basic, elementary, pre-intermediate, intermediate, high-class, dan pre-TOEFL. Setiap level, kecuali basic, mengharuskan bagi calon pendaftarnya untuk mengikuti tes. Jika seseorang telah lulus di level pre-intermediate (dimana banyak orang menganggapnya level yang cukup sulit), lantas tidak menjadi jaminan baginya untuk secara otomatis bisa memasuki level intermediate. Mulai dari level intermediate, 3-5 orang peserta kursus sudah dianggap banyak, karena seleksi masuk ke tiap level begitu ketat. Jika ada yang tidak lolos pada suatu level, biasanya mereka untuk sementara waktu mendaftar kursus di tempat lain dan mendaftar kembali pada periode selanjutnya. Tidak berlebihan dikatakan kalau banyak orang yang berlama-lama di Pare hanya karena ingin lolos masuk dan belajar di SMART.

Saya sendiri pada awal mulanya merasa terpecundangi. Karena merasa telah dari Amerika, sudah memiliki nilai TOEFL yang cukup lumayan, serta IPK yang cukup tinggi ketika kuliah dulu, maka dengan optimisnya saya berkesimpulan kalau saya bisa lulus tes untuk kelas tersebut. Untuk bisa lulus, nilai ujian minimum (bukan skor TOEFL) adalah 470, sedangkan nilai saya saat itu adalah 440. Runtuh sudah semua tembok kebanggaan diri saya saat itu. Saya menjadi tampak pandir dihadapan tembok bangunan SMART yang hanya terbuat dari anyaman. Memang secara fisik, SMART adalah tempat kursus yang tampak lusuh. Bangunan seadanya, proses belajar mengajar yang bisa berlangsung dimana saja terutamanya dibawah pohon serta pengajar yang mengajar dengan menggunakan sarung adalah pemandangan yang lazim yang akan didapatkan disana.

Selama seminggu, sambil kursus di tempat lain, saya belajar terus untuk ujian remedy berikutnya sebagai ujian kompensasi bagi pendaftar yang tidak lulus. SMART mengetahui kalau ujian mereka begitu selektif sehingga mereka memberi keringanan untuk memberikan kesempatan mengulang di minggu berikutnya. Setelah belajar yang cukup intens, pada kali keduanya saya berhasil lulus dengan selisih tipis sebanyak sepuluh dari standar yang ditetapkan. Pendaftar untuk kelas ini adalah 2 orang, dan saya menjadi satu-satunya peserta yang lulus untuk periode saat itu. Disana, berapapun yang lulus masuk untuk level tertentu, akan diajar dengan sepenuh hati. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan tempat-tempat kursus lain di Pare yang menetapkan rata-rata minimum 7 orang peserta kursus per levelnya. SMART adalah merupakan tempat pendidikan yang paling mengutamakan “prinsip-prinsip pendidikan yang sesungguhnya” yang pernah saya ketahui. Sampai sekarang saya masih tidak mengerti tentang hitung-hitungan profit yang mereka peroleh. Untuk kelas saya sendiri, ada 3 orang pengajar yang berbeda-beda untuk tiap skill: listening, structure & written expression dan reading. Kursus saya selama sebulan disana hanya seharga Rp. 185.000 dengan 3 kali pertemuan setiap harinya, mulai dari hari senin sampai sabtu dan tiap pertemuannya berlangsung selama satu setengah jam. Jadi kalau dihitung harga untuk tiap pertemuan satu setengah jamnya berkisar Rp. 2.500. Adalah hal yang wajar kalau sampai sekarang ini bangunannya dibangun ala kadarnya dan baju yang dikenakan pengajarnya hanya itu-itu saja.

Selama belajar disana, saya memperoleh ilmu yang banyak sekali. Setiap materi disiapkan dengan begitu matangnya dan saya tidak bisa lebih menekankan lagi untuk mengatakan kalau ilmu yang dimiliki pengajarnya sangatlah luas. Setiap kasus untuk soal yang dibahas dijelaskan permasalahnnya dan bahkan sumber acuannya dijelaskan secara mendetail hingga halaman referensinya. Para pengajarnya tidak membawa buku. Tetapi setiap materi akan dibahas sampai ke akar-akarnya dengan tetap menjunjung tinggi rasa tanggung jawab terhadap keilmuan mereka. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui di kelas-kelas formal, dimana guru mengajar dengan hanya memberikan tugas dari buku-buku. Di SMART, mereka mempunyai sistem pembelajaran tersendiri dalam artian, pemberian materi dengan gaya mereka sendiri. Setiap materi selalu diterjemahkan kedalam bentuk bagan-bagan. Pelajaran bahasa Inggris akan tampak sebagai pelajaran hitung-hitungan, rumit, tapi anehnya disukai dan dianggap menantang. Tim pengajar disana betul-betul dituntut untuk memahami materi yang akan diajarkan. Tempat ini mempunyai cara yang unik untuk menginterpretasikan materi.

Disamping hal-hal telah disebutkan diatas, tempat kursus ini juga telah menerbitkan beberapa buku yang dipakai dalam di lingkup Pare. Bukan materi yang dikompilasi atau semata-mata di potong dan ditempel dalam kemasan yang baru dan lain. Tetapi buku-buku yang diterbitkan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara isi yang menunjukkan kalau tim pengarang betul-betul memahami apa yang mereka tulis. Institusi ini seakan menyentil sekolah-sekolah formal yang guru-gurunya tidak produktif dalam membuat buku pelajaraan yang sesuai dengan kebutuhan siswa, bahkan menyentil sebagian besar kampus-kampus di Indonesia yang dosen-dosennya tidak produktif atau produktif tetapi plagiat. Tak habis-habisnya kekaguman saya dengan tempat kursus ini.

Keunggulan lainnya yang sulit ditemui di institusi-institusi baik formal maupun non-formal yang ada di SMART adalah evaluasi terhadap peserta didik. Evaluasi ini dilaksakan setiap hari! Perkembangan siswa benar-benar diobservasi dengan jelas dan selalu didiskusikan setiap harinya. Saya sendiri sangat merasakan evaluasi ini. Suatu ketika, ketika saya sedang mencari intruktur untuk kelas reading saya (saya menjadi nomaden selama belajar disana karena tempat yang sangat terbatas). Tiba-tiba instruktur dari kelas lain yang saya bahkan tak tahu namanya menegur saya dengan mengatakan :”masih susah di adverbial clause ya mas?” bahkan instruktur yang tidak mengajar saya sekalipun mengetahui masalah pelajaran yang saya tidak mengerti. Setiap pengajar yang mengajar saya untuk masing-masing skill selalu menanyakan kemajuan saya untuk skill yang lainnya. Motivasi, saran dan ilmu, itu yang tiap hari saya dapat. Jika dulu di salah satu perguruan tinggi Islam tempat saya memperoleh gelar sarjana, memulai pelajaran dengan langsung ke pokok inti materi, maka di SMART, saya memulai pelajaran dengan berdoa dan mengakhiri pelajaran dengan berdoa pula. Tak perlu pengajar yang rupawan atau fasilitas yang mewah untuk membangun nilai-nilai religius siswa atau membangun kewibawaan suatu tempat pendidikan. SMART membuktikan hal itu.

Kelas Sebagai Sebuah Arogansi Tingkatan atau Tempat untuk Mencetak Manusia Cerdas

Pendidikan alternatif menjadi penting di tengah-tengah pendidikan formal yang terlalu berpedoman dengan birokrasi dan cenderung untuk menerapkan politik mercusuar. Kebutuhan siswa dan sekolah tidak dikontekstualkan, karena tenaga pengajar berpacu dengan target pembelajaran. SMART adalah merupakan contoh pendidikan alternatif yang sangat baik dalam hal penyeleksian siswa yang dapat diaplikasikan di sekolah-sekolah formal. Karena adanya rasa kedewasaan untuk mempertanggungjawabkan ilmu, pengajar di SMART tidak akan meluluskan siswa yang memang tidak memenuhi standar. Karena selain akan menghambat si siswa sendiri, juga akan menghambat kemajuan siswa yang lain. Dengan menerapkan kebijakan seperti ini, maka guru juga akan semakin tertantang untuk betul-betul ‘memajukan’ siswa mereka, karena indikasinya akan sangat jelas. Guru tidak boleh menutup mata akan kemajuan siswa dengan melanjutkan terus materi pembelajaran.

Sangat dilematis memang, karena yang menjadi sentral bukan hanya guru, tetapi juga siswa harus berperan aktif. Kesadaran untuk bersungguh-sungguh memang adalah hal yang juga turut dipengaruhi oleh ‘rumah’. Semua yang dibawa siswa dari rumahnya adalah faktor yang cukup dominan dalam pembentukan kepribadian siswa. Tapi yang harus digarisbawahi adalah tidak ada legitimasi yang sifatnya memaksa yang bisa menjadi landasan apakah seorang siswa semangat atau tidak semangat; rajin atau tidak rajin; suka atau tidak suka, yang datangnya dari ‘rumah’. Semua itu dapat diperoleh dari dalam kelas. Seorang guru mempunyai legitimasi yang kuat untuk memberikan saran, perintah, bahkan paksaan untuk kondisi-kondisi pembelajaran. Guru bisa mendesain pemberian tugas-tugas sebanyak mungkin bagi siswa dan berkata kepada siswanya bahwa tugas tersebut sangat penting dalam pemberian nilai. Tepat atau tidak tepat waktu berada dikelas ditentukan oleh guru baik dengan cara memaksa atau dengan cara memberikan panutan. Guru bisa menanamkan semangat menuntut ilmu ke murid-murid dengan pemberian motovasi di tengah-tengah proses belajar. Guru bisa membuat kontrak pembelajaran sendiri, menamkan nilai-nilai keagamaan dengan praktek berdoa sebelum belajar, hingga menanamkan nilai moral, kolektivisme dan kerjasama. Berbenah dari kelas dengan guru yang menjadi pemeran sentralnya adalah kunci dari perubahan kearah yang lebih baik karena guru memiliki legitimasi yang kuat.

Pemahaman aspek-aspek psikologi yang sangat berpengaruh terhadap prestasi siswa walaupun selama ini secara formal-legalistik di mandatkan oleh orang atau tempat sepeti Bimbingan Konseling (BK) atau Penasihat Akademik, (PA) sebenarnya kurang efektif, karena yang paling tahu kondisi peserta didik adalah guru mereka. Guru yang sebaiknya mengobservasi siswa secara telaten dan membuat evaluasi karena setiap siswa sifatnya unik. Evaluasi sangat penting untuk memberikan gambaran langkah-langkah yang tepat untuk berinteraksi dengan siswa atau untuk memberikan saran/masukan kepada siswa. Seorang pengajar sebaiknya selalu melakukan improvisasi-improvisasi terhadap materi yang telah ditentukan, sesuai dengan keadaan dan pemahaman siswa. Keadaan kelas harus benar-benar dipahami oleh guru dan mulai berbenah darinya.

Meskipun demikian, yang paling penting dari pembenahan yang dilakukan oleh seorang guru adalah membenahi dirinya sendiri. Sudah menjadi pengetahuan umum kalau banyak guru yang mengajar yang tidak kompeten dibidangnya. Hal ini salah satunya disebabkan karena sistem perekrutan yang sangat carut marut. Sebagai contoh, penerimaan pegawai guru di Indonesia dilakukan dengan melakukan tes yang isinya seragam untuk semua guru bidang studi yang berbeda-beda. Seorang calon guru fisika akan mendapatkan soal tes masuk menjadi pegawai yang tesnya sama dengan calon guru Bahasa Inggris. Biasanya, materi yang menjadi subjek bagi seorang calon pegawai guru bahkan tidak masuk dalam dalam bahan ujian. Calon guru Fisika dan Bahasa Inggris akan sama-sama menjalani Tes Potensi Akademik, Tes Pengetahuan Umum dan Tes Skala Kematangan. Mereka tidak diseleksi berdasarkan keilmuan mereka, apalagi seleksi dengan menggunakan tes micro teaching. Tidak heran jika tempat-tempat kursus seperti SMART memiliki pengajar-pengajar yang jauh lebih banyak dan berkualitas ilmunya dibanding guru-guru di sekolah-sekolah formal. Apa yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelas bahasa Inggris? Apakah pasal-pasal? Apakah pancasila? atau menghitung sisi miring suatu segitiga?

Tata krama dunia pendidikan di Indonesia seharusnya sesekali bercermin dengan tempat-temapat penyelenggara pendidikan alternatif. Undang-Undang Dasar yang telah menjamin bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah hal urgen, harus dikawal dengan penuh tanggung jawab. Tugas kita bersama adalah kembali memurnikan tujuan kita. Pendidikan seyogyanya tidak menjadi lahan untuk mengeruk keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Fasilitas penting, tapi lantas tidak dijadikan sebagai penggerak utama pendidikan. Justru dalam keterbatasan itu sebenarnya menuntut kita untuk menjadi manusia yang kreatif. Karena itu kita harus segera berbenah dari lingkungan terkecil tempat belajar mengajar. Guru yang menjadi masinis pendidikan sudah seharusnya memiliki kualifikasi yang excellent yang bisa menginspirasi siswa-siswa dari ruang kecil yang bernama kelas. Siswa kelas 3 SD sudah seharusnya memiliki ilmu kelas 3 SD. Kelas bukan arogansi tingkatan. Kelas menunjukkan jenjang ilmu siswa. Dan itu semua bergantung dari guru.

Semua aspek pendidikan menjadi penting. Tetapi guru yang berada dalam ruang yang bernama kelas adalah yang sangat penting diantara semuanya. Kualitas pendidikan kita ditentutakan dari sini. Kini saya sudah menyadari alasan mengapa saya sampai harus ke Kediri. Mengapa SMART menjadi guru saya yang begitu menginspirasi. Semoga kita bisa belajar dan berbenah diri.

Rabu, 22 September 2010

Dunia Hanyalah Tempat Bermain dan Senda Gurau


Saya sebegitu tertarik dengan ayat Al-Quran yang redaksinya seperti ini: “dunia hanyalah tempat bermain dan senda gurau”. Awalnya, saya membaca catatan teman saya M.a.Maulim Ni’am di note account facebook-nya. Catatannya secara umum menggambarkan tentang ‘kebohongan’ yang merupakan tanggapan dari catatan temannya yang juga bertemakan tentang kebohongan. Bagian paling menarik yang sempat saya berikan perhatian adalah tentang kebohongan yang salah satunya dijabarkan dengan pernyataan bahwa kalau manusia selalu berwajah multidimensi, tergantung keadaan yang dihadapinya. Sebagai contoh, seorang ibu yang berprofesi sebagai guru akan memerankan peranan dengan wajah yang berbeda ketika berada di sekolah dan dirumah. Begitupun akan sangat berbeda ketika ia berada di tempat arisan atau atau berada di tempat ibadah. Berdasarkan kesimpulan saya, tulisan Ni’am mengatakan kalau berubah kondisi, maka topeng yang dipakai akan berbeda pula.

Tak lama setelah membaca note teman saya itu, tiba-tiba datang dua pesan singkat pada malam harinya dari teman yang berbeda. Entah mengapa secara kebetulan, pesan mereka bercerita tentang permainan dan senda gurau dengan kaitannya dengan hidup. Yang satu berpesan kalau hidup di dunia adalah senda gurau yang kekal adalah negeri akhirat, sedangkan pesan yang kedua bertutur bahwa jikalau hidup hanya bermain, maka kita boleh bermain sepanjang hidup kita. Jikalau hidup hanya sebatas senda gurau, maka kita boleh bercanda selama hidup kita. Tapi sayangnya hidup banyak warna, ada kalanya sedih dan susah. Kemudian pada akhir kalimat pesan kedua itu berbunyi “kemanakah kaki akan melangkah pulang?” karena kita hanya akan pergi kesatu negeri yang memiliki dua tempat tujuan; surga atau neraka.

Bermain

Kalau dunia adalah tempat bermain, berarti pemainnya itu sendiri adalah semua makhluk yang menghidupi bumi. Manusia sebagai pemimpin di bumi yang lebih dipercayakan oleh tuhan dibandingkan makhluk-makhluk lainnya adalah pemain paling handal. Kita cenderung bermain sesuai dengan penempatan peran yang semakin jelas seiring dengan perjalanan waktu usia manusia. Manusiapun sebagai pengendali dimana dunia dititipkan baginyaselalu bermain monolog dan lebih cenderung bermain dialog. Tapi porsinya asimetris, karena kecenderungan manusia memang yang tidak dapat hidup tanpa orang lain sehingga lebih menyukai dialog. Ketika berdialog dengan makhluk lain, maka seorang manusia yang berinteraksi dengan suatu entitas biasanya bermain adil, tetapi banyak pihak juga yang ingin mempermainkan lawan interaksinya. Ambilah contoh prinsip demokrasi yang sebenarnya lebih mengarah ke suatu fatamorgana, alih-alih sebagai sesuatu yang benar-benar bisa tercapai: from the people, by the people and for the people. Yang terjadi adalah sesungguhnya pengharapan akan target ‘keadilan’. Tetapi faktanya, dimana saja demokrasi berkembang, dalam dimensi apapun, selalu terjadi subordinasi demi mempermainkan pihak lain. Hal ini disebabkan karena memang kecenderungan orang kuat untuk mempermainkan entitas yang lemah, siapa kuat dia berkuasa. Kekuatan memang mempunyai seribu wajah. Kekuatan umumnya konflik dengan prinsip keadilan, seperti ungkapan ‘power tends to corrupt’. Akan selalu terjadi korupsi terhadap hak-hak orang/makhluk lain.

Bagaimanapun, permainan adil tetap saja bisa ditemukan, namun sulit. Pemenuhan keadilan akan dapat tercapai jika kedua belah pihak digenapkan hak-haknya. Sebagai contoh zakat mal. Telah disebutkan dalam ajaran agama Islam kalau sesungguhnya setiap jumlah harta yang telah ditentukan takarannya seharunya dizakatkan sebanyak 2,5 persen. Sehingga kaum papa, terlantar, termarginalkan sebenarnya bisa diperbaiki kualitas hidupnya , utamanya dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Ajaran agama manapun sebenarnya juga banyak menekankan perhatian terhadap kepedulain sosial. Tapi tampaknya, Islam-lah memang yang paling strict dan memberikan aturan-aturan yang jelas dalam pengejawantahannya. Ini baru satu contoh. Wajah keadilan dalam permainan sebenarnya sangat beragam. Seperti keadilan untuk mendapatkan informasi tanpa distorsi karena pihak internal tertentu seperti korporasi, lembaga atau oknum ; keadilan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas; keadilan untuk berekspresi yang harus berada dalam kerangka sosial-keagamaan; keadilan ekonomi mikro dan masih banyak lagi. Seyogyanya indiskriminasi terhadap sesama pemain harus dijunjung tinggi. Sehingga kedua pelaku benar-benar menjadi pemain aktif, bukan salah satunya menjadi objek.

Kecenderungan monolog , seperti namanya hanya memiliki pemain tunggal. Pemainnya itu sendiri. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya tentang interpretasi Ni’am akan permainan, sesungguhnya multidimensionalisme seseorang adalah salah satu contohnya. Kita akan selalu mengenakan topeng yang berbeda-beda bergantung suasananya. Karena ketika seseorang tidak mengganti cover mereka, maka biasanya akan berujung kepada intoleransi. Tapi bukan berarti bahwa cover tidak substantif. Sesungguhnya tidak. Kemasan yang disesuaikan keadaan akan sangat mempengaruhi performa. Seorang yang berpakaian seragam polisi akan menjaga kewibawaan suara dan perilakunya. Ketika berada dirumah bersama istrinya, maka dia bertindak selayaknya suami yang bebas berkeluh kesah kepada istrinya. Tetapi ketika bertemu dengan teman korpsnya, maka dia menjadi sosok yang tangguh lagi, seolah-olah tak pernah memiliki beban. Ini namanya bukan hipokrasi, tapi ini namanya tuntutan. Switching yang terjadi secara berulang-ulang dan dalam waktu yang lama pun sesungguhnya akan membentuk karakter. Jadi sekali lagi, perubahan topeng itu tidak mendekati hipokrasi, tapi lebih kepada keperluan. Ketika seseorang memohon doa kepada tuhannya, sebenarnya merupakan salah satu dari bentuk monolog.

Senda Gurau

Apa yang sesungguhnya diperoleh dari kelakar? Senda gurau? Jawabannya adalah penghiburan diri. Ketika hidup seorang manusia memang hanya berfokus pada dunia, maka sesungguhnya dia hanya akan memperoleh penghiburan diri. Tak pernahkah anda mendengar orang yang berkata “wah, perasaan dia dulu cuma sebesar ini, tapi sekarang dia sudah besar sekali”. Waktu hidup di dunia benar-benar terasa sekejap mata, selalu mempermainkan manusia. Belasan, puluhan tahun tak ubahnya serasa hari kemarin yang baru saja terjadi. Siapa yang mempermainkan siapa dalam hal ini? Tidak ada. Semuanya adalah karena hidup memang mengalir begitu saja dan semua kejadian yang terjadi sifatnya hanya sementara dan diterima dengan sense manusia yang juga sementara. Sudah menjadi ketentuan bahwa tidak ada yang abadi, termasuk juga sistem penerimaan kita terhadap penderitaan, kebahagiaan, kemiskinan & kekayaan. Karena kita telah dijanjikan kalau segala yang kekal itu urusannya ada di ukhrawi. Nikmatnya hubungan suami istri hanya sekejap saja. Tapi di akhirat manusia dijanjikan hubungan suami istri yang tidak ada istilah ‘lelah ’ di dalamnya. Yang ada di dunia hanyalah penghiburan diri. Yang ada di akhirat adalah kebahagiaan yang puncak.

Sebagai contoh kalau sistem penerimaan kita terhadap sesuatu sifatnya sementara bisa digambarkan dengan orang yang sangat excited sekali ketika mengetahui kalau dirinya akan pergi ke Big Apple, New York City. Perasaanya sungguh sangat menggebu-gebu sekali dan selalu membayangkan pengalaman apa nantinya yang ia akan rasakan sesampainya disana. Tetapi begitu orang tersebut tiba di sana, di NYC, kemudian dia berkata kepada dirinya sendiri “ok, ini NYC, kota yang modern, multikultur, ramai dan rapih, seperti yang saya biasa liat di media-media. Terus apa lagi?”. Cukup, mungkin itu kata yang paling bagus untuk mewakili. Memang biasanya kita selalu memberikan pilihan jika ditanya tentang tempat yang paling impresif yang pernah kita kunjungi. Itu disebabkan karena memang keadaan tempat yang kita pilih itu lebih baik daripada keadaan tempat-tempat yang lainnya. Tapi coba tebak, hanya itu saja. Ketika kita berada di tempat yang dimaksud, sistem penerimaan kita sama saja, “terus apa lagi?”. Hal ini berlaku pula pada popularitas. Setiap orang yang memang pada dasarnya suka diperhatikan oleh orang lain tidak semuanya bisa mencapai popularitas, dengan menjadi selebriti misalnya. Orang yang biasa-biasa saja tanpa popularitas selalu berpikir kalau orang yang populer itu sungguh benar-benar beruntung, di puja dan di puji. Tapi sesungguhnya popularitas hanya sebatas pada popularitas saja, tidak lebih. Banyak orang yang mengelu-elukan selebriti, terus kenapa? Terus apa lagi? Apalagi dampak yang paling banyak didapatkan selain uang? Ketika seseorang benar-benar populer sebenarnya ia juga akan berkata kepada dirinya, “terus apa lagi?”. Lelucon.

Bagaimana menempatkan kesedihan dalam senda gurau ini di dunia? Seperti semua hal yang tidak pernah kekal, maka kesedihan juga sifatnya tidak kekal. Manusia juga seringkali tersenyum dan banyak kali tertawa. Pasti terjadi perubahan, manusia akan melunturkan ingatan-ingatan di masa lalu entah cepat atau lambat. Dan yang terjadi adalah sedih-bahagia-sedih-datar-monoton-sedih-sedih-bahagia-bahagia-monoton-monoton-bahagia-bahagia, dan seterusnya tanpa pola yang pasti. Jika kita bisa melihatnya sebagai sesuatu kesatuan yang sesungguhnya telah ditetapkan jauh sebelum manusia lahir, maka kita pasti akan mendapatinya kalau sebenarnya semua itu hanyalah kelakar, sebuah senda gurau. Beda dengan hal yang sifatnya abadi. Karena sekali sedih, maka akan sedih selamanya. Sekali bahagia, akan bahagia selamanya.

Hidup di dunia tampaknya memang hanya tempat bermain dan senda gurau. Para pemainnya adalah kita dan yang bersenda gurau juga adalah kita. Sebaiknya setiap dari kita menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk menuju ke tempat yang kekal, tidak bermain terus dan tidak berkelakar terus. Semoga tulisan ini tidak dianggap sebagai permainan & lelucon belaka . Selamat menjadi orang serius dengan memperhatikan hal-hal yang akan membawa pada keabadian. 

QS Al An'aam (6) : 32
Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka[468]. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya.

*Terimakasih buat note M.a. Maulim Ni’am yang inspiratif, dan SMS dari M. Maknun & Sri Wahyuningrum yang membuatku bertanya dan menganalisa. Ini adalah tulisan yang tertunda.

memetolicious.blogspot.com
Makassar, 21 September 2010